(#BukuUntuk2018)

Selesai baca buku ke-1
99 untuk Tuhanku – Emha Ainun Nadjib
Bantang, Yogyakarta (201)
112 halaman
Lama baca : 3 Desember 2017 – 11 Januari 2018

Kali ini sudah sekian dari buku yang mempunyai latar sastra dan puisi sehingga ini bukan buku pertama dengan tema tersebut. Tetapi, proses untuk mendapatkan buku ini memang bukan melalui pembelian, bukan pula atas jasa pertanyaan forum. Tetapi karena menjadi 100 peserta pertama dalam sebuah seminar di UIN Sunan Kalijaga.

Ini juga bukan karya Emha pertama yang terbaca, meski saya akui koleksi karya beliau masih dapat dihitung jari di rumah. Buku ini benar terdiri atas 99 puisi yang bertemakan Ketuhanan. Judul buku memang menjadi representatif isi dari buku itu. Saya mempunyai riwayat sebagai pengagum syair yang dibawakan oleh Emha dalam sebuah rekaman kaset tape. Hal ini menjadi sebab, saya bisa menggambarkan bagaimana Cak Nun membacakan puisi 99 untuk Tuhanku itu.

Pesan dari puisi di buku ini pantas sebagai instropeksi diri. Bagaimana diri kita menempatkan secara baik kepada Yang Menciptakan kita. Emha sering kali mengoreksi tentang kepribadian umum manusia di dalam puisinya itu. Perlu kiranya agar menyempatkan membaca dan menelaah pesan dalam setiap bait puisinya Emha. Toko buku sekiranya masih menyediakan stock yang cukup.

“Tuhanku,
Kukira telah tiba saatnya,
Kau musnahkan segenap setan,
Sebab kami telah pandai,
Menciptakan setan-setan,
Di dalam diri kami,
Tanpa bantuan para setan.”

Advertisements