Menjelajahi sudut buku adalah perjalan terbaik. Tidak perlu jauh-jauh bertualang, cukup membaca dan jendela petualangan itu terbuka. Tetapi hanya dapat merasakannya saja, jika perlu praktik maka bertualanglah ke alam. Tetapi buku adalah kunci terbaik untuk membuka wawasan, buku apapun itu menurutku.

Sebuah buku akan membawa kepada pesan yang disampaikan oleh penulisnya. Aku yakin setiap penulis sengaja menulis dengan maksud tertentu. Minimal ide dari gagasan penulis akan meracuni pikiran dan membuat ide itu terdistribusikan ke orang lain. Pesan itulah yang baik untuk diambil hikmahnya, terutama untuk diri sendiri. Pesan sebuah buku.

Malam ini, di sudut kota aku menikmati karya Tolkien. Salah satu karya terbaik yang juga dilayarlebarkan dengan baik. Buku ini terdiri dari tiga jilid. Berkisah tentang cincin yang dalam masalah kepemilikan hak. Masalahnya hanya dipantik oleh sebuah cincin, tetapi ceritanya bisa sepanjang ribuan mil. Memang, hanya beberapa orang saja yang memiliki keahlian seperti itu, bahkan sampai dengan menyiptakan bahasa sendiri, bahasa peri.

Buku yang aku baca kali ini adalah jilid terakhir dari trilogi Penguasa Cincin. Salah satu buku yang menjadi koleksi rumah. Bukan aku yang membelinya, aku dapatkan dari koleksi orang tuaku. Sampul buku ini pun sudah tidak begitu baik dan terkesan agak kuno. Tetapi tidak setua dengan buku yang menghilang beberapa saat yang lalu.

Memikirkan buku mengembalikan pikiranku tentang sebuah buku yang hilang begitu saja. Salah satu koleksi langka di rumah, tinggalan dari kedua orang tuaku. Aku masih tidak habis pikir tentang kata hilang. Berbagai pertanyaan memenuhi benak dan tidak bisa terjawab dengan baik. Hanya menjadi sekian misteri yang tidak pernah menemukan jawabannya.

Aku sedang membaca karya Tolkien di sudut kota. Kota yang benar-benar dimiliki oleh segenap lapisan penduduknya. Bahkan ketika malam menggantikan siang, kehidupan manusia tidak usai. Kota yang nyaman akan selalu menemukan penduduknya tanpa harus membutuhkan sales penjualan. Begitu pula malam ini, di sudut kota.

Sudut kota ini aku dapat melihat beberapa tempat sekaligus. Berada persis di pojokan kompleks yang dapat melihat secara luas. Dari tempat ku aku memandang panggung kecil yang sedang menghelat musik jazz. Panggung itu memang disediakan oleh pemerintah untuk mengapresiasi karya musik penduduk kota. Kelompok yang tampil pun merupakan warga lokal yang dijadwalkan untuk mengisi malam agar kota meriah.

Selain itu, aku juga dapat melihat Taman Kota atau bisa disebut sebagai Hutan Kota. Lokasinya tepat berada di samping panggung tadi, Tidak jauh, berjalan kaki saja sudah memasuki rimbunnya pepohonan di tengah kota. Beberapa lampu hias menerangi kegelapan di tengah hutan. Menjadikannya sebuah wahana teromantis di kota, saat rembulan datang menggantikan mentari.

Dari sudut ini, aku juga dapat melihat riuhnya warga kota yang meramaikan cafe-cafe di pinggir jalan. Hampir sama dengan ku, meski dengan suasana yang berbeda. Lalu lalang itu mengisi malam di tengah kota. Aku sendiri memilih cafe yang paling sepi sehingga proses membacaku lebih fokus. Bukan tidak laku, tetapi memang cafe ini menjamin suasana yang begitu tenang dengan konsepnya.

Hilangnya buku itu seperti cerita hilangnya cincin utama setelah perang yang berkecamuk di Dunia Tengah. Aku berharap, buku itu ditemukan oleh Gollum, dan akulah Hobbitnya. Meski harapanku ini termasuk cerita fiktif, tetapi sekali lagi aku berharap itu dapat dikabulkan. Buku itu adalah salah satu buku tua yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja.

Aku tidak begitu paham ada orang iseng dengan buku itu. Paket yang alamatnya tidak ditemukan di seluruh dunia. Bahkan sebelum dikirimkan, buku itu sempat hilang juga, meski kemudian ada tamu istimewa mengembalikannya. Tetapi kali ini aku tidak berharap banyak dengan keistimewaan, aku sudah sedikit mengiklaskannya.

