Tahun itu, ketika aku mencatatnya dalam sebuah buku harian sesuai dengan kejadian. Sebuah tahun yang begitu dikenang dan hampir setiap tahun setelahnya diperingati oleh generasi ke generasi. Kini aku sudah tua, menginjak tahun yang sama ketika kakek kami menunaikan ibadah haji.

Kakek kami merupakan orang tua yang dihormati, tidak saja di keluarganya sendiri, tetapi juga oleh masyarakat. Tidak khayal, kakek menjadi tokoh yang begitu dikenal oleh masyarakat luas. Begitu pula ketika saat itu, beliau berpamitan untuk haji. Banyak masyarakat yang berkumpul dan mengantarkan kakek dan anak tertuanya berhaji.

“Le, pokoknya rumah dijaga, kalau ada apa-apa pakde paklik mu dibantu,” begitu ujar kakek sebelum pergi.

“Nggeh Mbah,” aku pun langsung reflek menjawabnya.

Di kampung, setiap kali ada masyarakat yang hajatan maka pasti mereka akan meminta Kakek untuk memimpin acara hajatan tersebut. Seperti ketika ada orang yang meninggal, maka kakek akan memimpin Tahlilan atau kala ada yang aqiqahan anaknya maka kakek dipastikan akan memimpin pembacaan Barzanji. Kakek dikenal orang yang ikhlas, jam-jam tengah malam pun beliau siap untuk bergegas membantu masyarakat yang membutuhkan.

Oleh seorang Kiai, kami yang ditinggal haji diberikan sebuah amalan untuk didawamkan setiap malam Jumat dan sepuluh hari di awal Dzulhijah. Dengan amaliyah ini maka kegiatan kami di Bulan Dzulhijah tahun itu begitu berwarna. Kami hampir berkegiatan seperti Ramadhan tiba. Begitulah kami mendoakan kakek dan pakde yang sedang menunaikan rukun islam kelima itu.

Kakek dahulu, di tahun yang sama seperti aku begitu sehat. Bahkan aku sendiri menilai beliau sangat sehat di usia senjanya. Maklum, orang tua zaman dahulu tidak pernah berurusan dengan cara-cara kimia pabrikan dalam mengolah makanan. Semua murni dari yang dihasilkan oleh alam. Ketika paceklik melanda, maka mencarikan makanan pengganti. Begitu susah tapi sehat.

Bahkan aku ingat betul, kakek mengajak aku menyusuri galengan sawah. Di komplek persawahan itulah kakek mempunyai lahan yang luas, dan ia kerjakan bersama orang yang dipercaya kakek.

“Alam itu bergerak le, sebesar apapun yang engkau miliki ia tidak akan bertahan lama, sekecil apapun juga ia dapat menjadi besar, alam adalah spekulasi,” ujar kakek di kesempatan lain.

“Kuncinya satu, ya kita harus dekat dengan yang punya Alam. Ketika paceklik tiba ya tetap disyukuri, ada kalanya memang hidup perlu untuk diuji, agar tahu seberapa imankah kita. Alam adalah spekulasi,” tambahnya.

Kakek begitu paham seluk beluk tentang pelajaran ikhlas dan iman. Terkadang ia tidak terlalu mengambil pusing permasalahan. Tetapi kagumku, selalu saja masalah itu punya solusi untuk dipecahkan.

“Alam itu berbicara. Alam sudah terlalu banyak sabar menahan sakit, wajar jika suatu saat ia melampiaskannya. Panenan diserang hama, banjir dan angin tofan, hal itu wajar. Kita harus selalu bersama alam, mengembalikan diri kepada alam.”

Aku kini menjadi paham betul bagaimana kakek hidup dan menjadi sehat. Semua itu berkat alam. Tidak seperti sekarang, aku sendiri miris di berbagai koran di bahas alih fungsi lahan hijau. Alam tidak pernah berbohong, manusia sendirilah yang punya sifat itu. Sudah bohong ditambah sombong.

Kakek begitu arif menyikapi semua persoalan. Disiplin ilmu agama yang cukup membuat ia disegani. Ia bukan seorang kiai, tetapi kemampuannya untuk bermanfaat bagi lingkungan adalah nilai positif. Tetapi aku menyaksikan sendiri, ia selalu rajin untuk membaca Al Quran, sholat sunnah dan amaliyah sunnah lainnya. Aku kagum.

Kakek selain agamanya cukup, ilmu alamnya juga mahir, tetapi itu saja kurang untuk menggambarkan kakek. Ia juga memiliki keistimewaan lainnya. Sedikit banyak, kakek sering bercerita tentang hal-hal yang tidak terlihat, baik gaib maupun terawangan. Aku tidak begitu paham, tetapi sering ia bercerita demikian.

