Sebuah perjalanan yang begitu melelahkan sebetulnya. Kendaraan roda dua itu harus melaju pada jalan yang beraspal dan bercor. Terkadang harus menghindari lubang menganga agar tidak terseok. Begitu jarak yang jauh, terkadang begitulah geografis memisahkan daerah satu dengan lainnya. Tetapi, geografis tidak akan pernah memisahkan emosional ikatan kekeluargaan. 

Keluarga, sebagai pendidikan pertama dan faktor pertama membentuk pribadi manusia. Zoon politicon, begitu bahasa latin mengistilahkan. Manusia tidak akan bisa bergantung pada dirinya sendiri, ia membutuhkan mitra agar hidup, baik itu pasangan dan/atau sebagainya. Termasuk keluarga. Begitu penting keluarga bagi manusia. Bahkan saya beranggapan bagaimana saya tanpa keluarga.

Kekeluargaan merupakan persifatan yang merujuk pada istilah dasarnya keluarga. Seperti misalnya, sebuah permasalahan diselesaikan dengan kekeluargaan. Atau barangkali pernah mendengar istilah, organisasi ini menggunakan sistem kekeluargaan. Begitu baiknya sebuah keluarga, tentu terlebih jika arti keluarga dan kekeluargaan itu merujuk pada diri pribadi sendiri. Misal, ikatan keluarga atau sanak saudara.

Perjalanan yang begitu jauh kemarin, saya mendapatkan sebuah arti kekeluargaan tersebut. Pasca Haul Akbar Ngroto, maka sejenak saya sempatkan untuk mengunjungi adik ibu saya di Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Bulik satu ini merupakan ragil dari sembilan bersaudara. Bertempat tinggal jauh dari keluarga besarnya yang dominasi di Yogyakarta. Meski ada juga Paklik yang berada di Bojonegoro.

Bertemu dengan adik-adik sepupu saya yang usianya terpaut jauh. Mereka masih sekolah dasar dan paud. Saya merasakan bagaimana gembiranya adik-adik ini mendapat kunjungan tidak disangka dari kakak sepupunya. Sambutan begitu hangat dan ramai. Bagaimana pun anak kecil selalu mempunyai keramaian dalam menyikapi sesuatu. Semalam bersama mereka, memperhatikan mereka belajar dan bermain.

Keluarga ibarat oase di tengah padang pasir. Ia memberikan kesejukan dan kerilekan dalam gairah hidup. Oleh karena itu jika suatu permasalahan bermuara pada keluarga maka banyak cerita yang buruk dilalui seorang manusia. Karena nilai positif keluarga itulah kemudian digunakan istilah kekeluargaan untuk merujuk pada aspek positifnya keluarga dalam pemecahan masalah, begitu sejuk, rileks dan arif.

Begitu pula ketika pasca Musyawarah Nasional III KMNU di Semarang. Saya menyempatkan untuk bermalam di Jepara, tempat kakak sepupu saya tinggal. Putri dari Bude itu begitu takjub bahkan terkejut. Tidak menyangka dengan kendaraan roda dua dan seorang diri, saya dapat duduk di ruang tamu sambil menikmati teh panas. Mengira saya datang bersama teman-teman saya. Sebuah kejutan bagi saudara.

Begitu jauh jarak memisahkan keluarga terkadang membuat rasa rindu berkumpul ataupun bercengkrama. Waktu sudah tidak dapat digunakan sebagai bermain ketika sudah benar berkeluarga. Ada banyak prioritas yang harus ditanggung dan dilaksanakan. Apalagi jarak geografis yang begitu jauh. Kapan akan punya waktu untuk menyapa atau berkunjung dengan begitu berkualitas? Sebuah jawaban yang perlu untuk ditelaah kembali. Itulah menjadi latar belakang terjadinya praktik Mudik pada saat lebaran.

Sebenarnya dalam perjalanan menuju Jepara, saya mengalami rintangan yang menguji mental. Sejak keluar dari Kaligawe, disambut oleh rob yang meninggi bahkan ini menyebabkan tas yang telah terbungkus mantel itu basah. Belum rob surut, dari Terminal Terboyo hingga Demak hujan deras bahkan dengan butiran yang besar terjun bebas. Kacamata yang mengembun pun menghalangi pandangan, begitu terbatas. Pun dengan air yang menelisik hingga dalam, membasahi beberapa pakaian.

Dalam perjalanan tersebut sempat terbesit untuk berhenti dan tidak meneruskan perjalanan. Tetapi niat keras itu mengalahkan semuanya. “Yang penting sampai dulu,” begitu keteguhan membisik sanubari. Menerjang badai di kota yang begitu asing. Hal ini diperparah dengan kondisi yang hanya sendiri. Kalau orang Surabaya bilang, ini merupakan arek bonek, bondo nekat. Senekat itulah badai pun dilalui hingga sampai di Jepara.

Kondisi yang kedinginan itu siswa ketika teh panas tersaji bersama kerupuk warna-warni. Sambil membenahi kondisi fisik diri maupun kondisi tas yang direndam oleh rob tatkala berada di Kaligawe dan Terboyo. Pun kemudian disambut hangat oleh kakak sepupu yang tinggal di Jepara, meski harus menunggu beberapa saat. Terkejut, begitu ungkapan yang dapat menggambarkan suasana kala itu. Tidak disangka-sangka kehadirannya.

Menjalin silaturrahim begitu ungkap saya dalam hati. Kekeluargaan yang dibangun oleh orang tua saya membuat saya terdidik untuk mengapresiasi hubungan tersebut. Setidaknya untuk keluarga besar ini, Bani Badawi. Darah yang masih dekat itu harus didekatkan lagi meski berjauhan. Meski sebenarnya ada keluarga yang lebih besar lagi, tetapi itu harus dilakukan secara telaten karena bolah bundet.

Saya senang sekali dapat merunut kembali kekeluargaan ini. Meski terlihat begitu kolot untuk generasi muda, tetapi inilah ruh kenapa begitu damai dan tenteramnya sebuah desa, bangsa dan negara. Karena nilai kekeluargaan itu dijalin begitu baik, meninggalkan segala egosentris. Kemaslahatanlah yang lebih diutamakan untuk menjalin hubungan kekeluargaan dan silaturrahim yang begitu baik. Sehingga pada suatu hari nanti semua perjalanan ini akan menuai buahnya.

Di Pinggir Kota Bantul
3 Jumadil Awal 1950

Advertisements