Matahari tidak pandang bulu menggelontorkan cahaya yang tanpa batas itu. Terlebih ketika posisinya tepat di atas kepala. Bisa pusing terpapar terlalu lama sinar itu. Tetapi, jika melihat kembali musim yang sedang menguasai bumi belahan selatan ini, pantas panas karena musim kemarau.

Banyak orang paling suka memilih untuk menggunakan mobil yang ber-AC. Panas menyebabkan mereka malas keluar ruangan. Begitu manja. Di perjalanan, AC memenuhi ruang mobil. Di ruang kerja, AC pun menjadi bahan bernafas. Itu karena saking panasnya.

Berbeda dengan aku. Di tengah ramainya mobil, jalanan menjadi lebih macet. Artinya mobilisasiku terhambat, aku harus menggunakan kendaraan yang lebih ringkas. Tidak mungkin juga berjalan atau bersepeda untuk jarak yang jauh, motor adalah pilihan tepat. Itulah aku.

Biarkan saja panas. Lebih singkat waktu itu lebih bermanfaat daripada waktu habis di jalan. Asalkan berjaket, memakai sarung tangan, dan menggunakan buff tentu efek panasnya jalanan bisa diminimalisir. Tetap saja panas, tetapi tidak begitu menyengat.

Aku telah menyelesaikan kuliah strata satu. Kebetulan aku pun telah mengantongi kursi di strata dua. Hari ini aku memang sengaja untuk mencari tesis dari alumni kampus. Aku mempunyai pandangan penting kiranya membaca beberapa tesis untuk mengarahkan mainset penelitian dan rancangan tesis ku sendiri. Meski bangku kuliah belum di mulai, masih menunggu sekitar satu setengah bulan lagi.

Perlu perjalanan yang lumayan lama dari rumah menuju kampus. Setidaknya di jam tanganku ketika berangkat menunjukkan angka 9.30 dan berakhir di parkiran kampus pada angka 10.00. Kondisi jalanan cukup padat meski hanya macet di persimpangan jalanan. Itu tidak masalah. Dengan sepeda motor, aku bisa lebih leluasa untuk framing kemacetan.

Aku tidak sendirian kali ini, ada salah seorang senior yang aku minta untuk menemani. Kebetulan dirinya juga mempunyai kepentingan yang berkaitan dengan akhir masa studi strata duanya. Kita memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda kiranya. Hanya saja, dia lebih senior dan tua daripada aku.

Aku terlebih dahulu sampai di kampus yang terletak di simpangan jalan itu. Memarkirkan motorku kemudian berjalan mencari tempat duduk yang nyaman. Tentu saja, lebih enakan duduk manis daripada berdiri menunggu. Tinggal menunggu waktu saja. Tidak begitu lama kemudian muncul tubuh besar dan perut yang sulit didefinisikan. Berjalan menghampiri dengan ketawa yang begitu khas.

“Wes suwe?” tanyanya.

“Durung mas, lagi wae semenit delehno bokong,” begitu jawabku.

Sedikit berbasa-basi kemudian. Tidak lama, beberapa saat saja. Hingga kita memutuskan untuk naik ke tangga menuju ruang perpustakaan.

Aku akan memperkenalkan senior ku sekarang. Dia diberikan nama yang bagus oleh kedua orang tuanya, Ahmad Marzuqi Al Ishomi. Aku memanggilnya Mas Ishom. Sebelumnya dia juga sealmamater di strata satu. Jadi jangan tanyakan dimana kami saling kenal.

Menaiki tangga dan berjalan di koridor model bangunan tua. Lantai dua itu, sebelah kanan langsung bertemu kantor kesekretariatan dan kirinya ruang sidang. Samping kantor, terdapat lorong luas yang menghubungkan dengan sisi bangunan lainnya. Berjalan lurus, di sebelah kiri ditemukan pintu masuk yang menampilkan lorong penuh pintu lainnya, pintu kelas kuliah dan pintu perpustakaan.

