Senja merapuh di ujung waktu. Sebaris cakrawala itu menjadi merah jingga. Di atasnya, langit tampak indah, gradasi antara jingga ke biru. Lebih indahnya, ada beberapa helai awan yang menggambar garis-garis putih serta bercaknya.

Aku melihatnya mentari tiba-tiba menghilang di balik jendela yang begitu lebar. Ada beberapa kaca besar yang tersusun membatasi ruangan. Aku dapat melihat gugusan pegunungan yang membujur itu dari tempatku duduk. Begitu pula senja yang kunikmati saat ini.

Sudah saatnya aku meninggalkan tanah yang kupijak saat ini. Sudah selesai aku berlibur, menghibur diri sendiri dari penat kerja. Tetapi sayang, aku menikmati senja kali ini dengan perasaan yang menggumpal. Ada rasa aneh yang menyelimuti perasaan kepergianku, ada kerelaan yang begitu berat tetapi aku harus merelakan kepergian.

Sudah tiga hari ini aku melewati masa liburan dari kerja yang membelengguku. Menafsirkan hidup dengan harapan yang dibebankan oleh tumpukan berkas. Mana yang harus dilengkapi, mana yang harus diisi, mana yang harus dilaporkan, mana yang mana, mana yang tiada habisnya. Ku jalani saja dengan setengah terpaksa.

Aku berharap menemukan semangatku kembali atas keputusan liburanku. Mengunjungi tanah yang mempunyai beribu asa dan harapan nyata. Bahkan tidak bisa aku pungkiri, ada bidadari yang menyuburkan tanah ini dengan rindu, menyemainya dengan benih-benih lalu. Aku selalu merindukannya di antara tumpukan kertas kerja.

“Aku ambil liburan, aku akan ke Bandung.” Tulisku melalui pesan chat beberapa hari sebelum keberangkatan ke Bandung.

Cukup lama aku tidak menemukan jawaban yang diharapkan. Aku tetap biasa saja, memaklumi hal yang biasanya, ia terlalu sibuk saat ini. Hingga beberapa saat kemudian, meski cukup lama, ada bunyi yang mnggetarkan kesunyian.

“Wah, ku tunggu Lif di Bandung.” Bunyi jawaban itu yang terbaca dari layar handphone.

Aku girang. Tersipu sendiri sambil menggenggam ponsel. Seolah sudah tidak sabar aku melakukan liburan ini. Ingin segera sampai Stasiun Kiaracondong dan menyusuri jalan di Kota Kembang. Dan, kejadian itu berhasil berlangsung tiga hari yang lalu.

Kini, saat senja menjemput petang. Mentari tidak lagi terlihat di cakrawala, digantikan bintang yang mulai bersinar terang. Aku kembali melalukan perjalanan pulang. Perjalanan menuju segala aktivitas tumpukan berkas yang harus lekas dikerjakan. Meski tidak ada tumpukan kertas untuk dikerjakan, ada satu kertas yang mengganjal di saku dada. Akan ku buka nanti ketika kereta yang membawaku pergi dari Bandung telah berjalan.

Menurutku, tiga hari di Kota Kembang itu kurang. Waktu yang cukup singkat. Terlebih aku melakukannya dengan sendirian. Nanti kuceritakan kenapa aku melakukan perjalanan wisata di Bandung dengan sendirian. Tetapi itu yang terjadi, aku menikmatinya meski ada rasa yang menggantung di hati.

Bandung memiliki julukan Paris van Java sehingga memikat siapapun yang singgah. Begitulah yang memberikan kesan hingga saat ini. Wisata di kota ini pun dipromosikan dengan baik sehingga mengundang daya tarik pelancong untuk meninggalkan jejak kakinya di bekas medan pertempuran Bandung Lautan Api.

Empat hari lalu, senja juga menghilang di balik cakrawala, memberikan salam perpisahan dengan mayapada. Tidak berselang lama dari kepergian, datang sebuah gerbong yang banyak. Menggeliat di rel sangat panjang lebih panjang dari bayangan yang tercipta senja itu. Begitu pula datang maghrib yang berkumandang. Masih ada beberapa jenak untukku bersujud maka kusempatkan untuk bersembahyang terlebih dahulu.

