Musik merupakan salah satu instrumen yang memperkuat posisi spirit. Pernah mengalaminya bukan? Musik akan selalu memberikan efek samping, sangat banyak. Terutama kesan, karena diri berada di posisi yang strategis untuk menerima musik yang sesuai dengan keadaan.

Sebetulnya, mendengarkan musik merupakan hal yang wajar. Mereka yang memiliki kegemaran bermusik atau memainkan alat musik pasti dituntut untuk belajar dengan mendengarkan. Tetapi musik lebih dari itu, bahkan dalam meditasi spiritual, musik juga menjadi media untuk memfokuskan atau merilekkan.

Saya mencoba mengomentari sedikit tentang musik. Kali ini saya harus menyinggung masalah yang mempunyai kaitan dengan musik. Secara otomatis, saya harus menilai terlebih dahulu musik yang seperti apa, yang saya maksudkan. Agar semua ini menjadi lebih teratur dan terarah.

Saya harus flashback jauh ke masa yang cukup lama. Setidaknya itu terjadi sebelum berkuliah. Di harddisk eksternal saya, ada koleksi mp3 qosidah yang banyak. Salah satunya beberapa album dari grup Al Mubarok (Kudus). Album itu terdiri dari beberapa nomor qosidah, salah satunya Sholatun. Yang mana pada masa awal Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, Sholatun dibawakan oleh para vocalis Qudsiyyah. Selain Sholatun, terdapat pula Hadzal Quran.

Rakernas KMNU 2017 kemarin bertempat di Pondok Pesantren Al Mahalli Brajan, membuat saya kembali menikmati alunan qosidah khas dari Al Mubarok. Sebut saja karena saya pegang mobilnya Kang Muslim. Daripada boring sendiri di mobil, maka saya menyalakan koleksi musik di mobil. Salah satu yang menjadi playlist yaitu Hadzal Quran. Saking asyiknya, dari sekian playlist maka saya menyeting agar Hadzal Quran diplayback terus.

Mulai dari titik inilah kemudian Hadzal Quran menjadi qosidah yang sering tampil di Winamp. Apalagi dengan iringan khas ala Al Mubarok, ataupun Hadroh Klasik ala Karesidenan Pati. Iringan inilah yang sebenarnya enak, seperti Az Zulfa Kajen dan Al Mahalli Brajan. Kebetulan pula, kemarin diingatkan di Rakernas bertempat Al Mahalli. Ternyata, dalam acara terakhir Rakernas KMNU yang berduet dengan Pemuda Brajan dan PC IPNU IPPNU Bantul, Hadzal Quran juga dilantunkan oleh para maqoshid dan penerbang. Dengan demikian, lengkaplah sudah alasan Hadzal Quran menjadi trademark dari kenangan Rakernas KMNU bagi saya.

Virus playlist Hadzal Quran ini menyebar kian parah pada masa Pra-Ramadhan dan dipuncaki pada Ramadhan. Pra-Ramadhan, para anak-anak kampung yang sedang belajar Hadroh saya kenalkan Hadzal Quran. Antusias, begitu komentar saya. Kedua pada Pra-Ramadhan, backsound kolase foto Akhirussanah kegiatan Ngaji Quran di Masjid Darussalam Bejen saya beri Hadzal Quran. Alasan kuat saya, ya inilah Al Quran yang sedang dingajikan oleh teman-teman di masjid. Video kolase ini sampai kemana-mana, bahkan salah satu santri ‘tua’ dari Ngaji Quran meminta khusus track ini ke saya.

Kali ini saya ceritakan puncak dari virus ini. Setelah begitu masif di Pra-Ramadhan, Hadzal Quran kembali menguasai udara di senja Ramadhan. Playlist qosidah untuk meramaikan masjid pada saat Takjilan saya sisipkan qosidah tersebut. Akibatnya, hampir setiap kali Takjilan, seluruh masyarakat mendengarkan Hadzal Quran. Penyebaran virus yang begitu akut, saking spesialnya bagi saya.

Terakhir, pada beberapa waktu lalu saya mendengar sendiri bahwa beberapa dari anak-anak Hadroh menjadikan Hadzal Quran menjadi playlist di smartphone mereka. Virus baik, anak-anak daripada hanya main game di gadget juga mendengarkan sholawat. Seperti paragraf di awal-awal tadi, harapannya dapat membentuk ruh spiritual di hati mereka melalui instrumen musik.

Advertisements