Tolkien merupakan salah satu penulis yang berhasil menciptakan dunianya sendiri. Membaca karyanya seperti menyelami dunia dengan dimensi yang berbeda. Bahkan dunia karya Tolkien merupakan salah satu yang tercipta dengan baik. Meski juga banyak penulis serupa, tetapi menurutku aku begitu tertarik dengan dunia fiktif yang diciptakan oleh Tolkien sebagai setting ceritanya.

Tentang bangsa-bangsa yang diciptakannya, Tolkien memang pandai untuk membuat karakter yang begitu khas. Kurcaci, Hobbit, Manusia, Peri, Penyihir, dan makhluk mitologi lainnya menjadi sebuah perpaduan yang menarik. Konflik yang dirangkai pun menjadi sebuah daya tawar sendiri bagi alur cerita Tolkien. Bagaimana konflik itu bermula dan lain sebagainya.

“Menarik ya karya Tolkien?” sebuah suara tiba-tiba muncul dan membuat aku terkejut bukan kepalang. Kosentrasiku berhamburan.

Aku mencari sumber suara, Menengadahkan kepala dan di kursi depanku muncul seseorang yang mempunyai rambut begitu panjang. Parasnya seperti peri dalam karya Tolkien, menurutku. Ia cantik, sehingga konsentrasiku tambah tidak karuan.

“I…. iya, karya ini merupakan terbaik dari Tolkien,” jawabku dengan terbata-bata.

“Aku juga penggemar buku, di rumahku banyak sekali buku-buku,” ungkapnya kepadaku.

Aku masih tidak tahu siapakah wanita yang tiba-tiba muncul di depanku. Menduduki kursi yang semulanya kosong. Ia memiliki mata yang sedikit sipit, terindikasi ada gen Tiongkok di darahnya. Rambutnya terurai panjang, begitu indah. Bahkan senyumannya, Aku tidak tahan memandang ia dengan tempo yang lama.

“Oh iya? Apakah jauh rumahmu dari sini?” tanyaku sekedar basa basi.

“Apakah itu penting bagimu? Rumahku begitu jauh, tidak pernah dapat ditemukan tanpa aku yang memberi tahu.”

“Kau begitu misteri bagiku, bagaimana tiba-tiba muncul dihadapanku?”

“Sederhana saja bukan? Aku jalan-jalan dan menemukanmu yang tengah larut dalam karya Tolkien. Bukankah itu hal yang teramat wajar?”

Aku tidak dapat menolak pendapatnya kali ini. Ia menjawab dengan baik setiap pertanyaan misteri yang aku tanyakan. Ia bahkan dapat membalikkan pertanyaan yang aku berikan. Sepertinya ia cerdas, aku sendiri tidak berkutik ketika sebuah pertanyaan sederhana terlempar dari mulutnya.

“Kenapa nona berparas cantik ini jalan-jalan di malam hari?”

“Aku hanya penikmat malam, wajar saja aku berjalan di tengah malam, melihat kota dan bintang gemintang, atau jika ada rembulan yang juga berparas cantik.”

“Kali ini kau sedang menikmati malam yang seperti apa nona?”

“Malam ini begitu misteri bagiku, tidak biasanya aku menemukan seorang pria dengan buku di sebuah cafe begitu fokusnya. Bahkan dunia yang sedang ingar bingar malam ini pun kalah dengan sebuah buku.”

“Wajar saja nona, buku ini lebih menarik daripada dunia sekelilingku saat ini.”

“Begitu pula aku?”

Aku terkejut ia melemparkan begitu saja pertanyaan itu. Begitu sederhana, tetapi aku sendiri harus memutar otak untuk menjawabnya. Sedang tidak ada kunci jawaban yang bisa membantu menjawabnya kali ini. Aku kebingungan untuk mencari jawaban yang tepat dalam pertanyaan sederhana itu.

“Mungkin iya, karena aku tadinya tidak menyadari kehadiranmu.”

Begitulah aku menjawabnya dengan kata ‘mungkin’ di depannya. Karena aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Ia benar-benar datang tanpa mengusik konsentrasiku dan tiba-tiba menyapa saja. Artinya benar, ia tidak lebih menarik daripada buku Tolkien sebelum ia menghancurkan konsentrasiku.

“Kamu tidak tertarik dengan buku koleksi rumahku?” tanyanya kepadaku setelah senyap yang melanda jarak diantara ia dan aku.

“Untuk menuju rumahmu saja aku tidak tahu, bagaimana aku akan tertarik?” aku ganti yang melemparkan tanya sederhana kepadanya.

“Aku punya buku menarik, jika kamu mau tahu. Aku dapat kiriman paket dari seseorang yang tidak aku kenal beberapa hari lalu.”

 

Advertisements