Ayahku jarang mau bercerita lebih jauh tentang kakek. Ia benar-benar sosok yang istimewa bagi kami. Begitu juga ketika kisah ini harus aku tuliskan. Sebuah peristiwa yang tidak pernah kami lupakan. Bahkan aku mencatat persis kejadiannya.

Hari itu mendekati Idul Adha. Sehari sebelum jamaah haji berkonsentrasi untuk melakukan wukuf di Arafah. Kami mendapat telepon dari Pakde. Kakek jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit karena kritis. Berita ini membuat kami begitu cemas di rumah.

“Simbah tulung didongakno terus karo seng neng ngomah, undang Pak Kiai njaluk berkah e,” begitulah yang kami dengar dari ayah yang mengangkat telepon.

Rumah tabon kembali ramai. Seperti biasanya, tapi kali ini tidak biasa. Ada kecemasan yang menyelimuti hati kami. Amaliyah pada malam itu seperti menjadi begitu besar. Kami undang juga kiai untuk memimpin acara kali ini. Benar-benar beda kali ini.

“Kita harus tetap yakin Simbah bisa melewati cobaan ini,” begitu terang ayah.

Kami pun malam itu terus berdoa kepada Allah agar kakek diberikan kesembuhan dan dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar. Meski dalam bayangan kami terus saja diliputi kecemasan, tetapi kami berusaha untuk tetap optimis kepada keadaan kakek. Bagaimanapun wajar bagi kami di rumah yang jauh keberadaannya dengan kakek.

Tengah malam itu, telepon rumah kembali memanggil.

“Le, simbah ora ono,” begitu pesan singkat dari Pakde ke Ayah.

Ayah yang mendengar berita pertama itu memperlihatkan wajah yang begitu murung dengan tangan yang juga menggigil. Kami melihat itu.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Simbah wes sedo,” ganti ayah yang menyampaikan ke kami yang menunggu berita. Suara ayah parau dan berat.

Kami tidak dikomando, menangis bersama. Suasana kala itu benar-benar tidak bisa digambarkan. Aku sendiri turut larut dalam tangisan, disamping ayah. Kala itu aku masih sekolah menengah. Anak, cucu dan buyut kakek menjadi satu, menangis.

Sontak saja, suasana rumah menjadi riuh. Mereka yang sedang berada di masjid untuk mempersiapkan Idul Adha menghambur ke rumah. Seketika rumah menjadi ramai, berita sudah tersiar di seluruh penjuru.

Ayah bingung, ia bersama beberapa anak kakek berkumpul di ruang utama rumah kakek. Beberapa tetua kampung turut serta.

“Kami belum pernah menerima cobaan seberat ini, Simbah meninggal di tanah Arab,” Pakde mengungkapkan kegelisahannya.

“Tetap beliau merupakan tokoh yang dihormati di keluarga dan kampung ini,” salah seorang tetua kampung berpendapat.

“Tidakkah bisa beliau dimakamkan di Jawa?” pertanyaan ini mewakili hampir semua uneg-uneg di kepala keluarga.

“Biasanya mereka yang meninggal di Tanah Arab dikebumikan juga di Arab sekaligus, tapi coba saya mencarikan informasi agar jenazah dapat dikirimkan ke Jawa,” Pak Kepala Dusun berujar.

“Sepertinya sulit pak dukuh, keluarga saudara saya ada yang pernah demikian tidak bisa diurus ke Jawa,” tetua kampung lainnya menanggapi.

“Saya coba usahakan dulu,” Pak Kepala Dusun.

Pak Kepala Dusun sibuk menelepon relasinya. Tidak ada yang mengusik dirinya, ia begitu serius dalam setiap telponnya. Kami harap-harap cemas. Apa yang dilakukannya adalah salah satu cara. Mungkin ada cara lainnya.

Sayang beribu sayang, informasi yang aku terima kala itu mengharuskan kakek dikuburkan di Arab. Tidak boleh di bawa ke Jawa. Kami pun kembali meneruskan drama tangisan hingga mata tak kuat bertahan. Dan tertidur. Semuanya tertidur.

Aku mendapat informasi bahwa tidak terkecuali di rumah itu terkena sirep yang begitu kuat. Bahkan ada informasi yang begitu berlebihan, kala itu rumah dan kampung diselimuti kabut samar yang turun perlahan. Hal itu menyebabkan semua orang tertidur dan terlelap dalam alam mimpi yang aneh.

Peristiwa ini aku catat dalam sebuah buku catatan harian yang biasa aku bawa ke sekolah kala itu. Aku mencatat semuanya yang aku tangkap dan terinformasikan. Hanya catatan acak-acakan, tidak mempunyai struktur yang baik. Maklum masih duduk di kelas Sekolah Menengah Pertama.

