Kembali ku atur gas motor bermerek Honda itu. Menyusuri jalanan yang mendaki sepanjang pesisir selatan Jawa. Perjalanan yang juga panjang, sepanjang liku setiap tanjakan. Alasan utama untuk kembali menancapkan gas adalah liburan. Liburan masih berada di masa tenggang. 

Kali ini perjalanan ku arahkan menuju sebuah negeri. Ponorogo, begitu nama itu dikenal. Yah, dulu sekali, nama daerah itu lebih dikenal sebagai Wengker. Sebuah kedatuan di bawah pemerintahan Majapahit. Lama sekali, berabad yang lalu. Semenjak dakwah dari Raden Bathara Kathong, maka Ponorogo jadilah seperti ini.

Tujuan utama adalah menghadiri Haul Akbar Ponorogo 2017. Efek sampingannya yaitu silaturrahim ke teman-teman di KMNU IAIN Ponorogo. Terlebih tempat tampunganku berada di Pondok Pesantren KH Syamsuddin Durisawo, tempat beberapa anggota KMNU IAIN Ponorogo mondok.

Seperti haul yang lain, Al Khidmah selalu menyelenggarakan sesuatu yang hampir tidak ada perubahan. Begitulah keistimewaan dari Istiqomahnya majelis ini. Bukan berniat membandingkan, tetapi hal itu menjadi salah satu daya pikat, istiqomah. Dekorasi, adab majelis, sound, makanan, dan lain sebagainya, terlihat begitu istiqomah. Kesan yang selalu menjadi hantu, sekedar mengejar rindu hadir di tengah-tengah majelis itu.

Hal yang ku temui unik dalam haul kali ini adalah sambutan yang dibawakan oleh perwakilan Pengurus Wilayah Al Khidmah Jawa Timur. Unik kenapa? Karena dalam tengah sambutannya, beliau mendapatkan telepon dari Wakil Gubernur Jawa Timur, Gus Ipul. Seketika saja kemudian, suara telepon itu diloadspeakerkan melalui mic. Gus Ipul memberikan sambutan istimewanya melalui telepon. Unik dan aneh, sempat-sempatnya beliau melakukan hal tersebut. Mungkin ini satu-satunya majelis yang saya datangi dengan sambutan dari pemerintah yang begitu ‘uaneh’.

Saya sering berkelakar dalam keheningan. Hadhrotusy Syaikh KH Achmad Asrori Al Ishaqi ra merupakan wali yang benar-benar istimewa pada era modern ini. Dalam kelakaran itu, saya kembali harus mengulang rasa syukur ditemukan dan dibesarkan dalam majelis ini. Saya bahkan membandingkan diri saya dengan Umar Faruq, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Saya tidak semilitan dirinya dalam menghadiri majelis haul di daerah-daerah. Tetapi perjalanan ke Haul Akbar Ponorogo ini memberikan gambaran bagaimana Umar Faruq melakukan berbagai tour de majelis di setiap daerah di Jawa dengan sepeda motor.

Untung saja, di Ponorogo ada anak-anak KMNU IAIN Ponorogo yang menampung saya sementara waktu. Kalau tidak ada, mungkin saya benar-benar menjadi kembarannya Jamaah Tabligh yang mencari masjid untuk numpang tidur. Intinya itu di silaturrahim sebenarnya. Ketika niat silaturrahim itu benar-benar yakin, maka Allah SWT akan menjalankan semuanya. Karena silaturrahim merupakan salah satu bentuk hubungan horizontal yang dilakukan oleh manusia agar tetap menjadi manusia. Implikasinya bahkan mungkin bisa seperti yang disampaikan oleh Gus Mus dalam setiap kali ceramahnya, yaitu “Jadilah manusia yang memanusiakan manusia”.

Kapan diluangkan kembali, semoga saya dipertemukan dalam majelis Al Khidmah. Ngalap barokahnya Hadhrotusy Syaikh KH Achmad Asrori Al Ishaqi ra. Aamiin Allahumma Aamiin.

Advertisements