Malam semakin larut dan memiliki durasi yang begitu lama. Detikan pada jam terus saja bergerak dari angka satu ke angka berikutnya. Tetapi, malam menjelma menjadi masa yang memiliki durasi tidak terbatas. Menyisakan cerita yang layak untuk diceritakan dengan penuh penghayatan tentang hikayat panjang.

Berutung mereka yang mendiami kawasan di pegunungan ataupun tepi daratan. Malam yang semakin menghitam dan pekat memiliki keindahan yang tidak ternilai. Bintang yang berpijar dengan begitu banyak di angkasa menjadi daya tawar mata. Seperti tidak pernah jemu untuk sekedar mengdongak dan memperhatikan kerlip milyaran bintang.

Kota, sebuah kawasan yang malam begitu terang dengan pijaran lampunya. Tidak seperti desa di pegunungan dan pantai, kota tidak bisa melihat bintang dengan mata telanjang. Tapi gebyarnya malam di kota memberikan kesan tersendiri. Malam seperti tidak percaya diri di kota, karena kehadirannya tidak mengubah apapun, hanya waktu saja. Kehidupan malam di kota tidak kalah semarak dengan siang.

“Jadi, buku ini sebenarnya milikmu?” tanya wanita di depanku yang memiliki mata indah.

“Seperti yang sudah aku ceritakan tadi San, buku tua ini adalah koleksi langka kedua orang tuaku.”

Wanita itu, lawan jenisku yang memiliki mata begitu indah. Pupil matanya yang menari itu menggambarkan jelas watak dari wanita ini, periang. Meski malam sudah semakin dingin, darah dalam nadiku justru sebaliknya, kian hangat karena mata itu. Aku terhipnotis.

Aku menceritakan semuanya yang terjadi begitu cepat. Mulai dari kembalinya buku tua, paket dengan alamat yang tidak jelas, bertemu dengan orang misterius hingga kehadiran wanita yang kini berada di depanku. Semuanya memiliki benang merah. Meski masih belum jelas. Misteri masih tetap misteri.

“Menurutmu bagaimana San? Apakah ini direncanakan oleh pengirim paket itu?” tanyaku.

Asancaya diam.

“Pengirimnya kan kamu San,” Asancaya menjawab pertanyaanku dengan singkat.

Aku menyambut jawaban itu dengan derai tawa. Asancaya memang tipe yang suka bercanda, aku menangkap candaan itu dijawaban atas dua pertanyaanku tadi. Setelah melemparkan candaan, ia pun meneruskan derai tawa setelahku.

“Jangan-jangan kamu yang mencari alasan agar aku datang jauh-jauh ke tempat ini,” Asancaya menambahkan.

“Aku saja masih tidak tahu dimana rumahmu, bagaimana aku mengatur pertemuan ini?” aku mempertanyakan kesenjangan yang terjadi.

Asancaya kembali riuh dalam tawanya. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terlintas dalam imajinasinya. Tetapi yang begitu jelas, pikirannya tentu berbeda dengan apa yang aku pikirkan.

“Tetapi jelas kan, kita adalah obyek yang tengah digerakkan?” tanyaku kepada Asancaya.

“Tergantung dari dua hal San, kita digerakkan oleh obyek Yang Maha Ghaib atau Semi-Ghaib?”

“Maksudmu dengan Semi-Ghaib?”

“Makhluk misterius, orang misterius atau apapun yang berkaitan dengan kemisteriusan.”

“Kurasa, keduanya San. Mereka memiliki perannya masing-masing. Tetapi……..,” Aku memanjangkan kata tetapi tanpa henti dan kata berikutnya.

“Tetapi apa San?” Asancaya penasaran.

“Tetapi, aku masih terlalu yakin ini lebih karena pihak yang kamu kenalkan sebagai semi-ghaib mempunyai maksud tertentu.”

“Jadi, siapakah pihak itu San? Apakah kau punya analisis untuk menuduhkan kepada salah seorang pihak tertentu?”

