Ini merupakan tulisan terbaru setelah beberapa lama tidak menorehkan rentetan kalimat berparagraf-paragraf. Santai saja, sebetulnya sudah ada beberapa angan untuk menulis beberapa kejadian yang telah berlalu. Setidaknya saya bisa menulis diary simpel ala saya. Kata dosen saya, ini agar menjadi abadi, tidak kemudian hilang oleh waktu.

Kali ini, saya harus bercerita tentang kegiatan Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), Ph.D. Begitulah nama panjang dan gelar yang tersematkan di barisan nama beliau. Tetapi beliau memiliki nama panggilan yang cukup akrab, Gus Nadir. Beliau merupakan putera dari Prof. KH. Ibrahim Hossen, LML. sehingga sangat pantas sematan sapaan Gus itu melekat dalam nama beliau.

Beliau sekarang merupakan dosen tetap di Australia, Fakultas Hukum Universitas Monash. Kiprah beliau saya amati dari twitter, saya termasuk followers yang suka dengan twit khas beliau, mungkin karena NU Garis Mesra itu. NU Garis Mesra, begitu ungkap beliau dalam Bedah Buku Layla di Yayasan Ali Maksum.

Saya harus memulainya dengan akhir dari kegiatan KMNU hari itu. Sampai di rumah tepat pada waktu Ashar berkumandang. Lelah, itulah yang saya rasakan sore itu, setelah keluar rumah sejak Jumat pagi dan sampai di rumah kembali pada Ahad sorenya. Tetapi apalah daya, saya begitu tertarik dengan bedah buku Layla malam hari itu di Pondok Ali Maksum Krapyak.

Maghrib menjelang, saya tetap niatkan untuk hadir dalam kesempatan tersebut. Setelah sholat, maka melengganglah saya menuju komplek Pondok Krapyak. Sejenak saya sempatkan untuk mampir di kosan salah satu senior saya di pojokan kandang menjangan. Menguatkan silaturrahim, begitu maksudku. Hingga pantaslah waktu untuk merapat ke lokasi.

Tempat yang biasanya digunakan untuk Rutinan Jam’iyah Bil Musthofa asuhan alm. Gus Rifqi Ali itu berjejer rapi kursi. Ternyata, di tempat itulah bedah buku karya Gus Candra Malik dilaksanakan. Saya pun merapatkan barisan di depan, setidaknya saya harus melakukan siaran langsung dengan akun Santrijagad. Hal itu karena saya diplekoto oleh senior saya.

Acara berjalan dengan lancar, begitu menurutku. Kali ini novel berjudul Layla itu dibedah oleh pengarangnya sendiri, editornya, dibacakan oleh kawan dari Gus Can, dan ditestimonikan oleh Prof. Drs. Purwo Santoso, MA. Ph.D., Gus Nadir, dan tuan rumah KH. Muhammad Nilzam Yahya M.Ag. Para pembedah itu saling mengisi dalam memberikan penilaiannya terhadap novel yang dikarang selama 4 hari tersebut.

Acara selesai, kebiasaan acara pondok maka semua tamu terhormat itu melakukan ramah tamah. Tidak terkecuali Gus Nadir dan Gus Can, beliau berdua pasti harus atau bahkan wajib ramah tamah. Dalam acara tersebut biasanya perbincangan santai terjalin dan begitu akrab dengan candaan-candaan khas para gus.

Saya bersama kawan yang merupakan santri Gus Hilmy memburu foto bersama tokoh-tokoh spetakuler dalam dunia persufian itu. Teruntuk Gus Candra Malik, selain berfoto, kami juga meminta tanda tangannya di novel Layla kami. Tanda tangan dari sang penulis itu tertorehkan dalam kertas.

Selanjutnya, kami memburu Prof. Nadirsyah untuk berfoto. Begitu banyak animo dari para santri untuk berfoto sehingga menyebabkan kami harus antri untuk mendapatkan giliran berfoto. Untuk Gus Nadir, beliau paling banyak diminta foto oleh santri putri Krapyak. Akhirnya, kami mendapatkan kesempatan itu.

