Siang itu, aku menerima pesanan dari toko onlineku. Ia meminta untuk mengantarkan buku. Sebuah buku yang ku pajang dengan harga mahal di etalase maya. Sebuah buku tua yang sudah lama memenuhi rak. Pesanan itu segera aku proses.

Aku lupa, buku itu. Buku tua yang memenuhi rak itu hilang. Sudah aku cari dalam barisan katalog, buku itu nyata masih ada tapi sekarang menjadi benda maya. Aku bingung. Aku mencari lagi dengan bersusah payah.

Aku punya beberapa rak yang berisi banyak buku. Setiap buku yang aku koleksi hanya memiliki satu cetakan. Setiap berlebih akan aku jual secara online. Beberapa kali aku mendapatkan pesanan itu, buku baru itu ada dan terjual. Kantongku kembali berisi.

Katalog itu bercerita panjang dalam sederet koleksi rak. Tentang buku-buku usang dan berjamur dengan bercak kecoklatan. Juga tentang koleksi yang terbit beberapa minggu belakangan ini. Katalog itu lengkap mengisi daftar koleksi pribadiku.

Buku tua itu hilang. Aku ingat buku itu benar-benar langka. Cetakan yang tidak lagi berulang hingga setiap ulangannya terdapat revisi. Cetakan orisinil yang cukup untuk memanjakan kepuasan. Dengan harga yang tidak terbilang dan ternilai.

Pesanan itu harus segera aku kirim ke jasa pengiriman. Tapi buku itu hilang. Aku harus selalu mengulang kata ‘hilang’ dalam setiap pikiran yang melayang. Seperti bius yang membuat terlena dalam detak jantung berdebar.

Buku itu adalah koleksi keduaku. Aku ingat, aku masih memiliki satu buku lagi. Tapi, aku cari juga tidak ketemu. Di rak itu, sebelah daun pintu, ia tidak ku temukan. Aku harus mencari kemana lagi, selagi waktu terus bergerak dan menjadi penjara kebebasan.

Kini, dua buku itu hilang. Pesanan harus segera aku kirim ke jasa pengiriman. Aku terus mencari dan merenungi setiap ingatan. Menelusur lorong-lorong waktu yang mengantarkan pada masa lalu. Tentang buku itu.

“Dok dok dok,” suara pintu rumahku tergedor.

“Iya, sebentar!” teriakku dalam angan yang masih mencari kenangan.

Pintu itu aku buka. Pintu itu terdiri dari dua daun pintu yang berbentuk setengah lingkaran di bagian atasnya. Ku lihat sosok yang menggedor pintu itu dengan keras tadi. Sosok bertubuh tegap tapi tua, dengan rambut yang menjuntai sampai dada.

“Aku lupa mengembalikan buku ini kepadamu,” ujarnya sambil menyodorkan buku tua yang memiliki wajah lusuh.

Aku kaget. Iya ini buku yang aku cari. Aku mengamati buku itu lekat-lekat. Takut jika judul buku itu berubah ketika aku palingkan muka. Aku cubit pipiku hingga merah. Ketika aku palingkan muka ke arah orang tua, yang seharusnya berdiri di depan pintu.

“Kemana dia?” tanyaku penasaran.

Aku tidak ambil pusing untuk memikirkan sosok tadi. Aku kemas buku itu dengan rapi dalam kertas pembungkus yang berkualitas tinggi. Aku takut jika kertas bungkus itu melukai koleksi tua itu. Kertas yang tebal, aku saja sulit untuk menekuk pada tepi buku itu.

Buku itu sempurna untuk siap dikirim. Aku kemudian berlari ke jasa pengiriman yang hanya berjarak beberapa komplek dari rumahku. Menyusuri pedestrian yang begitu memanjakan dengan beberapa vas dari gerabah yang ditumbuhi bunga-bunga.

“Maaf pak, alamat ini tidak ada!” begitu tegur penjaga itu.

“Tapi pemesan meminta untuk dikirimkan ke alamat tersebut,” ujarku membela.

“Di seluruh sudut dunia, alamat ini tidak ditemukan.”

Aku cabut pengiriman itu dan kembali melangkah gontai menuju rumah. “Alamat ini jelas,” gumamku. Aku tidak pernah berpikiran aneh, bahkan ketika aku berpapasan dengan seseorang.

“Itu apa yang kau bawa?” tanya ia ketika menyapaku di pedestrian itu.

“Sebuah paket,” jawabku singkat.

“Kenapa dibawa pulang?” ia begitu ingin tahu.

“Alamatnya tidak ditemukan di seluruh dunia, akses telah tertutup.”

“Coba aku lihat!” pintanya sambil menjulurkan tangan yang begitu kasar. Kemudian ia bergumam tidak jelas. “Oh, aku tahu tempat ini. Beberapa saat lalu aku melintasinya.”

“Dimana?” tanyaku.

“Di dalam dunia yang tidak nyata!”

Bantul, 17 Januari 2018

Advertisements