Sudah lebih satu minggu lamanya, peristiwa yang tidak pernah diduga itu menjadi bencana di tanah kelahiran ku. Tidak pernah dinyana sebelumnya, bahkan hampir tidak pernah ada track record menjadi sebuah wilayah yang terkena bencana seperti itu. Meski dalam kajian ilmiah hal ini dapat dianalisis sebelumnya. Sehingga hasilnya akan ada mitigasi yang dibutuhkan untuk menangani bencana tersebut.

Hujan deras yang stagnan itu mengguyur Yogyakarta sepanjang hari sejak hari Ahad. Senin, hujan pun tidak reda. Puncaknya berada di hari Selasa (28/11), setelah dzuhur mulai nampak dampak dari hujan yang tidak berhenti tersebut. Setidaknya aku merasakan hal tersebut, karena pada saat itu aku melalui Jalan Parangtritis sepulang dari kampus. Sungai kecil di pinggir jalan itu tumpah ruah menutupi jalanan yang ramai. Bak banjir bandang pun tidak dapat dibendung.

Aku sendiri harus mengalami hal terpahit dalam bencana banjir di jalanan. Motor harus mangkrak karena air yang menggila itu menganggu jalannya mesin motor. Hal itu terjadi di selatan Piramid. Air tidak mereda, justru semakin membludag dengan volume air yang semakin meruah. Tidak pernah harus ku bayangkan dengan keputusan bulat dengan menuntun motor, bersama pengendara lain yang motornya bernasib sama.

Tidak ada yang mengira, hari itu terjadi sebuah badai “Cempaka” dengan dampak yang juga luar biasa. Hampir menyeluruh di wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kulonprogo, Sleman, Kota Yogya, Bantul dan Gunung Kudul tidak absen dari kejadian alam tersebut. Semuanya terjadi titik-titik air meluap, longsor, dan banjir.

Gunung Kidul yang mempunyai tekstur tanah pegunungan bisa terdampak banjir besar. Obyek Wisata yang diunggulkan di Gunung Kidul, pergoaan dan pantai tidak lagi dapat diakses. Lumpuh pada hari itu dan sehari sesudahnya. Semanu, Goa Jomblang, Goa Pindul, Pantai Baron dan yang lainnya lumpuh. Berbagai foto dengan cepat tersebar melalui media sosial dan chat.

Bantul, tanah kelahiran ini pun juga mengami hal serupa. Setidaknya di Bantul terlalui beberapa sungai besar yang membelah Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Kali Opak, Kali Oyo, Kali Gajah Wong, Kali Code, Kali Winongo, Kali Bedog, dan Kali Progo. Sepanjang bantaran kali itu tidak luput dari presensi limpahan air bah. Tanah terkikis, tanggul longsor dan pohon-pohon terbawa arus. Setidaknya dari pantauanku ada tiga jembatan yang dengan skala besar dan kuno lenyap terkena efek banjir ini.

Banjir dengan kondisi memperihatinkan terjadi di wilayah Imogiri. Beberapa hari pasca kejadian aku melihat sendiri efek dari banjir yang terjadi. Rumah terendam dan timbul pengungsi yang dikondisikan di GOR Kebonagung. Benar-benar seperti banjir beneran yang terjadi di daerah lain, seperti Jakarta. Bahkan keadaan yang hampir sama seperti tatkala Gempa Bumi beberapa tahun silam. Semoga Allah mengangkat derajat mereka yang tertimpa musibah ini. Aamiin.

Di balik banjir yang terjadi merata di Selasa itu, Rabunya timbul berbagai tempat pemancingan Ad Hoc. Mereka yang menangkar ikan untuk menghidupi keluarga harus merelakan semua benih ikan hanyut terbawa banjir yang mengalir ke selatan. Aliran air itu memenuhi area persawahan yang bergalengan. Sehingga kemudian kolam-kolam satu petak sawah menjadi tempat pemancingan. Seperti kejadian di sekitaran Bejen-Jebugan, ramai para manusia dengan alat pancing memburu Lele, Gurameh bahkan ikan Aligator.

Dampak lain dari banjir seminggu yang lalu adalah jalanan yang tergerus air dan rusak. Beberapa jalanan yang ramai harus ditutup sebagian, dan adapula yang tidak bisa dilalui. Bahkan keadaan ini terjadi sampai dengan H+4 dari tragedi banjir bah itu. Adapula yang sampai saat ini. Genangan air pun juga masih ada yang menutupi jalanan hingga H+3 dan lebih dari itu.

Penggalangan dana dan bantuan pun digalakkan untuk membantu kesulitan yang dialami oleh korban bencana. Kegiatan kemanusiaan ini langsung bergerak dan menyelesaikan kebutuhan pokok di lokasi kejadian, seperti di Kebonagung. Selain itu, para relawan bergerak untuk membantu di lokasi langsung, membersihkan lumpur dan membantu hal yang lainnya. Sampai sekarang.

Aku melihat hal ini merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi di Yogyakarta dengan skala yang besar. Musim penghujan tahun-tahun sebelumnya memang sudah terjadi banjir terutama di jalanan Kota Yogya tetapi tidak separah dan seluas ini. Meskipun wajar saja ini berada di musim hujan, tetapi didukung dengan keadaan alam yang mengharuskan adanya Badai Cempaka, maka hal ini menjadi bencana. Hal itulah yang juga menjadi alasan aku menuliskan kejadian ini di sini. Setidaknya menjadi pepiling untuk kita semua.

Kejadian yang terjadi di Jawa-Bali pada akhir-akhir ini merupakan pengingat akan kekuasaan yang Maha Tidak Terlihat, Tuhan Semesta Alam. Manusia tidak mempunyai kekuatan yang sejati, kekuatan yang diberikan kepada manusia agar ia senantiasa berusaha untuk mendekatkan dengan Tuhan Maha Pencipta. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya.

Kampus FH UII, 5 Desember 2017

Advertisements