Acara Krapyak usai. Saya pun pulang ke rumah yang berada nun jauh dari Krapyak. Sebenarnya sudah lelah tubuh karena sejak Jumat terus saja berkegiatan. Itu hingga larut di malam Senin. Laju sepeda motor itu membelah jalanan yang sepi karena jam sudah menunjukkan beberapa jenak menuju pergantian hari. Sesampainya di rumah, saya langsung terlelap dalam mimpi yang entah itu apa.

Tidur kedua setelah sholat Subuh itu menampakkan jarum pendek di angka tujuh ketika bangun. Begitu malas, karena masih ada rasa lelah yang memenjarakan semangat pagi itu. Baru beranjak sarapan dan mandi tiga puluh menit setelahnya. Saya ingat, hari ini Gus Nadir memiliki agenda di UIN, maka saya menjadwalkan untuk hadir.

Setelah bersiap-siap maka saya segera melajukan “Laskar Langit” itu memenuhi jalanan. Kali ini, untuk menuju UIN Sunan Kalijaga saya memilih untuk melintasi Ring Road ke arah timur. Saya tandai ketika berpamitan dengan penghuni rumah, jam menunjukkan angka sembilan. Artinya ini dapat dikatakan telat jika dalam jadawal tertulis jam 8 pagi. “Yang penting berangkat,” ujarku dalam hati.

Hari ini (8/05), Prof. Nadirsyah Hosen memiliki jadwal yang padat. Hal ini karena kunjungan beliau dimanfaatkan oleh para tokoh NU. Agenda awalnya adalah Seminar Khilafah adalah Kekhilafan, justru kemudian memberikan jadwal yang padat pada beliau. Mulai bedah buku, sarasehan hingga kuliah.

Acara di UIN Sunan Kalijaga, Gus Nadir menjadi pembicara tunggal yang memaparkan materi tentang Khilafah adalah sebuah kekhilafan. Tema yang begitu menyita perhatian beberapa hari ini. Penolakan ideologinya begitu masif, terutama dari kalangan Banser. Tetapi, kali ini secara ilmiyah perlawanannya melalui sebuah seminar.

Penanya dalam seminar itu cukup beragam. Bahkan salah satunya penannya adalah ibu-ibu yang memakai kebaya. Ibu tersebut sedikit curhat tentang keberadaban dan kebudayaan generasi muda yang mulai luntur. Baju wanita jawa itu sudah sepi peminat, jika untuk digunakan dalam keseharian. Hanya ketika Hari Kartini saja kemudian banyak yang mencari. Salah satu yang juga beliau curhatkan adalah masuk tidaknya seorang muslimah dengan indikator pakaian, bukankah Bu Nyai ketika dahulu juga menggunakan kebaya dengan kerudung yang menutupi rambut.

Tepat di pukul 12:00, acara itu usai. Acara selanjutnya Gus Nadir berada di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Tetapi saya memilih untuk bersinggah dahulu ke Sekretariat KMNU UNY di Samirono. Ada barang yang harus diambil dan setidaknya merehatkan tubuh. Jam satu lewat, aku lajukan kembali motor menuju arah UNU.

Acara di UNU ini yaitu Sarasehan Aswaja. UNU Yogyakarta mencoba memberikan pola pendidikan yang sinergi antara perkuliahan dan ekstra. Aswaja Center digagas oleh UNU, sebagai salah satu rangkaian perancangannya, sarasehan ini mengharapkan audien dapat memikirkan kepentingan dibalik adanya Aswaja Center. Manfaat yang begitu besar bagi Nahdlatul Ulama juga dapat diperoleh dari Aswaja Center.

Acara yang dihadiri oleh sebagian pengurus Nahdlatul Ulama, baik dari wilayah maupun cabang, dan juga jajaran Dosen UNU itu selesai pada setengah lima sore. Dari perwakilan struktural NU itu tampak begitu aktif mengikut jalannya sarasehan di UNU Yogyakarta. Ada pengurus dari Gunung Kidul yang juga menyampaikan permasalahan Aswaja di wilayahnya.

