Malam memang menjadi tempat terindah untuk menikmati alam. Mengapa demikian? Aku punya alasan kuatnya. Karena dibalik gelap dan hitam yang cenderung mempunyai nilai negatif aku menemukan permata yang indah, yaitu rembulan dan bintang. Pijarannya merupakan hal yang terindah jika dapat disaksikan dengan mata telanjang.

Berbeda dengan keadaan di tengah kota yang begitu terang dengan cahaya fana. Pijaran lampu-lampu itu menjadikan mata tidak begitu leluasa memandang bintang yang seharusnya lebih indah. Atau rembulan yang lebih terang untuk sekedar menjadi penunjuk jalan di kegelapan. Tetapi kehidupan kota yang begitu kompleks memang mengharuskan alam pun berubah. Lampu-lampu yang lebih terang diciptakan.

Aku menggarisbawahi tentang sebuah malam di sebuah kota. Lampu-lampu itu memberikan kesan tersendiri bagi kota tersebut. Menjadi daya tarik yang begitu asik. Menerangi malam yang seharusnya gelap menjadi lebih terang. Menunjang perhelatan yang sedang digelar, seperti di salah satu sudut kota.

Kota berhias diri ketika mentari mulai pudar di ujung cakrawala. Ketika mentari melambaikan tanda perpisahan, pijaran lampu perkotaan ganti yang menyapa warga. Menerangi segala hiruk pikuk yang terjadi dengan biasa. Seperti malam-malam sebelumnya, dengan aktivitas yang aku jamin begitu monoton.

Kali ini aku bertemu dengan wanita yang menjelajahi malam. Ia katanya suka dengan malam yang menggantikan siang. Entah berasal dari mana, tiba-tiba saja mengagetkanku dengan pujiannya. Rumahnya ia katakan juga ada banyak koleksi buku. Aku tidak begitu paham darimana dirinya berasal, tetapi begitulah ia menceritakan dirinya di hadapanku.

“Buku itu tiba-tiba datang saja dengan bungkusan yang menarik. Tadinya aku tidak akan membawanya turut serta malam ini. Tetapi karena keterpaksaan aku akhirnya membawanya. Kamu mau lihat?” tanyanya kepadaku.

Sekarang, aku yang dikelilingi isyarat tanda tanya yang begitu besar. Rasa penasaranku menjadi terpantik untuk hadir. Aku merasakan ada getaran misterius lagi dengan perjumpaan ini. Setidaknya jika tidak tentang buku adalah tentang jodoh. Siapa tahu wanita depan ini suka terhadapku.

“Aku mau lihat boleh?” tanya balik dariku kepadanya.

Ia menatapku dengan begitu tajam. Sempat pandangan kita beradu tetapi kemudian aku palingkan dari pupil matanya. Tetapi ia tetap memandangiku dengan rasa yang aneh, sukakah dia kepadaku?

“Seberapa aku dapat percaya kepadamu tuan?” tanya wanita itu kemudian.

“Seberapa percaya kamu menganggu konsentrasiku terharap karya Tolkien?”

“Baiklah kalau begitu, aku percaya kepadamu.”

Ia ternyata membawa sebuah tas yang diletakkan di bawah kursinya. Ia harus menunduk untuk meraihnya dan kemudian membuka resleting tas itu. Di dalam tas itulah ia membawa buku yang diterima dari sebuah paket misterius beberapa hari lalu. Aku sendiri hanya menanti wanita itu mengeluarkan buku dari tasnya ke meja.

“Aku harus hati-hati mengeluarkannya, pertama karena berat dan kedua karena tua. Aku tidak tahu kenapa buku ini sampai di rumahku.”

Beberapa detik berselang, sebuah buku yang memiliki judul mengguncang dada itu ada di atas meja. Aku sendiri tidak dapat berpaling dari buku misterius milik seorang wanita di depanku. Ia memilikinya beberapa hari lalu melalui sebuah paket misterius. Aku tidak begitu ambil pusing dengan banyaknya kata misterius, karena kejadian ini benar-benar misterius.

