Entah bagaimana saya menjadi suka pada foto yang saya ambil belum lama ini. Berawal dari keisengan menunggu lampu merah yang baru saja mengawali detikannya. Lama, begitu keluhan yang bergumam. Tetapi melihat bus terparkir di pinggir jalan itu, menarik hati untuk mengabadikan sesuatu. Begitulah awalnya. 

Dua kali jepretan dari handphone yang tergolong belum lama saya beli ini. Dari dua hasil potret itu, saya cenderung memilih foto ini. Bahkan kemudian saya upload di Instagram sambil memberikan efek Black White atau BW. Tidak ketinggalan membubuhkan caption dan menandai Wakil Bupati Bantul yang juga aktif di Instagram. 

Bapak itu mempunyai dua perspektif jika melihat dari dua sisi foto ini diambil. Pertama, kernet bus itu sedang berposisi menunggu penumpang. Mungkin karena kelelahan, maka ia bersandar kendaraan yang menjadi ladang penghasilannya itu. Atau mungkin sedang bersembunyi dari teriknya matahari di balik bayangan bus. 

Kedua, bapak itu posisi bersandarnya seperti menahan laju mundur bus. Hal ini karena horizon yang saya ambil terlalu miring sehingga menciptakan efek seperti itu, begitu natural. Begitu cocok dengan kondisi transportasi bus yang digantikan oleh kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Ia sekarang hanya mengisi lalu lintas di padatnya kendaraan pribadi di jalanan. 

Dinas Perhubungan Bantul (Dishub Bantul)  sepertinya lebih suka menangani lampu penerangan jalan daripada mengurus moda transportasi massal. Tahun kemarin Dishub menganggarkan beberapa rupiah untuk revitalisasi halte bus di kawasan jalur bus. Lumayan, setidaknya ada perhatian pada fasilitas untuk menarik perhatian bus ini. Tetapi seperti bus ini masih kurang layak sehingga perlu ditangani lebih lanjut oleh Dishub Bantul. 

Sosialisasi Jalur kepada pemuda sepertinya perlu dilakukan. Selain mengenalkan jalur yang dilalui bus, pemuda juga diperhatikan keberadaannya untuk mengawasi perkembangan transportasi massal ini. Fenomena “Om Telolet Om” kemarin sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk merevitalisasi armada bus yang ada. Mengenalkan pada anak sekolahan juga perlu. 

Tidak harus seperti Busway Jakarta ataupun Trans Jogja. Asalkan bus menarik, halte dibenahi, dan jalur ditambahi maka ini menjadi suatu kemajuan transportasi di Bantul. Oh iya, terminal kecil, setidaknya sebagai konjungsi antar jalur. Akan begitu nyaman setidaknya. 

Dampak positifnya selain menguraikan kemacetan yang melanda ibu kota provinsi adalah mengurangi polusi dari kendaraan pribadi. Berapa motor dan mobil yang akan beralih menggunakan bus jika lancar dan nyaman. Pun kalau ada program wajib bus bagi anak sekolahan. Maka tingkat klitih yang begitu marak mungkin akan berkurang drastis. 

Oh iya, ini hanya sebagai kegelisahan saja. Menguraikan foto yang sedang mengusik pikiran. Tetapi sekaligus menjadi kritik positif bagi Pemerintah Kabupaten Bantul yang juga masih baru. Semoga dapat bermanfaat tulisan ini. 

Bantul, 6 Januari 2017 

Advertisements