Tidak lama menjelang, aku telah duduk di kursi yang telah aku pesan. Masih sendiri, sebelahku kosong tanpa sosok yang telah memesannya. Begitu pula depanku. Entah, mungkin karena hari ini merupakan hari kerja jadi wajar tidak banyak yang melakukan perjalanan ini. Aku sendiri. Kursi depanku baru terisi ketika telah melewati beberapa stasiun berikutnya.

Tadi, beberapa saat setelah ular melata ini berjalan di atas rel aku nyalakan ponsel dan mencoba menyambungkan nada telepon kepada Sin Fatkhah Tanwin.

“Halo Fat,” sapaku melalui sambungan telepon itu sambil menikmati perjalanan kereta petang itu.

“Kenapa Lif? Udah sampai?”

“Kelihatan ada yang kangen. Aku masih dalam perjalanan.”

“Oh, baru berangkat ya?”

“Iya, beberapa saat lalu masinis menarik tuas klakson tanda keberangkatan.”

“Haha, bahasamu aneh bilang aja ‘iya sudah nih’ kan enak.

“Biar to?” tanyaku sambil mengedarkan tawa.

“Iya-iya, hati-hati di jalan Lif.”

“Siap!”

Telepon itu hilang bunyinya. Tinggal suara langkah kaki benda besi ini di jalannya. Begitu juga suara benda yang dilewatinya. Aku menikmati perjalanan menuju Kota Kembang ini dengan sebuah buku yang aku bawa di ransel.

Sesampainya di Bandung, kali ini berbeda dengan biasanya. Hawanya begitu dingin di kala malam. Untungnya aku memakai jaket yang tidak salah, terlebih aku juga memakai syal di leher. Hangat menjalar ke tubuh. Menyelamatkan rasa hangat sebelum beku. Begitu dingin, tepat kala langit bersih dan gugusan bintang menghiasi.

Aku menyewa homestay di Lembang dengan landscape yang memanjakan mata. Aku menyewanya untuk tiga hari tiga malam. Aku berharap bisa bermain dan menjajah Bandung dengan segenap pesonanya. Aku mengharapkan itu, terlebih ditemani oleh bidadari yang aku maksud di atas.

Mentari datang menyapa segenap makhluk di mayapada. Sinar-sinar itu mulai datang menghajar malam yang kelam. Mengusik ketenangan malam dengan keramaian. Begitu pula ramainya kabut yang menyelimuti dataran rendah di tanah pegunungan ini. Ada jiwa yang merasa melihat negeri di atas awan.

“Pagi Bandung!” sapaku mengawali pagi di teras homestay.

Aku merogoh saku jaket yang masih menghangkatkan tubuh. Ku ambil ponsel pintar itu, ku ketikkan sebuah nama dan memulai percakapan.

“Pagi Fat,” sapaku setelah nada dering itu terputus oleh suara wanita.

“Pagi juga Lif.”

“Mau sarapan bareng ga?”

“Nanti siang aja Lif, makan siang. Pagi ini aku nda bisa.”

“Ah yaudah Fat. Kabari ya ntar siang.”

Sarapanku di homestay dan sendiri. Setidaknya aku melaluinya tanpa harus tergesa-gesa oleh deadline kerjaan. Tumpukan lembaran yang harus ku kerjakan itu tidak ada di sini. Di teras homestay, aku menyeruput teh yang hangat sambil menghela nafas beberapa kali.

Siang menjelang. Fatkhah memberikan kabar tentang rencana makan siang. Tempat yang ia pilih berada di jantung Kota Kembang. Aku pun segera mempersiapkan diri dan meluncur di jalanan yang padat itu. Aku menggunakan jasa ojek online yang sigap mengantarkan kemana saja dengan satu kali klik.

Tempat yang dipergunakan untuk makan siang itu memiliki sentuhan yang unik. Fatkhah begitu memahami seleraku, tempat ini begitu menarik perhatianku. Unik. Di sela mata yang memandang, telinga disuguhkan instrumen klasik tanah Sunda. Indah dan harmoni, begitu kesanku.