Aku terdiam. Aku tidak berpikir sejauh itu. Setelah menghabiskan secangkir Lintong di kedai itu, aku sudah tidak ambil pusing untuk memikirkan buku tua dan kemisteriusan. Bukan akibat dari Lintong, lebih karena aku sudah menempatkan diri untuk pasrah tidak mau terlalu terbebani dengan masalah misterius.

Aku masih ingat dengan kata-kata pria bertopi coklat di kedai itu. Kadar kemisteriusan kasusku lebih besar daripada logika, jika terus terlelap dan tenggelam maka aku juga akan menjadi sekian makhluk misterius lainnya. Ia menambahkan bahwa dunia adalah sebuah logika, jika masalah tidak lagi masuk untuk dipikirkan lebih baik ditinggalkan.

“Begini Asancaya, masalah kali ini meski bukan masalah yang besar dan perlu untuk dibesar-besarkan, tetapi cukup berat untuk dipikirkan. Dunia ini penuh dengan misteri, tidak semua yang kamu duga akan ada jawabannya. Jika kamu terlalu berharap pada jawaban dunia, maka kamu akan menjadi salah satu makhluk misterius lainnya.”

Aku mencoba meyakinkan Asancaya.

“Tentang buku tua itu, ia adalah benda yang menggerakan kemisteriusan. Munculnya orang-orang misterius karena buku tua itu adalah hal yang wajar. Alasannya karena buku itu salah satu makhluk misterius. Misteri kenapa hanya dicetak hanya beberapa ekslempar saja di seluruh dunia, padahal salah satu buku yang banyak dicari oleh para pemikir, filosof, sastrawan ataupun mereka yang penasaran.”

Asancaya dengan begitu cepat langsung menimpali dengan sebuah pertanyaan.

“Jadi kamu mewajarkan buku tua mu ini hilang begitu saja? Karena ia misterius, banyak yang memburunya?”

Aku berpikir, Asancaya salah satu makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Ghaib dengan kecerdasan yang tinggi, Daya tangkap manusia lawan jenis di depanku ini tidak main-main. Ia langsung dapat menangkap maksud penjelasanku dan melemparkan pertanyaan sulit lainnya. Ini menjadi salah satu sekian misterinya.

“Kamu ini memang cerdas San,” pujiku untuk kemudian terdiam.

Asancaya pun terdiam. Ia tidak kembali menanyakan sesuatu hal dengan begitu rumit. Sepertinya imajinasinya tengah bermain dan menari, entah sedang mengimajinasikan apa. Asancaya tenggelam dalam pikirannya sendiri, sibuk sendiri, dan tidak kembali menanyakan hal aneh lagi.

“Malam sudah semakin larut, kamu akan pulang ke kotamu?” tanyaku.

Ia paham pertanyaan yang aku lontarkan, tetapi ia sengaja tidak menjawab.

Aku mulai mengemasi barang-barang yang masih berada di luar tasku. Merapikan kembali bawaan yang membebani punggung dan pundak. Ada beberapa buku, notebook, dan beberapa barang lain. Semuanya sudah kembali ke tempatnya semula, di tas.

“Aku akan pulang San,” aku memberitahukan agendaku selanjutnya. “Jika kamu mau, bisa menginap di rumahku.”

Tambahan kalimat dariku membuat Asancaya mendongakkan wajahnya yang semula tertunduk. Ada siratan penuh harap dari matanya yang berkilauan itu. Tetapi aku tidak tahu, ia mengharapkan apa. Mungkin, ia mengharapkan hal ini – apa yang aku tawarkan – terjadi. Sangatt mengharapkan.

“Santai saja, jangan ragu. Meski aku sendiri tidak tahu kota asalmu yang misteri itu, tetapi asumsiku, kota itu jauh dari sini.”

Asancaya tetap bergeming. Ia menatapku seakan-akan melihat malaikat turun.

“Terima kasih San, kamu terlalu baik untuk hal ini.”

Asancaya akhirnya mengucapkan sesuatu hal untuk tawaranku. Sesudahnya senyumnya merekah, wajahnya berseri. Aku melihatnya seperti rembulan yang baru saja terbit kembali setelah hujan turun. Atau mentari kala pertama kali menyapa bumi dengan sapaan hangat. Asancaya, ia seperti bunga di taman.

Advertisements