Semua orang terbangun. Semuanya. Seluruh kampung. Ketika mendengar seruan adzan Subuh yang begitu keras dari masjid kampung. Ada nada-nada aneh dalam adzan itu yang langsung dapat membangunkan orang tidur pulas. Seperti kekuatan misterius.

Subuh yang ramai. Hampir semua masyarakat pergi ke masjid. Seperti ketika sholat Idul Fitri ataupun Idul Adha. Memenuhi masjid kampung yang menyerukan umat untuk bersembahyang. Tidak kenal usia, anak-anak pun juga begitu bersemangat untuk sholat berjamaah.

Semuanya terlena, begitu masuk masjid mereka duduk menunggu iqomah. Tidak ada yang sadar akan sesuatu hal. Sebelum sholat Subuh semuanya berjalan begitu normal, meski sebenarnya sedikit aneh dengan jamaah Subuh yang memecahkan rekor ini. Bahkan sampai sholat didirikan.

“Loh, Mbah Sis?” desis seseorang yang sadar setelah salam.

Pertanyaan itu seperti kode pemecah hipnotis. Semua yang sholat Subuh baru sadar kalau yang menjadi imam mereka adalah kakek. Tidak terkecuali keluarga, begitu menyesak di dada rasa itu jika diingat lagi.

Sebelum ada yang berbicara lagi, sosok misterius itu bangkit dan berucap sesuatu. “Aku pun ingin dikebumikan di tanah yang memeliharaku,” begitu ucap sosok yang mirip Kakek.

Setelah itu, tubuh itu terkulai dan jatuh. Barisan belakang kakek, langsung bertindak reflek dengan memegang dan menahan tubuh itu. Itu benar sebuah jasad, tidak hanya bayangan ataupun ilusi. Kakek sudah tidak lagi bernafas.

Ayah dan pakde langsung bergegas untuk memandikannya. Menurut cerita ayah, tubuh itu memang benar-benar mirip dengan kakek. Tetapi mereka tetap setengah percaya bahwa yang mereka mandikan adalah kakek.

Singkatnya, jenazah itu disemayamkan di rumah dan disholati. Setelahnya, bersamaan dengan matahari yang merekah di ufuk, prosesi pemakaman dilaksanakan. Mereka masih menganggap hal tersebut sebagai kenyataan. Bahwa benar saja itu nyata.

Kakek dikebumikan di komplek makam yang berada di sisi barat masjid. Mereka yang mengiringi jenazah tidak sedikit. Bahkan makam itu hampir penuh dengan manusia yang menghormati kakek untuk terakhir kalinya. Mereka juga masih setengah tidak percaya dengan peristiwa yang dialami indera penglihatan pagi itu.

Aku kala itu, bersama ayah dan ibu yang berdiri di sekitar pekuburan kakek. Melihat jasad itu terbaring menghadap tempat sejatinya tubuh itu tiada, Mekkah. Aku juga melihat, ketika tanah itu mulai memisahkan kami dan kakek untuk selamanya. Dan semuanya berlangsung cepat. Beberapa tahun setelah peristiwa itu, diatas makam kakek terpampang prasasti sederhana. Siswoyo Sastrodimejo.

Pakde Is, yang mengantarkan kakek haji sepulang dari Haramain bercerita panjang lebar. Ketika dari rumah sakit akan mengantarkan jasad kakek ke pemakaman di tanah Arab sana, jasad itu tidak ditemukan di ruangan jenazah. Dicari kemanapun juga tidak ada. Oleh Pakde, hal ini memang tidak diberitakan ke rumah karena takut akan membuat suasana menjadi tambah runyam.

Siswoyo Sastrodimejo menurunkan lima anak yaitu Ismoyo, Turaga, Ayah, Brataseno, dan Sosrodimejo. Dari anak Simbah Siswoyo, terakhir kali yang meninggal adalah Paklik Seno, lima tahun yang lalu. Ia berumur panjang, aku sekarang dipenghujung kepala enam.

Aku harus merangkai kembali peristiwa ini sesuai catatanku dulu. Meski pada tahun ini sudah lebih dari peringatan setengah abad kakek meninggal dunia. Haul demi Haul kami lalui setiap tahun. Mendoakan Kiai Siswoyo Sastrodimejo. Selama itu pula kisah ini menjadi cerita turun temurun. Aku adalah generasi terakhir yang menyaksikan langsung dengan catatan akurat. Aku punya tanggung jawab untuk menceritakan kisah ini kepada generasi berikutnya.

Tertanda : Yasin Fatah (1985)

Bantul, 16 Januari 2018
*) cerita ini fiktif jika ada kesamaan nama, latar tempat dan cerita, maka hal tersebut hanya kebetulan saja.

Advertisements