“Gimana Lif?” tanya Fat kepadaku.

Aku masih terdiam. “Aku suka Fat,” jawabku dengan penuh rasa kagum.

“Suka tempatnya apa suka aku?” goda Fat yang duduk di bangku depanku itu.

“Kalau boleh, dua-duanya sih,” aku menjawab dengan derai tawa yang mengikuti.

Kami membicarakan pertemuan, keadaan dan cerita macam-macam. Kadang, ada tawa di antara dialog kami. Menertawakan segalanya atau mungkin semesta. Aku paling tidak kuasa melihat senyum yang merekah di antara wajah Kota Kembang. Justru bukan hanya Bandung dilahirkan saat matahari tersenyum, tetapi Bandung selalu melahirkan senyum indah bagi dunia.

“Lif,” panggil Fat. “Maaf banget jika mungkin aku tidak bisa mengantar liburanmu sempurna. Nanti malam ada acara di rumah Intan, ia syukuran ulang tahun beberapa hari lalu. Besok aku juga sudah punya janji dengan Rina untuk ke kondangan senior ormek.”

Seperti seketika, Bandung menghitam oleh mendung dan tiba-tiba petir menyambar lengkap dengan gemuruh gunturnya. Aku tidak punya kuasa apapun untuk melarang Fat beraktifitas. Aku menghargai kejujuran Fat memang. Meski ada rasa kecewa yang menyelimuti sanubari. Aku terdiam tanpa tanggapan apapun.

Fat menungguku berkata. Tetapi aku masih saja terdiam. Rasa kecewa itu mungkin tidak bisa dihindari. Ada perubahan wajahku dengan permohonan izin itu.

“Lif, ngga apa-apa kan kamu?” tanya Fat kembali meminta tanggapan.

Aku masih mengunci sendi suara. Ada gemuruh dan gerutu yang menjadi satu. Aku hela nafas panjang.

“Iya Fat, santai aja.” Jawabku dengan nada yang begitu berat. Terasa sekali beratnya. Entah jika ada timbangan yang siap mengukur beratnya.

Fat mengangkat alisnya. Tetapi ia cukup memahami bagaimana suara beratku ini muncul. Ada rasa lega mungkin baginya. Tetapi sepertinya ia tetap tidak enak kepadaku. Aku sendiri bingung harus bagaimana.

Seketika seperti ada layar bioskop yang terhampar di depan. Ada beberapa tempat impianku di Bandung yang tergambar mulai samar. Tetapi itu seketika hilang bersamaan dengan desahan nafas Fat yang berat. “Maaf ya Lif.”

Aku begitu berat. Tetapi aku juga harus menerima keadaan. Fat memiliki dunianya sekarang. Aku tentu tidak mungkin mencampurinya dengan kehadiran-kehadiran yang tidak perlu. Lagi pula mungkin sudah direncakan sejak awal, sebelum kabarku tersiar. Fat hanya takut untuk mengabari sejak awal.

Aku memberikan kebebasan kepada Fat untuk memilih dan waktuku tidak kusia-siakan dengan mengurung diri. Aku tetap mencari keindahan Bandung, meski hanya seorang diri. Aku lantas kepikiran untuk memastikan esok pagi berada di Tangkuban Perahu. Segera saja ku rencanakan hal itu meski tanpa Fat.

Sesekali, Fat mencuri kabar melalui ponsel. Aku balas bahwa keadaanku baik-baik saja, jangan cemaskan aku. Hari kedua ini, Tangkuban Perahu adalah destinasi yang menjadi pokok perjalanan. Sesore kemarin sudah ku cari segala informasi tentang wisata ini. Pokoknya begitu singkat, aku cukup untuk menyaksikan keindahan legenda Sangkuriang itu.

Di perjalanan pulang, aku sempatkan mencari informasi perkebunan kopi di lereng Tangkuban Perahu. Sekedar melepas gelisah. Begitu ku temukan aku pun sibuk dengan rasa penasaranku. Tidak lupa aku juga harus menikmati seduhan langsung dari olahan petani ini. Setelah semuanya selesai baru aku kembali meneruskan perjalanan ke homestay.

