Menapaki pedestrian yang lebar cukup untuk memanjakan kaki agar melangkah kemanapun. Pedestrian itu benar-benar luas, tidak ada yang menghalangi. Kecuali di pinggir pedestrian, sebagai pembatas dengan jalan raya, terdapat beberapa pot-pot besar dengan pohon yang cukup rindang daunnya. Kondisi ini menyebabkan kian nyamannya ketika berjalan, tidak begitu panas saat terik mentari menyentuh bumi.

Bangunan di sisi kanan, rata-rata tinggi menjulang. Aku memastikan tinggi paling minimal yaitu empat lantai. Tertinggi hingga tujuh lantai. Benar-benar ketika ingin melihat garis horizon bangunan, harus menengadahkan kepala. Di leher, itu membuat sedikit menjengkelkan.

Aku menyaksikan sendiri, kebanyakan dari bangunan di kota ini memang telah lama terbangun seperti yang aku lihat sekarang. Aku yakin ini sudah generasi ketiga yang meninggali bangunan tua itu. Cukup tua bukan? Bisa diukur sudah lebih dari satu abad. Tetapi bangunan itu masih cukup kokoh menghadapi terpaan hujan panas dan silih bergantinya musim.

Sudah tiada lagi, kopi yang tersaji di atas meja toko kopi. Tidak banyak aku dapatkan dalam penjelajahan di meja itu. Aku sudah mengubah pemikiranku saat ini. Berkat kopi itulah aku merasa lebih mendingan daripada beberapa jam yang lalu. Aku berhasil menyingkirkan pikiran tentang buku tua yang moksa.

Kecupan Lintong masih terasa di tenggorokan, artinya belum lama aku tinggalkan kedai kopi pria bertopi coklat. Aku tandai di jam, memang baru beberapa hitungan menit yang lalu membayar Lintong kepada pemilik toko itu. Sesudahnya aku keluar dan berjalan pulang, menyusuri kembali pedestrian yang begitu nyaman.

Aku harus kembali mengagumi kotaku, bukan milikku, tetapi serasa aku juga memilikinya. Hal sama yang dirasakan oleh manusia penghuni kota. Implikasinya jelas, kota ini menjadi begitu rapi dijaga oleh penduduknya, karena rasa memiliki itu. Bukan kota yang dimiliki oleh seorang pemimpin administratif, yang bisa bertindak sesuka hatinya.

Pedestrian itu menjadi tempat lalu lalang banyak orang. Mereka cenderung senang berjalan daripada menggunakan kendaraan pribadi. Alasan mereka, rasa sayang kepada lingkungan kota. Mereka adalah pemilik kota yang ingin kotanya lebih manusiawi dengan sewajarnya. Hanya angkutan umum yang hilir mudik di jalanan, beberapa sebagian kecil saja yang mengendarai kendaraan pribadi.

Aku tinggal di salah satu komplek yang diperuntukkan sebagai hunian. Bangunan rumah seperti pada umumnya yang dijumpai di kota ini. Tinggi menjulang. Terdapat empat lantai, begitulah keadaan fisik tempat tinggalku. Begitu besar untuk dihuni oleh aku seorang. Tetapi hal itu menjadi mendingan dengan buku-buku yang memenuhi lantai satu hingga empat.

Seperti bangunan yang lain, tempat tinggalku juga memiliki arsitektur tua. Aku mendapatkannya karena warisan dari orang tuaku. Orang tuaku juga seorang kolektor buku. Sehingga tidak menjadi hal yang perlu dipertanyakan, tempat tinggalku seperti rumah buku. Aku mendapatkan banyak warisan buku dari mendiang kedua orang tuaku.

Buku adalah salah satu arti hidup bagi kami. Aku tidak paham apakah kakek atau nenek ku juga merupakan pemburu buku. Orang tua ku sendiri tidak pernah menceritakan tentang kakek ataupun nenek. Mereka hanya menceritakan kisah cinta dan buku. Sehingga otak yang berkembang dalam diriku tidak dapat dipisahkan dengan buku.

Kecapan dari rasa Lintong masih terus membekas. Begitu lekat dalam kerongkongan. Rasa buah itu terus menghantui indera perasa. Endemik dari Sigararutang memang tidak bisa dikecohkan, buahnya benar-benar menjadi ciri khas. Pemilik toko kopi tadi merupakan seseorang yang paham tentang kopi dan pasiennya, tidak terkecuali aku.

Aku pernah mendengar Bung Topi Koboi Coklat bercerita tentang kopinya. Ia hanya mewarisi dari talenta orang tuanya. Hal yang sama seperti orang tuaku. Perbedaannya hanya pada obyek yang digeluti, Buku dan Kopi. Katanya, pertemuan mereka juga karena kopi. Bapaknya adalah penikmat kopi dan ibunya adalah anak pemilik ladang kopi.

Aku harus menegaskan bagaimanapun, orang tua mempunyai pengaruh pada pendidikan dan karakter anaknya. Mengutip sebuah peribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Baik itu karena pengaruh gen ataupun harus melalui proses belajar, tetapi jelas anak tidak dipisahkan dari orang tuanya. Sehingga perlulah menjadi orang tua yang paham anaknya sehingga dapat mengembangkan anak secara maksimal.

Kota ini memang menarik. Aku punya hipotesa bahwa sebagian besar penduduk kota ini memiliki hal istimewa itu. Seperti yang terjadi kepada diriku ataupun kepada pemilik toko kopi. Akan banyak hal yang diwarisi anaknya atas kerja keras dan profesi orang tuanya. Sejelasnya, kota ini menyibakkan rahasia warisan yang dihargai dan dihormati oleh generasi berikutnya. Bahkan mungkin inilah cara agar kota kami tetap menjadi kota yang tepat untuk ditinggali.

Hari mulai sore, bayangan bangunan tampak lebih panjang daripada aslinya. Di seberang jalan aku lihat cakrawala itu mulai berubah warna. Mentari sebentar lagi akan memulai seremonial perpisahan dengan daratan ini. Bangunan yang tinggi itu, rata-rata berlantai empat hingga enam menjadi indah menghiasi cakrawala. Seperti grafik yang menghiasi kanvas langit jingga. Siluet itu menjadi kian menghitam. Mentari bersiap tidur untuk bangun di esok hari.

Gelap datang, bias cahaya fana dari lampu-lampu kota menjadi pengganti mentari. Bulan sudah tidak lagi efisien menerangi kehidupan manusia yang semakin kompleks. Kota menjadi benderang, kehidupan berjalan dengan tenang. Tidak banyak kebisingan hanya beberapa pojokan kota dengan musik yang sedang dihelat. Membangunkan kehidupan kedua manusia, kehidupan malam. Dan aku, menjadi penikmat di sudut kota sambil duduk membaca buku karya Tolkien.

Advertisements