Malam selalu menjadi misteri, tentang segalanya di dunia disembunyikan dalam pekatnya gelap. Cahaya yang berpendar begitu sedikit menjadi hal pendukung yang begitu menguntungkan. Tetapi, malam adalah keindahan, dimana hal yang disembunyikan dari keramaian akan ditemukan dalam kedamaian. Seperti bintang yang kalah dengan polusi cahaya, ia akan begitu berkuasa ketika berada di kedamaian pegunungan atau tepian daratan.

Malam bukan hal yang menakutkan, ia ada karena persahabatan kepada manusia. Ia adalah waktu yang paling memahami karakter manusia setelah seharian bekerja. Malam adalah bentuk kedamaian versi lain. Wajar jika malam juga tidak dapat menghadirkan kedamaian karena riuhnya kota dengan dunia malamnya. Tetapi, malam tetap menjadi hal yang mempesona meski di tengah kota.

Aku masih duduk manis di sebuah cafe sudut kota. Dari sisiku duduk, setidaknya sekarang aku bisa menandai perhelatan musik di panggung sudut taman kota itu telah hampir usai. Beberapa lagu yang dibawakannya sempat menghiasi layar dunia maya. Mereka dengan percaya diri, membuat manajemen sendiri tanpa terikat dengan pihak-pihak lain. Hobi mereka memang berfilsafat tinggi, bermusik.

Di depanku, wanita yang beberapa saat lalu datang dengan tiba-tiba masih setia menemani. Wanita yang datang dengan segenap rahasia. Aku belum mengorek lebih dalam wanita yang kini menemani duduk ku menikmati malam. Tetapi, aku merasakan ada sesuatu dari kehadirannya ke tempat ini, tempat dimana aku hampir menghabiskan waktu malam dengan membaca dan menikmati suasana.

Di sudut lain, sebuah buku yang memiliki nilai historis yang panjang mengusik ketenanganku. Beberapa saat yang lalu, suasana membeku dan efeknya hingga kini, senyap yang lembab. Aku maupu wanita yang hadir tiba-tiba tidak berucap satu katapun. Mulut kami terkunci oleh semesta yang memang sedang mengusik jiwa-jiwa kami. Hening tapi diam-diam membunuh dalam kedinginan.

Aku tidak bisa memberikan suasana yang kian berlarut-larut. Wanita itu memang misterius, tetapi aku tetap harus memberikan pengertian.

“Buku ini menurut catatan dari orang tuaku adalah salah satu buku yang memiliki keistimewaan. Aku teramat sangat ingin tahu buku tua ini,” aku memulai agar suasana kembali mencair.

Aku memiliki harapan agar suasana canggung ini berakhir, menyudahi perang dingin antara aku dengan wanita misterius itu. Bagaimanapun memang harus aku yang bergerak untuk mencairkan keadaan, bukan wanita itu. Aku memiliki beban moral untuk hal itu. Suasana tidak menentu ini harus diakhiri. Tidak mungkin juga, aku akan bermalam di kafe ini dengan wanita yang datang tiba-tiba di depanku.

“Kau tahu tentang buku ini?” tanya wanita itu.

“Sedikit aku tahu, tidak terlalu banyak,” jawabku sewajarnya. “Apakah nona juga tahu tentang buku tua ini?” Aku memberikan pertanyaan balik kepadanya.

Ia sedikit ragu ketika akan menjawab pertanyaanku. Terlalu memberikan jeda yang cukup lama untuk kemudian memberikan jawabannya. Entah, aku tidak memikirkan apa yang menjadi kegelisahannya.

“Yang aku tahu tentang buku misterius ini tidak lebih dari Tuan,” jawabannya begitu merendah.

“Aku bukan orang yang tepat untuk bertanya tentang buku ini nona. Ada banyak sastrawan ataupun filosof yang mampu menjadi narasumber yang baik untuk literasi buku tua ini.”

Aku memang tidak tahu tentang buku itu lebih jauh. Jika harus membandingkan diri dengan yang pernah membaca atau yang memiliki disiplin ilmu yang sama dengan aliran buku itu. Maka, mereka jauh lebih paham daripada aku.

“Tidak!” wanita itu menolak jawabanku yang seadanya dan senyatanya. “Aku mendapatkan pesan dari paket buku ini untuk menanyakan kepada Tuan. Artinya, penulis paket tersebut setidaknya memberikan referensi yang tepat kepada siapa aku menanyakan tentang buku ini.”