Hampir begitu lama aku terdiam tanpa komunikasi dengan Fat. Aku terlanjur jatuh cinta pada perjalananku sendiri. Menikmati sebagian keindahan Bandung seorang diri. Meski diluar ekspetasi sebelumnya. Tetapi itu lebih baik daripada mengurung diri di homestay.

Malam memang aku menikmatinya di homestay. Di teras rumah itu, aku bisa melihat beberapa bintang yang berusaha bersinar terang dengan berkelip. Aku seduh secangkir kopi yang terbeli di lereng Tangkuban Perahu. Ku nikmati bersama di teras itu. Sayang tiba-tiba tonggeret itu berhenti bernyanyi, diam. Dan langit tetap indah, tidak ikut terdiam.

Ku angkat cangkir kopiku. Ku hirup aromanya lekat-lekat hingga bulu hidung menari riang kegirangan. Ku tarik sruputan di ujung cangkir dengan suara yang menggerisi. Ku kecap dalam-dalam rasa dari kopi itu. Dan aku mengangguk puas.

Tiba-tiba pikiranku kacau. Tanganku gatal mencari ponsel yang tidak ada di saku. Aku berdiri dari kenyamanan kursi. Berjalan ke dalam ruangan mencari ponsel yang sejak kapan berada dimana. Aku mulai mengurutkan drama sandiwara selepas Tangkuban Perahu, mulai masuk rumah hingga mandi. Tidak ketemu. Aku berharap banyak untuk tidak hilang di perjalanan.

Seperti banyak yang mengolokku saat ini. Aku berada di titik salah dan menyalahkan diri sendiri. Aku sudah mulai putus asa hingga diamnya tonggeret tadi menjadi petunjuk yang menggembirakan. Di antara sunyi, aku mendengar getar yang lemah di antara suara yang terdengar. Aku mencari sumber suara itu dengan arah yang tepat.

Ponsel itu terkubur bersama pakaian bekas di tumpukan. Getar itu bahkan hampir tidak terdengar jika tonggeret di luar berisik. Ku raih ponsel itu, Fat telah menelepon berkali-kali. Aku tidak sadar hal itu. Aplikasi chat di ponsel pun penuh notifikasi dari Fatkhah. Ia mengirim foto kondangannya tadi bersama Rina beserta gegap gempitanya.

Aku bodoh. Menggerutui diri sendiri. Aku segera menelepon kembali kontak yang berulang kali mengubungiku itu.

“Fat,” ucapku meski belum terangkat.

“Sudah di homestay Lif?” tanya Sin Fatkhah Tanwin beberapa saat kemudian setelah suara hubung itu hilang.

“Sudah Fat. Maaf ponselku ternyata jatuh, aku tidak sadar kamu berulang kali menghubungi.”

“Ngga apa-apa Lif. Besok berangkat pagi atau sore?

“Sore Fat, kenapa?”

“Gapapa, di Kiaracondong kan?”

“Iya Fat.”

Percakapan terhenti. Sunyi kembali menguasai. Malam benar semakin malam. Dan kesadaranku mulai memudar digantikan alam imaji dan mimpi.

Pagi mulai datang dan membangunkan segalanya, termasuk kokok ayam di pagi masih buta. Belum terlihat seberkas cahaya mentari. Tidak terkecuali, aku. Hari ini adalah hari terakhir di Bandung. Aku memutuskan untuk berjalan di kota saja, ada Gedung Sate, Masjid, Alun-Alun dan lain sebagainya.

Entah aku kali ini langsung menghindarkan dari ponsel. Aku sudah tidak lagi sebal dan kesal tetapi ada daya yang menyebabkan aku tidak memegangnya. Ia tersimpan di tas semestinya. Perjalanan terakhir dimulai dan hanya berlangsung seperti sekejab saja. Tiba-tiba mentari mulai lengser keprabon, tanda aku harus mulai berkemas.

Sore datang, homestay sudah kembali bersih dari barang pribadi. Aku kembali melaju di jalanan kota Bandung menuju Kiaracondong. Ponsel bergetar di tas. Ku angkat.