“Mas Ishom ngapain ke kampus?” tanya salah seorang yang duduk di kursi stenlis itu. Ada beberapa pria sedang berkelakar.

Mas Ishom tidak langsung menjawab, dia terlebih dahulu tertawa. “Dolan,” jawabnya singkat.

Jawaban itu mengundang derai tawa. Aku pun tertawa dibuatnya.

“Tesis aman Mas?” tanya seseorang yang lain.

“Ditunggu aja aku sidang,” jawab Mas Ishom gesit.

Jawaban itu juga mengundang tawa yang berderai beberapa pria berpakaian rapi itu. Sepertinya mereka karyawan. Aku juga tidak mencari tahu, siapa mereka. Tetapi, Mas Ishom begitu akrab dengan mereka.

Kami melanjutkan langkah yang tinggal menghitung mundur. Sebuah pintu mengantarkan aku kepada ruangan yang tidak begitu luas tetapi penuh dengan buku. Ada beberapa pengunjung yang sedang asyik membaca. Tidak begitu banyak, bisa dihitung jari, tetapi mereka tetap sebagai beberapa pengunjung bukan?

Ternyata, koleksi lengkap kumpulan tesis berada di jaringan komputer. Ada seorang pria – salah satu yang tadi berada di lorong – membantu mencarikannya. Ia memilih aplikasi browser dan memberitahu cara mencari tesis para alumni kampus. Tidak sulit. Aku memahaminya.

Jariku menari di antara barisan huruf di keyboard. Menuliskan sebuah kata kunci yang kiranya ada yang menuliskannya sebelumnya. Membahasnya dengan sudut yang lain mungkin. Atau bisa saja dapat kugunakan sebagai literatur tambahan dalam mengulas permasalahanku. Mencari dan terus mencari.

Hampir terasa dua jam berada di kuasa ruangan yang penuh buku. Meski luasnya tidak seberapa, masih kalah jauh dengan perpustakaan strata satu. Meski demikian, ruangan ini benar-benar dipenuhi koleksi buku. Rak itu menempel di tembok yang disusun oleh kurang lebih lima tingkat, aku tidak memperhatikan benar berapanya.

Kami turun dan mendirikan salat dzuhur. Sudah telat dari lebih tiga puluh menit kamu salat. Tetapi itu masih di kuasa waktu dzuhur daripada tidak salat sama sekali. Selesai salat, aku mencoba rebahan di karpet yang empuk itu. Sayang, kesadaranku menghilang beberapa jenak waktu. Hingga ketika ku buka mata, Mas Ishom sudah murca dari sekitarku.

“Woo, ninggal ninggal!” aku berseru sambil berjalan menuju serambi. Terlihat Mas Ishom sedang sibuk dengan smartphone miliknya.

“Lha angler kok!” jawabnya begitu enteng.

Setelah memakai kembali sepatu, kami pun berjalan keluar komplek kampus. Menuju kendaraan kami masing-masing terparkir rapi. Setelah saling menyapa dan berpamitan. Mesin motor dinyalakan dan meninggalkan jejak di kampus perjuangan. Kami pulang.

Aku kembali menghadapi jalanan yang ramai. Kota ini sekarang mulai padat dan ramai. Kendaraan tumpah ruah di jalanan yang sudah tidak bisa lagi di lebarkan. Setiap pulang, aku hampir tidak memiliki target waktu, yang penting sampai rumah selamat. Sehingga menikmati perjalanan pulang.

Di sebuah perempatan. Lampu merah menyala dengan jelas. Tanda semua kendaraan harus berhenti, termasuk aku. Dengan kondisi siang yang panas tentu hal ini sedikit menyiksa, harus rela berpanas-panasan. Meski bukan saja aku, ada banyak kendaraan yang juga berhenti di samping, ada motor dan ada pula mobil.

