Entah tadi sempat kepikiran tentang isu-isu yang sedang memeriahkan bangsa ini. Sampai sebegitu rancaunya bangsa ini, yang katanya mengusung Bhineka Tunggal Eka. Pernah dengar Devide et Impera? Ya, mungkin dulu founding father bangsa ini melihat kelemahan itu sehingga harus memasangkan Bhineka Tunggal Eka di bawah burung Garuda. 

Upaya untuk kembali memikirkan Bhineka Tunggal Eka itu disuarakan oleh TNI beberapa kali terakhir ini. Bahkan upaya ini tidak luput untuk menjadi ajang dirivalkan dengan aksi-aksi sebelumnya. Aksi apa saja, ya itulah. Mulai dari 411 atau 4 November, sebagai aksi pertama dengan penggerahan massa yang banyak. Hingga aksi-aksi yang tidak terhitung banyaknya kemudian. 

Suara mereka didengarkan oleh Allah, tuntutan mereka diproses dengan baik. Tokoh yang digadang-gadang menjadi penyebab kesemrawutan ini sudah berada di meja hijau, sesuai permintaan mereka. Artinya mereka menyerahkan sepenuhnya kepada hukum yang berlaku, termasuk putusannya. Ijtihad hakim dalam memutuskan perkara tentu mempunyai pertimbangan. Bahkan yang saya ketahui, belajar dari Pak Artijo, hakim sudah semestinya mengasingkan diri dari televisi, media sosial dan bahkan pengerahan massa di persidangan. Karena semuanya hanya berada di dalam kitab undang-undang untuk dikaji dan menjadi dasar hukum. 

Resah sih iya, bagaimana peradilan justru menjadi ajang menggelar aksi-aksi kembali. Duduk manis, percayakan pada perwakilan mereka di ruang sidang kan sudah cukup. Baik dari yang pro maupun kontra. Timbulnya massa yang banyak di persidangan justru mengkhawatirkan, tentu jika chaos. Tetapi Kepolisian sepertinya sudah mengantisipasinya. Pengerahan massa ini tentu karena provokasi yang terus terjadi dan tumbuh di media akhir-akhir ini, parahnya banyak yang Hoax baik dari yang pro hingga kontra. Sama-sama buruknya bukan? 

Kepikiran tentang apa sih? 

Pertama saya gunakan sebuah ungkapan yang sedang viral belum lama ini. “Mohon, mohon bersabar. Ini ujian dari Allah.” Ya, kita harus bisa bersabar baik dari pihak manapun. Terutama karena persidangan penodaan agama ini. Tidak perlu untuk revolusi dan lain sebagainya. Gunakan jalur hukum, begitu kan tuntutannya. Dan apapun hasilnya harus bersabar. Mungkin ini ujian. 

Kedua, terkait pelarangan ceramah salah satu dai kondang di pulau tempat bermulanya masalah ini. Ya sudahlah. Terlebih ini adalah ceramah oleh pendakwah, bersabar lebih baik daripada menuntut ketidakterimaan. Toh begini. Karena kasus ini, hampir semua Khutbah Jumat, Tabligh Akbar, dan acara ceramah keagamaan lainnya menjadi muatannya menjurus ke arah itu, politik praktis . Baik dari umat Islam harus bersatu karena dinistakan sampai pak Ahok orang yang baik dengan segala prestasi. Iki ceramah agama opo kuliah ilmu politik? 

Pada titik kedua ini yang menjadi pokok tulisan ini. Panjenengan semua para pendakwah adalah panutan. Sudah saatnya ketika ceramah keagamaan bahaslah tentang ilmu fiqih, tarikh dan ilmu keagamaan yang lain. Khutbah Jumat, Tabligh Akbar, Pengajian Umum dan lain sebagainya kembali menyuarakan ilmu pengetahuan Islam, silakan hubungkan dengan ilmu sains hingga ilmu sosial. Ini yang lebih bermanfaat bagi umat. Terlebih umat sering kali melakukan taqlid kepada pendakwahnya. 

Umat mempunyai peluang untuk menjadi radikal, baik radikal kiri hingga kanan. Ini bisa bahaya jika ceramah isinya tentang politik praktis. Terlebih dibumbui dengan hoax, seperti micin, kian enak. Bisa tidak terkendali bukan. Banyak pendakwah yang dapat ngemong umat, mendewasai pemikirannya, bukan memprovokasinya. Ini kegelisahan, baik habaib hingga masyayikh tolonglah umat ini dari neraka perpecahan. Momonglah mereka seperti Nabi Muhammad SAW yang selalu memikirkan umatnya dengan memanusiakan manusia. 

Pinggir Kutho, 10 Januari 2017

Advertisements