“Aku di Kiaracondong, kabari jika sudah datang,” ucap Fat kepadaku.

“Haha, iya-iya,” jawabku singkat dan nada itu terputus.

Pekikan suara kereta terdengar, aku sudah sampai di Kiaracondong. Aku lekas mencari Fat di antara banyaknya orang yang berada di stasiun ini. Ku telepon, sayang hingga berkali-kali tidak ada jawaban. Aku terus berjalan, memasuki bangunan stasiun utama. Duduk di ruang tunggu.

“Lif!” terdegar di telinga suara memanggil.

Aku tengok ke belakang. Ada Fat yang berdiri di sana membawa tas kresek yang menggantung di genggaman. Ia kemudian berlari.

“Maaf ya Lif,” ucapnya lirih dengan nada kesal.

“Iya, gapapa Fat, santai saja.” Jawabku menenangkan sambil menengok wajah cantiknya.

“Ini ada titipan dari ibuk,” kata Fat sambil memberikan tas kresek itu. “Oh iya, ini ada juga.” Ia merogoh saku jaket jumpernya. Sebuah sobekan kertas. “Bukanya nanti kalau kereta sudah jalan Lif!” pesan terakhirnya.

Ku pandang sekali lagi wajah itu lekat-lekat. Garis matanya yang sedikit sipit, bibirnya yang merekah ada satu tanda yang tidak bisa hilang di bibir bawah itu. Pesona yang menyihir, mengaburkan dunia dan menjadikannya mimpi buruk yang menghantui setiap malam.

“Jaga diri baik-baik ya Fat, aku pamit, salam buat keluarga.” Aku dengan berat mengucapkannya.

Selintas seperti bioskop yang memutar sebuah film besutan sutradara hebat. Tetapi aku kembali sadar dari bayang-bayang imajinasi yang hadir, ia nyata. Sungguh terjadi dalam waktu tiga hari terakhir. Ini hari terakhir, aku akan melepas pergi ke tumpukan berkas kerjaan. Setelah ketemu Fat tadi, aku bergegas masuk dengan menyerahkan tiket dan tanda pengenal ke petugas peron.

Benda melata itu datang dari arah barat. Sepertinya baru berjumpa dengan mentari, mengucapkan kata perpisahan. Kemudian datang kepadaku untuk juga berpisah dengan bidadari Kota Kembang beserta kotanya. Tanda-tanda sepertinya aku harus mulai bersiap-siap karena ular besi itu mulai meraung-raung.

Ku bergerak memeriksa tiket yang telah tercetak, mencari gerbong dan duduk manis menunggu masinis kembali menarik tuas klakson. Petang mengiringi perjalanan pulang ini. Perpisahan yang begitu berat. Aku memahami pertemuan yang mempunyai efek samping perpisahan. Kereta pun melambaikan pada senja dan Bandung.

Aku teringat kertas yang ku sakukan di dada. Ku ambil kertas itu dan ku buka perlahan. Tertulis begitu indah. Beberapa baris sajak yang terangkai. Ku baca dengan penggalan yang pas tepat ketika beberapa tetes air hujan memberikan bercak di jendela pemandangan malam itu.

Diam itu asalnya suara
Merambat di frekuensi rasa
Tidak lagi telinga
Atau di antara karsa
Berisik yang menjadi nyata

Kursi meja dan serangga seketika buang muka
Dinding dan jendela seolah tertawa
Atau langit-langit rumah begitu mempesona.

Karena diam itu bicara
Diperantarai semesta
Dikonspirasi benda-benda

Lewat segelar sandiwara
Pesan-pesan mengudara
Mengantar tafsir sederhana
Atau segambar makna

Ku rapikan kembali kertas itu dan ku simpan baik-baik. Aku berikan pesan singkat melalui chat, Terima kasih puisinya Fat, aku suka.

Pulang. Kembali ke rutinitas.

 

* ditulis sesuai kejadian asli plus bumbu micin tapi banyak

** cerita ditulis 3 – 4 September

*** puisi tertanda SP.22.8.18

Advertisements