Ketika semua kendaraan pada umumnya berhenti, sebuah becak kayuh itu bergerak pelan. Pengayuh tidak duduk di sedel semestinya. Ia menuntun becak tua yang rapuh itu. Menurutku, becak yang sudah tidak layak lagi untuk dibawa mengais rejeki. Becak itu secara pelan menyeberang dengan bandel, tanpa memperhatikan lampu merah.

Bapak tua bertopi merah menuntun perlahan hingga becak itu berada di seberang jalan. Topi merah itu sebenarnya tidak layak juga. Ada beberapa bercak hitam dan kusam. Sepertinya sudah sangat lama dipakai dan tidak dibersihkan dari debu jalanan.

Di bawah topi itu ada wajah yang berkeringat peluh. Di leher bapak itu menggantung handuk yang biasanya untuk mengelap peluh. Keringat atas kayuhan becak. Meski juga sama, handuk itu berkeadaan lusuh, seperti topi.

Aku membayangkan, becak itu memiliki berat yang tidak ringan. Harus ada daya tenaga yang dikeluarkan. Tidak peduli bapak itu tentang suara yang berdecit di salah satu bagian becak. Aku kemudian melihat, ternyata itu dari pedal becak yang rusak.

Aku baru sadar. Ternyata memang bapak tua itu tidak dapat menaiki pelana. Percuma naik, tapi tidak terkayuh. Ia memilih untuk mendorong becak kepunyaannya itu agar tetap melaju di jalanan. Tetap berjalan meski tidak dapat menghasilkan, karena tidak seorang pun penumpang yang menaikinya.

Aku membayangkan di rumahnya pasti ada keluarga yang menunggu. Mungkin juga bapak itu mengeluh, harinya ini begitu berat dilewati. Tanpa menghasilkan sepeser uang yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Mungkin, pikiran itu yang kemudian melintas di sela-sela lamunan menunggu hijau.

Tiba lampu itu berganti hijau, aku kembali melaju di jalanan yang ramai. Lalu lalang kendaraan dengan berbagai kepentingan. Meski panas matahari tepat sedang terik dan silau, kendaraan semuanya tetap bergerak. Tidak peduli silau mentari menjelang sore itu.

Kini, dalam pikiranku terlintas beberapa kata yang akan aku torehkan di sebuah kertas. Tidak peduli dengan coretan yang nantinya akan menghiasi. Hal yang terpenting adalah aku dapat berimajinasi. Jika mampu. Kadang kala harus terantuk tembok besar Tiongkok, tanpa ada imajinasi yang menembusnya.

Aku mempercepat laju motor di antara mobil dan truk. Menari di atas aspal hitam. Diberi celah dan kesempatan, aku gunakan dengan maksimal. Begitu gesit. Aku mempercepat laju motor agar segera sampai rumah. Terlihat jarum spedometer menunjukkan angka 80 km/jam.

Sesampainya di rumah. Aku segera masuk kamar. Aku tidak akan menceritakan kondisi kamar secara detail. Bisa bayangkan saja, kondisi kamar anak lelaki. Secara general ku kira hampir sama. Aku lekas mencari kumpulan kertas yang biasanya aku pakai sebagai coretan. Termasuk beberapa baris sajak yang pernah aku tuliskan. Aku dapatkan benda itu dibalik beberapa tumpukan yang ada di kamar.

Aku membuka kertas itu. Mencari halaman yang masih kosong. Mulai menarikan jemari dengan pena yang memberikan garis-garis huruf di kertas. Sambil pikiranku mencoba kembali menghadirkan pemandangan itu ke saat ini. Mendeskripsikan imajinasi dalam kosakata yang ada.

Beberapa saat kemudian setelah beberapa baris selesai. Aku mulai tidak fokus ke dalam imajinasi. Aku kehilangan kata-kata juga. Entah semua itu menguap kemana, hilang begitu saja. Aku mulai main coret kata yang tidak sesuai. Tidak sesuai dengan hatiku. Dan aku bosan.

