Penghujung perjalanan jauh di Jawa Tengah menggunakan sepeda motor, saya sempatkan untuk melakukan ziaroh Wali Songo. Saya meniatkan seperti itu. Meski tidak komplit sembilan wali dapat saya ziarohi, tetapi tabbarukan kepada Wali Songo melalui beberapa anggota Dewan Wali Songo yang dimakamkan di sekitar pusat Kedaton Demak Bintoro. 

Setelah menembus hujan lebat disertai guntur yang menggelegar sepanjang Kaligawe sampai Demak, akhirnya saya sampai di Jepara. Kakak sepupu saya itu menyambut hangat kedatangan yang mengejutkan. Ini merupakan agenda silaturahmi sekaligus menumpang beristirahat. Lelah di perjalanan yang begitu menantang, begitu pula lelah karena kegiatan KMNU di Semarang selama tiga hari. Mumpung berada di kawasan pantai utara Jawa, maka saya sempatkan untuk ziaroh dan oleh sebab itu saya perlu untuk beristirahat untuk menyusun agenda dan kondisi fit untuk perjalanan pulang. 

Sebenarnya, kenapa saya melakukan hal ini (ziaroh)  adalah didasari sebuah rasa kecanduan dua tahun silam. Di tengah bulan Ramadhan itu, saya melakukan touring ziaroh ini bersama beberapa teman. Begitu berkesannya ziaroh dengan motoran dari Bantul itulah yang membuat keinginan mengulanginya kembali. Kenapa berkesan? Karena touring tersebut dilakukan pada bulan Puasa dan perjalanan yang dilakukan menyesuaikan dengan jadwal perut yang harus diperhatikan. Berhubung, Ngroto ada Haul dan Semarang ada Musyawarah Nasional KMNU maka saya niatkan kembali untuk tapak tilas. 

Sialnya kali ini napak tilas dengan bara api di pundak. Dahulu waktu perjalanan di bulan Ramadhan itu, saya hanya nderek saja seseorang yang berinisial MZA, salah seorang Presidium Nasional KMNU. Tetapi sekarang, keinginan napak tilas itu bergantian statusnya, saya tidak lagi nderek seseorang. Seorang diri pun jika dikatakan napak tilas wajar saja, tetapi kemarin saya dijatuhi bodam yang berat dengan menjadi salah seorang Presidium Nasional itu. Ini seperti program tukar nasib. 

Perjalanan saya awali dengan berziarah di Sunan Kudus kemudian berlanjut ke Sunan Muria. Dari Colo, langsung terjun saja ke Kadilangu. Tiba di parkiran, indera penglihatan saya tersandung sebuah bungkusan yang bertuliskan Munas 3 KMNU. Loh ini siapa? Begitu tanya saya dalam hati. Saya tanyakan ke petugas penjaga parkir, katanya sudah berselang lama. Ternyata tidak hanya satu motor, tetapi banyak motor yang katanya dalam satu rombongannya. Saya hanya kemudian menduga dengan mencocokkan data di chat WhatsApp Grup. Ini anak UIN, gumam saya. 

Di lorong kios-kios komplek Makam Kadilangu itu benar saja saya berpapasan dengan anak KMNU UIN Sunan Kalijaga. Entah kenapa bisa klop antara nama kampus dengan tokoh yang dikunjunginya. Mereka sepertinya sudah hampir meninggalkan lokasi, saya pun menyegerakan sowan ke Kanjeng Sunan Kalijaga. Sengaja saya tahan mereka untuk menemani pulang, barangkali memungkinkan. Akhirnya setelah ziaroh itu, kami memutuskan untuk sholat Dzuhur terlebih dahulu di masjid samping makam. Terlebih karena adzan baru saja berkumandang, maka lebih baik berjamaah. 

Sholat jamaah Dzuhur kali ini ada yang aneh karena setelah sholat selesai kemudian ada seseorang yang berdiri dan mengumandangkan iqomah. Beberapa orang langsung berdiri dan menyesuaikan shofnya. Mereka tepat di shof depan, persis di belakang imam yang sedang berdzikir itu. Begitu aneh, karena jikapun mereka menjama’ sholat Asar maka biasanya memilih berada di belakang. Ini ada yang tidak beres, pikir saya kemudian. Saya sebenarnya juga langsung melakukan jama’ Asar setelah selesai, meski tidak berjamaah dengan mereka yang berada di depan tersebut. 