Buku itu adalah koleksi tua yang langka. Tercetak hanya beberapa ekslempar di seluruh dunia. Ia punya baru beberapa hari lalu, artinya dari ekslempar yang pernah terlahir di dunia ini ada yang hilang atau terbeli dan sampailah ke alamat rumah penuh buku milik wanita itu. Buku itu benar tua sehingga ia tidak mungkin mendapatkannya kemarin jika tidak melalui ada sebab tertentu, dia beli atau sesuatu hal.

“Tuan, apakah kamu tercengang? Aku setidaknya bisa memahami bahasa tubuhmu melihat buku baruku,” wanita itu menggodaku dengan sebuah tanya.

Aku masih diam. Mengabaikan segala yang ditanyakan atau dibicarakan oleh lawan jenis di depanku. Aku terpukau dengan buku yang kini tergeletak begitu saja di atas meja. Aku mencoba mengamati dengan mencermati buku koleksi itu, apakah itu salah satu koleksiku? Setidaknya ada tanda khusus yang dibubuhkan oleh orang tuaku dulu.

“Heh Tuan!” wanita itu kembali memanggilku.

Aku masih tidak mau bicara. Aku mengabaikannya begitu saja. Rasa acuhku menyelimuti suasana, lebih dari itu aku merasa aneh dengan kehadiran manusia satu ini di hadapanku.

“Kamu ini manusia apa patung?” tanya wanita itu lagi kepadaku.

Seseorang yang hadir secara misterius dengan cara-cara yang mengagetkan itu kembali mengajukan pertanyaan. Aku sendiri masih diselimuti ego untuk tidak menjawabnya. Tatapan mataku terjatuh pada buku tua yang tergeletak di atas meja. Buku yang dikeluarkan oleh wanita itu dari tasnya.

“Kalau begitu, aku pamit undur diri,” wanita itu menyerah dengan pendirianku.

Setelah mengucapkan kata pamit itu, tangannya meraih buku tua yang berat itu. Ia mencoba mengusik ketenangan buku yang telah ada di atas meja. Aku dengan gerak cepat menyentuh tangan wanita itu agar tidak mengambil buku tua yang tercetak terbatas. Aku menyentuh tangan wanita itu.

Pandangan mataku kini berubah. Ku sadari tanganku meraih tangan wanita yang tidak aku kenal itu. Aku berharap menyingkirkan tangan itu dari buku tua tetapi justru pandangan kita beradu. Aku tidak tahu kenapa semua ini cepat terjadi. Tetapi kini aku menatap kelopak mata wanita itu yang begitu sayu dan lembut.

“Tenang…. tenang nona. Bukan maksud aku,” aku mengawali permintaan maafku.

Wanita itu kemudian menarik tangannya dari genggamanku. Dia sedikit tersipu dan langkah selanjutnya menundukkan wajahnya. Kini gantian dirinya yang bakalan tidak mau menjawab segala pertanyaan dan permintaan maafku. Mungkin.

“Boleh aku pegang dulu buku tua itu? Aku begitu mengangankan untuk mempunyai koleksi langka itu,” aku mencoba merubah keadaan dengan menepis egoku yang tadi sempat hadir.

Wanita itu justru terdiam seribu bahasa. Entah apa yang ada dipikirannya. Aku berusaha menebak tetapi tidak bisa menerka apapun juga. Wanita itu kini benar-benar gantian yang tidak menggubris ucapanku.

“Maaf nona……,” aku kembali merayunya agar memaafkan tingkah konyolku tadi.

Wanita itu kembali tidak membuka bibirnya. Aku melihat ada warna yang berubah dari wajahnya. Ia sepertinya setengah malu. Wanita itu memilih untuk menjadi aku beberapa waktu lalu. Kita seperti bertukar peran. Dan pada akhirnya, kini aku yang bingung. Siapakah yang akan mengakhiri drama ini.

Malam seperti berhenti bergerak. Bintang yang bertengger di angkasa tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan kumpulan awan yang berarak itu, terdiam. Sunyi menjadi micin yang membuat semuanya mendukung semesta terdiam tak bergerak. Aku menengadah, berharap bintang itu ada yang bergerak melesat dan aku akan mengajukan permintaan: hentikan semua ini segera.

Advertisements