(#BukuUntuk2017)

Selesai baca buku ke-6
Layla: Seribu Malam Tanpamu – Candra Malik
Bentang, Yogyakarta (2017)
259 halaman

Kembali lagi saya mengunjungi karya dari Gus Can aka Candra Malik. Sebelumnya saya menyelami Mustika Naga. Novel yang sebetulnya tidak berbeda jauh dengan karya Gus Can sebelumnya. Hanya saja, sayangnya saya tidak membuat resensi tentang Mustika Naga karena bacanya dahulu belum termotivasi buat membuat resensi semacam ini.

“Jadi siapa Layla?” pertanyaan itu menghantui saya membaca novel ini. Judulnya Layla. Bab pertama disuguhkan seseorang bernama Lail. Saya kira inilah yang dimaksud Layla. Tetapi salah karena nama panjangnya saja Wallaili Wannahar. Jelas bukan Layla. Pertama membaca pun disuguhkan cerita yang begitu wingit, tentang pembaiatan dengan Abah Suradira.

Tokoh utamanya Lail. Seorang mahasiswa yang menempuh kuliah di Malang. Pelaku utama yang diceritakan suka mencari guru spiritual. Mulai dari kiai kampung hingga syaikh kondang bertaraf internasional. Secara tegas disebutkan sosok-sosok penghuni dunia sufi oleh Gus Can dalam proses bergurunya Lail.

Selain aspek tasawufnya yang digali dalam novel ini, ada aspek lain juga yang membuat ‘klepek-klepek’ dengan percintaannya. Sejatinya tasawuf itu juga berkutat pada percintaan tetapi dimensinya vertikal. Tetapi di Layla ini, juga ada romantisme Lail yang mencari ‘kembarannya’. Siapakah kembarannya?

Pertanyaan sebetulnya. Di bagian paling akhir, Lail akhirnya menemukan sosok yang selama ini dia cari. Tetapi ini menciptakan pertanyaan. Kembaran itu terlahir dari rahim yang sama, tetapi disusui dan dibesarkan oleh keluarga yang berbeda. Jika, Lail mencintai kembarannya, artinya ia akan terbentur pada syariat Islam tentang munakahah. Semoga Gus Can berbaik hati meneruskan Layla jilid II.

Oh iya, novel yang saya dapatkan ini plus tanda tangan dari Gus Candra Malik. ^.^ Dan saya memilih di bulan Ramadhan ini untuk membacanya agar taste-nya lebih berasa. 

Lama Baca : 3 – 11 Juni 2017

Advertisements