Ada yang mengganjal di kerongkonganku. Aku kehilangan susunan kata yang tepat untuk menjawab pernyataan tersebut. Ada rasa kaget yang menyelimutiku saat ini. Pikiranku berjalan entah kemana, aku seperti kehilangan setengah dari kesadaran. Ada yang melayang di atas kepalaku, hingga beberapa waktu lama aku tidak menemukan kata yang tepat sekedar untuk membela diri.

Kelu lidahku, belum pulih. Ia masih enggan untuk memberikan pernyataan ataupun pertanyaan. Tetapi, aku sudah kembali ke posisi sadar, dimana pikiranku kembali menerawang tentang buku tua, paket dan orang misterius. Ada ruang di imajinasiku yang menggambarkan benang kusut antara obyek-obyek tersebut. Tetapi, aku belum menemukan kata yang tepat untuk kembali memulai perbincangan dengan wanita di depanku.

Aku tengah menyusun pertanyaan untuk wanita itu, “apa yang dituliskan dalam pesan itu nona?”.

“Temukan seorang pria lajang yang membaca buku di sebuah cafe. Pastikan posisi itu bisa melihat panggung musik dan taman kota, tanyakan buku ini kepadanya.”

Wanita itu menjawab dengan membaca sebuah kertas berukuran kecil. Pesan yang ditulis oleh pengirim paket buku tua. Setelah membacanya, ia menyerahkan kertas itu kepadaku. Tulisannya berbentuk huruf tegak bersambung, hampir tidak dapat dibaca seperti tulisan seorang dokter. Tetapi pesan dari kertas itu jelas menunjukkan tentang diriku.

“Adakah alamat pengirimnya nona?” tanyaku kepadanya.

Aku begitu penasaran terhadap pengirim paket itu kepada wanita di depanku. Pengirim pasti mengetahui kebiasaanku yang berada di meja ini untuk membaca buku. Pengirim itu mengamatiku dengan cermat. Mungkin ia juga tahu semuanya tentang diriku, bahkan kapan aku tidur, makan dan mandi.

“Tidak ada Tuan. Paket berisi buku ini tergeletak begitu saja di depan pintu rumahku.”

Wanita itu memberikan jawaban yang membuat semakin misteriusnya pengirim paket itu. Aku tidak mempunyai jawaban yang pas untuk menjawab semua kemungkinan yang ada. Semuanya itu berbalut misteri. Aku belum menemukan apapun yang dapat menyingkap semua misteri itu, buku tua, paket dan orang misterius.

“Kalau boleh tau, siapa namamu nona?” Aku benar-benar sedang tidak mau mengungkit buku tua dan misterinya itu.

“Namaku Asancaya, Tuan,” jawabnya kepadaku dengan cepat dan singkat.

“Hmmmmm…..,” aku bergumam, “Asancaya, nama yang indah. Aku tahu artinya, kalau tidak salah berkaitan dengan bunga. Benar demikian?”

“Asancaya, kumpulan bunga.”

“Aku sedikit salah, tetapi hampir benar.” Aku menderaikan tawa kemudian.

“Bagaimana dengan nama Tuan?”

“Namaku mempunyai arti hari dan sekaligus planet, coba tebak.”

Asancaya, nama wanita di depanku, berdiam diri. Memikirkan teka teki yang aku berikan tentang sebuah nama. Cukup lama hingga akhirnya ia angkat bicara.

“Saniscara, benar begitu?”

Aku sedikit kagum pada Asancaya, wanita ini memiliki kecerdasan yang tidak bisa dianggap remeh. Aku mungkin yang memberikan teka-teki cukup mudah. Ada kemungkinan yang lain. Tetapi semua itu mengarahkan bahwa Asancaya cerdas.

“Benar, Asan,” jawabku dengan riang. Aku menyunggingkan senyum agar suasana kembali mencair.

“San aja,” ia menangkis panggilan yang aku berikan.

“Nama panggilan kita sama, ‘San’,” aku kembali memberikan suasana yang menghangat.

Suasana kali ini menjadi cukup membuat senyum tersungging di bibir Asancaya. Begitu pula dengan bibirku yang menawarkan senyum dan sedikit tawa. Sepertinya pikiran aku dan Asancaya tentang buku tua dan paket misterius itu tersingkir. Asancaya pun tertarik untuk juga tertawa tipis meramaikan keadaan yang begitu hangat.

Malam yang semakin pekat dan dingin menjadi hangat ketika kedua mata kami saling bertatapan. Awalnya aku tidak berani menatap mata wanita misterius itu. Sejak awal ia datang dengan kesan yang begitu mistis. Tetapi akhirnya, tatapan kita beradu dan segala sesuatu tentang buku tua dan paket misterius itu hilang.

Advertisements