​​(#BukuUntuk2017)

Selesai baca buku ke-2
Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono
Gramedia , Jakarta (2016)
133 halaman

Buku kali ini merupakan sebuah sastra yang berbentuk novel. Sebelum terbeli, buku ini berada di rak sastra yang berdekatan dengan novel. Sebenarnya ini menimbulkan dugaan yang tidak-tidak. Jangan-jangan penata letak buku bingung mengategorikan buku karya Sapardi ini. Saya cenderung memilih genre sastra daripada novel untuk buku ini. Meskipun di cover depan memuat tulisan besar Novel. Tetapi ini sastra! 

Mendebatkan genre buku ini tidak kalah menarik mengikuti alur ceritanya. Ini merupakan cerita sastra, atau kalau boleh kembali memperdebatkan maka novel sastra. Mirip seperti beberapa karya Pram, unsur sastra dalam setiap kata ceritanya selalu kental. Meski tidak sampai seratus lima puluh halaman, tetapi penjelajahan cerita cukup menyita waktu panjang tapi singkat atau singkat tapi panjang. Begitu berisi.

Mengomentari judul dan isi. Segmen ini merupakan pertanyaan besar ketika membacanya. Sepertinya ini harus memasuki wilayah filosofi cerita, pertanyaannya begitu dalam. Sinkronisasi judul dengan cerita begitu sangat jauh. Interpretasi judul bahkan secara tekstual akan sulit ditemukan. Mungkin harus menggunakan pendekatan kontekstual. Ya, hal itu termuat di bagian depan atau bahkan di bagian akhir cerita ini.

Bagian depan cerita terdapat kata hujan, mungkin inilah salah satu kata kunci judul tersebut. Tetapi secara  eksplisit tidak disebutkan pada bulan Juni. Hanya kata hujan secara teks dapat mengilhami judul, tetapi itu tidak dapat mewakili judul secara keseluruhan. Secara kontekstual, judul ini saya rasa justru merujuk pada akhir cerita. Sad Ending, begitulah yang mendasari judul dari buku sastra ini. Bagaimanapun juga sastra begitu menentukan formasi susunan judul yang menarik. Dan untuk menggambarkan keadaan akhir cerita itu, judul yang tepat. Menurut saya.

Ceritanya kok menurut saya menggunakan alur campuran. Awal mengisahkan kejadian sekarang, kemudian menceritakan pada masa lalu dan diteruskan pada bagian awal cerita sebagai endingnya. Pada intinya, cerita ini juga merupakan penjelmaan kisah romantis yang disastrakan. Kenapa romantis? Hal ini berkaitan dengan permasalahan yang menjadi acuan cerita ini mengalir. Sarwono dan Pingkan mengalami fase kisah cinta yang begitu naik turun. Perjuangan kisah cinta mereka diantara kesukuan, asal usul, akademik, dan budaya. Begitu menarik untuk diikuti setiap babnya.

Mungkin saya berpendapat ini merupakan novel drama. Seperti kisah-kisah di layar kaca yang begitu melankolis tentang percintaan. Terlebih kemudian juga membahas judul, tambah melankolis. Diakui atau tidak, bagian dari akhir novel ini seperti film layar lebar. Tidak ada ke-lebay-an dalam mengakhiri cerita cinta Sarwono dan Pingkan. Drama, ya itu sudah cukup menggambarkan hampir keseluruhan cerita ini. Lebih baiknya memang beli saja di toko buku. Membacanya lebih mengasyikkan! Lebih asyik lagi kalau benar turun hujan, didampingi segelas susu hangat dan mie goreng yang baru saja diantar pramusaji.

Lama Baca : 16-27 Februari 2017

Advertisements