Saya masih tidak paham dengan jamaah di belakang imam itu. Mereka begitu lama, menurut saya. Saya pun keluar menuju serambi masjid yang begitu luas. Sedikit Foto-foto bagian masjid maupun melakukan selfi diri sendiri. Setidaknya membuat kenangan perjalanan kali ini di Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu. Beberapa jenak kemudian, salah satu jamaah itu keluar masjid inti. Ini menandakan mereka telah selesai sholat jama’. Saya pun segera mempersiapkan diri, berdiri sambil menanti. Tetapi menanti siapa? 

Tidak berselang lama, keluarlah sesosok pria tua berjubah. Dirinya begitu tinggi, menandakan ia merupakan bukan orang Indonesia. Terlebih juga raut muka yang begitu khas. Jambang berwarna putih itu mengindahkan pandangan diantara pakaiannya yang coklat. Saya masih berdiri diantara riang-tiang bangunan serambi. Seorang tua itu berjalan ke arah keluar, menuju ke tempat saya berdiri. Salah satu pintu keluar memang berada di belakang saya. Begitu dekat dengan sosok yang misterius itu maka saya raih tangan keriput halusnya. Saya cium tangan itu seperti tatkala bertemu Kiai ataupun Habaib. Feeling saja yang mendasarinya, begitu kuat kharisma sosok misterius tersebut. Eloknya, beliau begitu tanggap dan memberikan tangannya itu untuk saya cium begitu takdhim. 

Ekspresi sosok itu begitu teduh. Menandakan ilmu yang ia pahami begitu luas dan dalam. Bukan sembarang orang. Jika zaman dahulu maka beliau termasuk orang yang mempunyai kelebihan khusus. Rombongan tersebut akhirnya bergerak menuju arah maqbaroh. Melakukan ziarah kepada Raden Sahid, Sunan Kalijaga. Rombongan yang juga cukup banyak, meski tidak banyak sekali. Hitungannya cukup, tidak lebih dan tidak kurang. Mereka menggunakan mobil yang mewah. Berarti benar saja, rombongan misterius yang tidak sama dengan lainnya. Setidaknya saya mengabadikan mobil rombongan misterius itu yang terparkir di depan Masjid Sunan Kalijaga. 

Saya masih bertanda tanya hingga sosok itu menghilang di kerumunan para peziarah dan penjaga kios. Siapakah beliau? Pertanyaan itu begitu mengganggu. Dengan rasa penasaran itu, saya tanya ke teman-teman dari UIN Sunan Kalijaga yang juga ada di lokasi. Barangkali mereka tahu siapakah sosok itu. Tetapi sama saja. Mereka juga tidak tahu siapakah pria tua berjubah coklat tersebut. Begitu misterius. Ini menjadi hantu yang terus meneror pikiran. 

Berbekal foto yang saya dapatkan ketika pria tua itu meninggalkan Masjid Sunan Kalijaga, Facebook menjadi tempat pelarian saya. Saya upload foto tersebut dan mempertanyakan kepada pertemanan. Siapakah beliau? Begitu poin penting yang saya sampaikan di beranda. Muncul beberapa orang yang berkomentar. Tapi isinya hanya apresiasi saja. Hingga kemudian ada yang upload jadwal serangkaian safari seorang Mursyid Yusriyyah. Oh, beliau adalah Maulana Syekh Assyarif DR. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani (Mursyid Thoriqoh Yusriyyah Shiddiqiyyah Syadziliyyah). 

Setelah itu yang timbul adalah rasa syukur yang tiada kira. Tidak dinyana-nyana dapat mencium tangan yang begitu halus dari Sang Mursyid. Benar-benar, kalau rezeki itu memang tidak akan kemana. Tidak disangka, begitu gumam saya berulang kali. Alhamdulillah begitu terus, kesempatan yang begitu langka. Atau bahkan sangat langka. 

Selepas dari Kadilangu, kami menuju Masjid Agung Demak. Sowan ke Sultan Fattah wa ahli baytihi ajmain. Teman-teman KMNU UIN Sunan Kalijaga begitu lama dinanti. Hingga kemudian datang satu persatu. Kebiasaan, foto-foto kami lakukan dan tidak lupa pada kesempatan itu, makan-makan. Hingga semua itu seperti cepat berlalu dan saya terpaksa mendahului mereka kembali ke Yogyakarta. (Maret 2017). 

Advertisements