​Malam memang begitu dingin, selepas hujan yang mengguyur tanah. Pun dengan jalanan yang berkubang, lubang dan kecungan menjadi kolam kecil menampung air bercampur lumpur. Meski demikian, langit mendung itu tetap bertengger dengan kokoh, tidak menjatuhkan barang bawaannya.

Majelis Rasulullah SAW begitu namanya. Mengingatkan saya pada awal perkenalan dengan majelis-majelis yang menawarkan taman surga. Itulah yang menjadi magnet kuat malam itu saya susuri jalanan malam. Meski ini adalah majelis kesekian dari masa awal Majelis Rasulullah SAW D. I. Yogyakarta. Saya begitu telat untuk ikut serta dalam perintisan ini, sebagai jamaah setia.

Tahun 2008, bergabung dengan squad penerbang Al Khidmah menjadikan saya membuka mata. Keahlian itu menyebabkan saya pernah duduk di panggung besar, kala itu. Majlis Sholawat dan Doa yang bertajuk “dari Bumi Mataram untuk Indonesia Damai” di Alun-Alun Lor bersama Habib Syekh bin Abdurrahman Assegaf, saya termasuk dalam 1000 penerbang bersama Grup Hadroh Qolbun Salim. Begitu pula pada Hadeging Nagari saat peluncuran Sholawat Jawa, sekaligus awal debut panggungnya Gus Wakhid ‘Mbolo’. Parahnya, saya juga pernah satu panggung di Condet, Jakarta tatkala Haul Al Habib Hud Allatas.

Saya lupa pada moment apa awal perkenalan dengan Majelis Rasulullah SAW. Tentu saja perkenalan itu terjadi sebelum tahun 2010. Karena saya mencatat pada akhir tahun 2010, saya bersama Romo Dwijakarengga berangkat ke Jakarta. Habib Umar bin Salim bin Hafidh pada saat itu rawuh di Monumen Nasional, menemani sang murid kinasihnya, Shulthonil Qulub Al Habib Munzir Al Musawa. Saya sebut ini merupakan momen berharga dan berkesan. Kalau tidak salah ini pada saat liburan sekolah.

Maulid Adh Dhiyaullami’, sebuah maulid yang dimusrifi oleh Habib Umar bin Salim bin Hafidh. Beberapa alumni madrasah beliau di Tarim, Yaman setelah kembali ke Indonesia mengenalkan Maulid ini. Maulid yang tergolong baru, di antara kitab-kitab Maulid yang terlebih dahulu memasyarakat, seperti Maulid Syaroful Anam, Maulid Al Barzanji, Maulid Dziba’i, dan Maulid Habsyi.

Salah satu yang menjadikan saya tidak asing dengan Maulid ini adalah sebuah rekaman Mahallul Qiyam pada Haul Akbar yang diselenggarakan oleh Al Khidmah. Pada Haul tersebut hadir dalam majelis yaitu Al Habib Umar bin Salim bin Hafidh. Bahkan ada foto yang tersebar mengambil frame Habib Thohir Al Kaff, Habib Umar bin Salim bin Hafidh dan Hadhrotusy Syaikh KH Ahmad Asrori Al Ishaqi. Rekaman ini menjadi andalan untuk memvariasi pukulan khas Al Khidmah pada masa itu. Sedikit berbeda dengan pukulan Mahallul Qiyam sekarang.

Majelis Rasulullah SAW D. I. Yogyakarta menjadikan saya ingat majelis dengan nama serupa dengan pembacaan maulid yang sama pula. Tetapi hal ini menjadi lain karena salah seorang yang berperan bukanlah dari kalangan dzuriyyah. Beliau ini adalah almarhum KH Hasyim Syafii Jejeran. Beliau bersama Habib Abu Bakar bin Syekh Abu Bakar memiliki rutinan Maulid Adh Dhiyaul Lami’, kalau tidak salah setiap Malam Ahad Lagi di Pondok Pesantren Miftahul Ulum II. Kenapa saya sampai ikut rutinan? Karena diajak oleh salah seorang vokal sekaligus pembaca Manaqib di Al Khidmah Bantul, Bibid Fadly Hamid, senior di Pondok Pesantren Hidayatul Falaah. Tim Hadroh yang mengiringi majelis pembacaan Maulid Adh Dhiyaul Lami’ itu merupakan tim hadroh dari tempat asal Kang Bibid, Dlingo yaitu Sabilal Muhtadin.

Sudah begitu lama vacum acara Maulid Adh Dhiyaul Lami’. Saya mendengar kabar terakhir majelis yaitu beberapa bulan sebelum wafatnya KH Hasyim Syafii. Beberapa lama kemudian, muncul Majelis An Nur yang merupakan rintisan dari Habib Sayyidi Baraqbah, Habib Umar Quthban dan KH Muslim Nawawi. Bahkan setiap bulan Maulid, majlis ini mengadakan rutinan Safari Maulid keliling daerah Bantul. Membacakan Maulid yang belum memasyarakat yaitu Maulid Syarobut Thohuur. Beliau Habib Sayyidi Baraqbah tentunya yang membawakan, karena beliau lulusan dari Tanah Wali, Tarim.

Semalam, saya merasakan kembali sebuah kegelisahan yang bertahun-tahun saya cari. Setidaknya saya berhasil mengobati rindu. Maulid Dhiyaullami’, begitu gimana saya. Setidaknya saya mempunyai kisah spesial itu. Kisah yang kalau dirunut maka akan sambung menyambung. Tidak kalah spesialnya kisah seseorang yang juga hadir dalam majelis semalam, Ustadz Tajul Muluk. Jika harus memasang aspek primodial, maka saya memasang diri pada titik yang hampir sama dengan beliau. Menapaki dengan Majlis Dzikir dan Maulidurrasul SAW ala Al Khidmah. Hanya saja, saya sebagai jamaah biasa sedangkan beliau adalah murid dari Mbah Yai Asrori Al Ishaqi. Kisah Ustadz Tajul Muluk sepertinya lebih spesial lagi, lain kali mungkin saya boleh mendengar dan menuliskannya.

Sedikit coretan saya atas peristiwa semalam. Begitu berkesan, meskipun saya telat menyadari dan bergabung dalam lingkaran itu. Saya merasakan betapa Habib Umar bin Salim bin Hafidh dan Habib Munzir Al Musawa mempunyai kharisma yang begitu luar biasa. Kalau boleh husnudhon, ini mungkin adalah salah satu bukti kewalian beliau berdua, terutama Habib Munzir Al Musawa yang Majelis Rasulullah SAW – nya berkembang di berbagai daerah setelah beliau wafat. Bukannya berkurang, tetapi justru semakin banyak. 

Doa kecil dari saya sekaligus harapan. Semoga saya hingga akhir hayat nanti tetap dikumpulkan dengan mereka yang mencintai Rasulullah SAW. Masyayikh yang mewarisi keilmuan Rasulullah SAW dan Habaib yang mewarisi darah Rasulullah SAW. Begitu pula dengan anak cucu kelak. Semoga tetap dalam lingkaran yang Engkau kasihi dan sayangi. Aamiin Allahumma Aamiin. 

Bantul, Penghujung Hari

16 Bakdal Mulud 1950 
*Maulid Adh Dhiyaul Lami’ karangan  Al Habib Umar bin Salim bin Hafidh 

Advertisements