Dari sekian baris kata yang aku rangkai, hanya ini yang tersisa. Lainnya sudah dihancurkan coretan penaku, dengan segenap sikap otoriteranku.

Becak tua itu lusuh,

Pedalnya tak dapat dikayuh,

Tak lagi hasilkan butiran peluh,

Tak lagi menggerakkan semangat penuh.

Sebenarnya ada banyak rangkaian setelahnya. Tapi hanya itu yang tersisa. Aku sudah mulai kehilangan kata-kata untuk merangkai. Menyusunnya menjadi sajak yang lengkap.

Aku kemudian merebahkan diri di tempat yang aku anggap sebagai tempat tidur. Bermain smartphone yang berisi banyak media sosial. Buka aplikasi chat satu ke aplikasi lain. Menyimak beberapa teman yang bergelisah dengan mengunggah story mereka. Gelisah karena takut kegiatannya, pemikirannya, atau apalah tidak diketahui oleh teman lainnya. Hingga aku tidak sadar mengatupkan kedua mata dan terbang ke alam bawah sadar.

Aku terbangun sudah cukup sore. Asar sudah lewat beberapa menit lalu. Aku cek kembali notifikasi di smartphone, ada beberapa chat yang harus dibalas. Termasuk salah satu chatku dengan seseorang. Aku cukup lama tidak membalas dengan durasi ketiduran yang cukup untuk bolak balik Kota – Rumah dua kali dengan santai.

Chat ini menurutku cukup berarti. Menghiasi daftar pesan di sebuah aplikasi chat. Di antara nama grup-grup yang notifikasinya lebih dari 100 chat. Foto profilnya menampilkan sebuah balon yang ditalinya digenggam oleh pemilik akun. Nama panggilannya ada dua, Fat dan Wiwin. Nama panjangnya cukup unik, Sin Fatkhah Tanwin.

Aku lebih suka memanggilnya dengan Fat. Ada sisi feminimismenya, terlebih ketika aku memanggilnya menjadi teringat ibu Fatmawati. Setidaknya aku berharap yang berperan sebagai Bung Karno. Aku bisa saja bercerita panjang tentang namanya, tetapi mungkin lain kali. Tetapi, Fat ini bisa menjadi buruk arti ketika menjadi kosakata bahasa Inggris.

Setelah membalas beberapa chat yang perlu dibalas, aku bangun untuk berjalan menuju kamar mandi. Mengambil air wudu dan melaksanakan salat. Aku sudah cukup telat meski waktu masih cukup lama. Menurutku ditunda lagi tidak baik. Memang harus sekarang.

Selesai menunaikan aku melakukan beberapa kegiatan. Aku tidak menceritakannya secara detail. Akan sangat panjang sekali, berlembar-lembar. Sejelas-jelasnnya, aku menyelesaikan kegiatan membantu orang tua kemudian mengaji dan terakhir membuka cafe. Secara garis besar, begitulah aku akan mengakhiri kegiatan keseharian.

Kembali ke chat Fat. Setelah selesai menutup cafe, aku kembali meneruskan chat. Meski sebenarnya ketika di cafe juga tetap berkomunikasi tetapi itu tidak fokus. Aku harus membagi dengan kegiatan cafe lainnya. Kini aku kembali menyelami dunia maya, berlari di antara aplikasi yang terinstal. Termasuk chat Fat.

“Faat, kamu mau nerusin ga?” tanyaku.

“Nerusin apa?” Fat menjawab dengan tanya balik.

“Mau apa ga?” tanyaku lagi, tidak mau kalah.

“Iyaaa nerusin apaan?”

Kemudian aku jelaskan semuanya. Aku kirim draf coretanku. Bahkan aku foto coretan itu. Aku jelaskan gambarannya. Ia paham.

“Kenapa ada keserakahan?” tanya Fat mengkritik draf coretanku yang memang aku coret agar tidak masuk dalam sajak.

