Aku mulai gila. Terlampau gila untuk memikirkan satu barang yang hilang. Aku sudah mencoba menelusurinya, tidak berbekas. Kegilaan yang tidak seharusnya dan aku tidak mau menjadi gila. Hanya untuk satu barang saja.

Terakhir aku mencarinya di dalam katalog. Tetapi rak-rak penuh buku itu tetap diam, tidak berbicara tentang keberadaannya. Rumah sudah habis aku jelajahi. Sudut-sudut rumah yang jarang tersentuh menjadi tersentuh karena hal ini. Buku itu hilang, moksa.

Aku harus segera melepas beban pikiran ini. Lama kelamaan aku bisa menjadi gila. Buku ternyata seperti sabu yang menawarkan candu. Setidaknya membuat aku menjadi ketergantungan padanya. Aku harus rehabilitasi.

Kejenuhan dalam otakku segera harus dihilangkan. Aku segera mengemas beberapa benda yang penting. Handphone dan chargernya, beberapa buku baru, buku catatanku, dan tentu saja dompet. Aku menaruhnya dalam tas selempang. Memastikan semuanya aman dan pergi dari rumah penuh buku.

Daun pintu rumah itu aku tutup kembali. Tidak lupa aku kunci dengan rapat. Agar aku dapat tenang dalam perjalanan. Melindungi rak-rak yang sudah aku susun rapi. Mengharap tidak lagi aku jumpai buku koleksiku menghilang secara misterius. Aku kunci pintu itu.

Aku menuruni anak tangga yang langsung menjorok pada pedestrian. Langsung langkahku tegap menjauh dari rumah. Mengharap kesembuhan dari gila kambuhan. Sedikit merehabilitasi pikiran dari candu buku yang sedang meracuni urat saraf.

Pedestrian itu lebar. Memanjakan kaki untuk berjalan dengan nyaman. Dengan jarak yang pasti, setiap beberapa meter terdapat pot-pot yang berisi pohon. Pohon yang menjadi perindang dan menyejukkan. Menjadi penahan sinar matahari yang menyengat.

Langkahku terhenti pada batas pedestrian dengan jalanan. Jalan yang memisahkan antara komplek satu ke komplek lainnya. Cukup ramai jalanan yang dipenuhi mobil itu. Beberapa diantaranya menggunakan sepeda roda dua tanpa mesin. Begitu tertib, bahkan ketika lampu trafict light menyala merah. Mereka berhenti.

Aku menyeberangi jalanan yang ramai itu tadi. Mobil berhenti, begitu juga sepeda. Tepat di zebracross aku melangkahkan kaki. Tidak ada kendaraan yang berhenti melewati garis putih itu. Semuanya tertib. Aku sendiri kagum dan bangga pada kotaku. Setelah nyala menjadi hijau, mereka mulai bergerak kembali. Termasuk aku.

Aku menyusuri kembali pedestrian yang sama seperti depan rumah. Hanya saja, di komplek ini sudah tidak lagi ada rumah. Beberapa komplek diatur sebagai hunian, komplek ini adalah pertokoan. Sehingga aku melalui pedestrian yang menampilkan wajah berbeda dari komplekku.

Di komplek ini, terdapat berbagai macam toko. Mencari apapun yang tengah menjadi kebutuhan akan sangat mudah di komplek ini. Tentu saja dengan membayarnya di kasir sesuai benda kebutuhan itu. Toko buku, toko daging, toko pakaian, toko makanan, dan berbagai toko lainnya. Aku bisa menemukan apapun di komplek ini.

Aku putuskan untuk memasuki salah satu toko di komplek itu. Toko yang sedang aku butuhkan sekarang. Saat ini aku sedang terjangkit racun gila kambuhan. Aku hampir saja menjadi zombie yang memakan kertas seisi rumah. Aku putuskan untuk keluar rumah dan melakukan rehabilitasi dari candu mematikan itu. Do tempat ini.

“Bung, ku dengar kamu punya koleksi terbaru?” tanyaku pada seseorang di balik meja bar.

Aku mulai bercakap pada seseorang yang berdiri di balik meja bar. Pria yang masih muda dengan rambut ikal sebahu. Keserasian warna hitam rambut dengan topi membuat dirinya berbeda. Topi mirip koboi itu berwarna coklat kulit, ia tampak seperti pria dewasa yang sering menjadi aktor film koboi di Texas.

“Kamu sedang membutuhkan obat Tuan? Ada varietas terbaru untuk penyakit kambuhan,” jawab pria itu.

“Aku perlu obat sebelum jasadku menjadi zombie! Cepat berikan obat itu!” hardikku dengan wajah yang serius.

“Sepertinya jika kamu kambuh menjadi zombie disini, aku pastikan akan mati Tuan!” dia membalasku dengan culas.

“Aku tidak mau main-main dengan ancamanku! Bung!” nadaku meninggi karena balasan yang tidak sopan itu.

“Sepertinya kamu kian Gila,” ungkapnya

“Ya aku Gila!”

25 Januari 2018

Advertisements