Gur Nadir, setelah acara di UNU selesai langsung membelah kota Yogyakarta untuk menuju Pondok Pesantren Mahasiswa Aswaja Nusantara. Tidak ketinggalan, saya pun juga mengikuti beliau bersama beberapa peserta dari UNU. Sepertinya hari ini, Gus Nadir menjadi magnet yang perlu diikuti kegiatannya di Yogyakarta.

Setengah enam, baru kami sampai lokasi di belakang Apotek Kentungan. Acara telah dimulai, kami merasakan beberapa materi singkat beliau, Gus Nadir. Sejenak kemudian adzan Maghrib berkumandang. Kami pun segera saja melaksanakan kewajiban tersebut bersama peserta putra yang lain.

Pada kesempatan kegiatan terakhir inilah, saya mencoba menanyakan sesuatu kepada Prof. Nadirsyah Hosen. Saya sedikit menegaskan kembali atas ungkapan beliau bahwa Aswaja tidak menarik bagi kalangan mahasiswa ataupun pemuda. Saya mintakan sedikit solusinya. Beliau pun menjawab dengan begitu singkat dan tersirat. Akibat pertanyaan ini, saya mendapatkan sebuah buku yang berisi puisi.

Setelah kegiatan ini, katanya, Prof Nadirsyah Hosen akan menuju Sate Klatak Pak Pong. Saya pun tidak ketinggalan untuk kembali mengejar kegiatan beliau yang paling terakhir ini. Acara makan-makan dan temu santai. Ternyata tidak hanya saya saja yang mengikuti beliau. Mereka yang hanya menggunakan motor itu merapatkan barisan ke Sate Klatak Pak Pong.

Benar saja, acara terakhir itu, Prof. Nadirsyah Hosen mengundang beberapa kenalan beliau di kota pelajar ini. Ketika kami datang, setidaknya beliau sudah ditemani oleh Pak Fatur, Gus Nilzam dan Gus Tafid sekeluarga. Menit-menit selanjutnya, mulailah berdatangan yang lain, seperti dosen dari UGM dan UII, Mbah Rosyid (Senior Matan Sleman) dan Kyai Muzamil.

Acara santai terakhir ini benar-benar menjadi pamungkas seharian Prof. Nadirsyah Hosen beraktivitas. Esok pagi (Selasa), beliau harus cek out dari Hotel Inna Garuda di Malioboro. Makasar menunggu beliau selanjutnya. Begitu Prof Nadirsyah meninggalkan Sate Klatak Pak Pong, maka berakhirlah acara hari itu.

Saya pun juga harus bergerak menuju rumah. Beristirahat setelah seharian mengikuti kegiatan dosen dari Universitas Monash itu. Mulai dari Krapyak hingga Sate Pak Pong, tanpa terkecuali. Lelah itu pasti dan harus diistirahatkan. Tetapi perlu dicatat, ini salah satu hal yang berkesan.

Wawasan beliau begitu luas. Saya harus terkagum atas wacana beliau. Baik dari penilaian ketika mengkritik Layla. Kemudian khazanah terkait HTI, sejarah kekhalifaan hingga semua itu hanya kekhilafan. Hingga kemudian menyampaikan wacana Ahlussunah Wal Jamaah. Dengan gaya beliau, semua itu disampaikan kepada audien sekalian. Antusiasme, atau bahkan mungkin mengambil kesempatan menanggapi segala yang disampaikan oleh Prof Nadirsyah Hosen.

Selaku jajaran pengurus PCI NU Australia, maka beliau membawa kapasitas itu dalam kunjungannya di Jogja. Di Krapyak misalnya, beliau begitu akrab dengan dzuriyyah pondok. Atau bahkan ketika di UNU, beliau bahkan memantik semangat Aswaja Center yang dibahas oleh UNU. Dengan begitu, beliau perlu untuk ditirukan oleh kader atau barangkali aktivis Nahdlatul Ulama. Pemahamannya yang luas serta dapat menempatkan diri dengan baik. (14/05/2017)

 

Advertisements