“Itu belum selesai Fat, gak nemu kata yang cocok setelah keserakahan.”

“Maksud Fat kenapa ada kata keserakahan? Siapa yang serakah? Serakah sama apa?”

“Keserakahan dunia kek, atau penguasa kek, atau keserakahan ekonomi.”

“Sek aku coba lanjutin tulisanmu tadi ya?!”

“Siaaap Faat!” seruku.

Fat meneruskan sajak yang aku coret-coret terlebih dahulu. Ia berujar bahwa tidak tahu secara jelas dan detail tentang becak dan bapak itu. Sin Fatkhah Tanwin hanya mengetahui data-data itu hanya pada satu narasumber, aku. Sehingga, tambahan yang sedang dikerjakan jelas memiliki kekurangan. Begitu menurutnya.

Selang beberapa jenak, lewat layar itu, ia mengirimkan hasil dari tambahannya.

Becak tua itu lusuh
Pedalnya tak dapat dikayuh
Tak lagi hasilkan butiran peluh
Hanya terus mengundang keluh
Tipis tersirat di dua mata yang sayu
Diberati patahan semangat yang mesti luruh
Oleh derit besi tua yang mengadu
Betapa ia telah sepuh
Becak tua itu lusuh
Mungkin juga ia jenuh
Melewati banyak hari yang keruh

Aku berdecak kagum. Entah bagaimana, coretan puisi tentang bapak tua itu menjadi lebih hidup. Aku selalu mengagumi bagaimana Sin Fatkhah Tanwin merangkai kata. Ada beberapa hasil karya Fat yang aku simpan. Coretanku itu ia ubah dan tambah, ia isi dengan segenap sajak yang cocok.

“Udahan ya, setelah kata terakhir itu, aku memutuskan untuk berhenti.”

Begitu ucapnya melalui percakapan chat. Ia memutuskan untuk sudah melakukan ubahan terhadap puisiku. Alasan kuatnya seperti yang sudah aku ceritakan tadi. Ia tidak terlalu bisa menjabarkan dengan kata-kata tentang bapak tua itu.

“Kamu kurang puas?” tanyanya.

“Udah lebih dari lengkap Fat.”

“Ah kamu bikin aku salting nih.”

“Ya biarin, kan kamu yang salting.”

“Eh, ada satu kalimatmu aku hapus lho, gapapa?”

“Gapapa Fat.”

“Karena sudah tiga baris pertama berakhiran -uh semua. Tadinya sih mau aku campur rimanya, tapi aku ga nemu yang cocok.”

“Iyaa iyaaa, gapapa Fat.”

Aku sangat berterima kasih kepada Fat. Ia telah melengkapi puisi yang semula hanya empat baris menjadi lebih banyak. Ia memang mempunyai perbendaharaan kata yang banyak, aku menganggapnya seperti kamus meski anggapan ini ia tolak. Aku berasumsi karena Fat terlahir di tanah penyair, Melayu, sehingga mempunyai bakat kasat mata itu.

Terakhir, aku bubuhkan nama ku dan Sin Fatkhah Tanwin di baris terakhir beserta tanggalnya. Meski dengan nama pena kami. Puisi itu menjadi karya kami bersama, tanda kami bersama. Mungkin kelak akan menjadi cerita tersendiri, terutama bagiku.

BECAK TUA

Becak tua itu lusuh
Pedalnya tak dapat dikayuh
Tak lagi hasilkan butiran peluh
Hanya terus mengundang keluh
Tipis tersirat di dua mata yang sayu
Diberati patahan semangat yang mesti luruh
Oleh derit besi tua yang mengadu
Betapa ia telah sepuh
Becak tua itu lusuh
Mungkin juga ia jenuh
Melewati banyak hari yang keruh

SP.26.7.2018

*ditulis sesuai kejadian asli plus bumbu micin

** ditulis sejak 31 Juli – 18 Agustus

Advertisements