(#BukuUntuk2017)

Selesai baca buku ke-5
Suluk Bagimu Negeri  – Aprinus Salam
Gambar Buku Budaya, Yogyakarta (2017)
79 halaman

Buku kumpulan puisi atau sajak ini saya peroleh langsung dari penulisnya. Benar-benar langsung, ada penulisnya. Hanya saja media mendapatkan buku ini melalui pertanyaan kepada Prof. Nadirsyah Hosen tempo waktu. Buku ini menjadi kenangan dari KH Mustafied (Gus Tafid Mlangi) bagi mereka yang bertanya kepada narasumber di depan. 

Sebelumnya saya tidak pernah mengkoleksi buku yang bergenre kumpulan puisi. Artinya ini merupakan buku pertama yang bergenre itu. Kenapa saya membaca? Alasannya karena sudah bosan membaca novel fantasi terjemahan sebelah. Entah, ada rasa malas saja dan memilih untuk ganti buku bacaan dulu. Akhirnya saya pilih buku ini. 

Loh, saya yang sering bikin syair-syair tidak jelas itu ternyata belum pernah mengoleksi buku tentang puisi atau suluk. Sebetulnya ini menggelikan, tetapi harus diakui seperti itu. Setidaknya saya punya waktu untuk belajar kembali, tentang puisi-puisi itu sendiri. Begitu pula membaca buku kumpulan puisi. Itu sangat berbeda. 

Saya merasakan berbeda saat membaca buku yang isinya kumpulan puisi. Saya harus membacanya betul dengan bersuara dan penghayatan. Tidak seperti novel-novel lalu yang cukup dibaca dan langsung akan ada imajinasi. Ini tidak, harus benar-benar dihayati. Bolehlah untuk selanjutnya karya dari Aan Mansyur. 

Isi puisinya begitu sistematis. Alur penyusunan puisi mengalir sesuai hilir ke hulu. Dari bagian terendah menuju tempat yang lebih tinggi. Mulai dari suluk-suluk penyusun negeri kemudian naik tingkat menuju suluk negeri itu sendiri. Menurut saya itu runtut. 

Saya akan mengutip satu suluknya. Suluk ini agak bernuansa tasawuf. Jika dibacakan dengan penghayatan yang maksimal, mungkin terkesan begitu sakral. Hanya satu suluk saja, selebihnya silakan untuk berburu buku ini di toko buku. 

Suluk “Seseorang Tak Dikenal (2)”
Aprinus Salam

Bukan lelah jadi gelandangan
Mampir ke teras rumahmu
Matamu sinis, bibirmu runcing

Berjalan ke masjid, aku cemas
Aku tak bawa sarung dan peci

Mampir ke pos perondaan
Kau mengajakku main remi
Aku menang, dan kau tak suka

Kulanjutkan mengitari alun-alun
Lanjut sesuai trotoar dan selokan
Hingga sebuah perempatan
Tak ke mana aku berbelok
Untuk terus berjalan


Jelang waktu, kuputuskan duduk
Di bawah pohon randu bersila
Kubacakan sebuah puisi

Lama Baca : 23 – 30 Mei 2017 

Advertisements