Aku sedang dalam perjalanan yang menyita perhatianku. Tidak biasanya aku berpikir begitu dalam tentang perjalanan ini. Apalah artinya sebuah perjalanan bagi mereka yang sering berjalan. Tetapi ini lain. Ketika sebuah dimensi waktu menghubungkan kami.

Kami adalah dua generasi berbeda. Satu nama, satu tubuh dan satu nyawa. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Tetapi aku sendiri yakin bahwa kami adalah aku dengan aku yang lain – aku yang berada di masa lalu.

Aku terus saja menatap kaca yang berembun itu. Beberapa tetes air tampak bermain dengan membelokkan nahkoda. Memberikan kesan dingin yang tiada terperi. Maklum di luar sana, hujan juga menyapa bumi.

“Kau ingat ini? Ketika dalam perjalanan engkau singgah di rumah makan itu berulang kali,” tanya aku kecil.

“Jelas, aku mengingatnya sobat kecil, namanya Gerbang Elok. Benar kan?” jawabku sambil melempar tanya.

Aku kembali mengulang masa kecilku. Terakhir kali menempuh perjalanan yang sama ketika lebih dari dua tahun yang lalu. Aku tidak menemukan kami, kala itu. Namun, saat ini, aku sedang bernostalgia dengannya.

Aku di usia itu sering menempuh perjalanan ini ketika liburan musim dingin datang. Benar saja, dengan kondisi musim dingin, hujan lebih sering turun. Sehingga warna kala itu, aku menemukan embun yang sama dengan tetesan air yang sama pula.

Aku ingat pula ketika satu rombongan itu terdiri atas aku, bapak dan ibu. Tiga orang, sering kali aku duduk bersanding dengan ibu di kursi-kursi empuk nan dingin itu. Kadang ibu juga siap siaga membawa minyak kayu putih agar tidak pusing terterpa hawa dingin.

Bapak, ia adalah jiwa merdeka. Tidak duduk di kursi semestinya itu hal yang wajar. Terkadang ia menjadi kondektur yang menemani sopir mengemudikan laju. Berbincang dengan hangat dan berasa seperti keluarga atau sahabatnya sendiri.

“Kau ingat itu?” tanya aku kecil.

“Aku ingat sobat kecil, kau memang ndemenakake,” jawabku sambil mengusap rambutnya yang lebat itu.

Aku juga kembali mengingat ketika ada pedagang asongan yang menawarkan mainan. “Sayang anak, sayang anak,” begitu asongan itu menawarkan dagangannya. Bapak begitu antusias melihat aku gembira mempunyai mainan baru.

“Seneng le?” tanya bapak kala itu.

“Nggeh Pak,” jawabku.

Bapak kemudian menawar kepada asongan itu dengan harga yang lebih murah. Ketika sudah sepakat, pedagang asongan itu memberikan kembaliannya. Aku memegang riang mainan itu. Entah sekarang berada dimana.

Aku menjadi teringat perjalanan waktu itu. Ketika semuanya berlalu seperti bayangan bangunan yang tersambar dalam perjalanan melalui kaca. Begitu cepat dan cepat. Hingga beberapa tahun sudah tidak lagi bepergian jauh.

Aku mengenang masa itu seperti sebuah imajinasi. Tergoyang dalam pelukan selimut di kursi-kursi yang dingin. Perasaanku membeku dan mengembun. Bahkan kelopakku mengalir air embun itu dan membasahi pipi. Seperti hujan.

Dingin, embun, hujan, dan laju bus adalah romantisme perjalanan yang begitu indah. Terlebih berpadu kenangan yang bertahan dalam ruang imajinasi. Mengisi otak yang dipenuhi memori-memori masa lalu yang berkesan.

“Sobat kecil, aku boleh bertanya?” tanyaku diujung perjumpaan itu.

“Boleh,” jawabnya riang.

“Bolehkah aku menjadi dirimu lagi?”

Batang, 18 Januari 2018
Perjalanan menuju Bogor

Advertisements