Search

el suyuthi

penjelajah kata tanpa arti

Category

Bejen

“Hadzal Quran” Kami

Musik merupakan salah satu instrumen yang memperkuat posisi spirit. Pernah mengalaminya bukan? Musik akan selalu memberikan efek samping, sangat banyak. Terutama kesan, karena diri berada di posisi yang strategis untuk menerima musik yang sesuai dengan keadaan.

Continue reading ““Hadzal Quran” Kami”

Advertisements

Menyambut Ramadhan

Tidak ada yang tahu, bagaimana kehidupan akan berjalan di depan. Hanya rangkaian di belakang saja yang akan terus terkenang karena sudah benar-benar terjadi. Terjadi pun bahkan tidak atas apa yang dikehendaki, hanya menjadi pion yang bergerak oleh takdir yang ada. Bukan tanpa alasan untuk tidak mengenang, mungkin karena tidak ingin kembali mengenang hal yang tidak ingin dikenang. 

Continue reading “Menyambut Ramadhan”

Keluarga Kini, Esok, dan Seterusnya 

 

Sebuah perjalanan yang begitu melelahkan sebetulnya. Kendaraan roda dua itu harus melaju pada jalan yang beraspal dan bercor. Terkadang harus menghindari lubang menganga agar tidak terseok. Begitu jarak yang jauh, terkadang begitulah geografis memisahkan daerah satu dengan lainnya. Tetapi, geografis tidak akan pernah memisahkan emosional ikatan kekeluargaan.  Continue reading “Keluarga Kini, Esok, dan Seterusnya “

Guru yang Berkesan

Tahun ini pertama kali aku kehilangan Hari Bapak, mengingat Hari Ibu yang diperingati bulan depan. Januari tahun ini, Bapak kehilangan profesinya yang begitu mulia, Guru. Otomatis hal itu menyebabkan tahun ini sudah tidak ada lagi Hari Bapak, hanya Hari Guru seperti biasanya. Seperti Hari Guru yang diperingati di sekolah kala itu, pulang ‘gasik’ karena semua guru menghadiri apel di Lapangan Paseban ataupun Lapangan Trirenggo, tentu mereka bersama Sang Bupati masa itu, Rezim Samawi. Continue reading “Guru yang Berkesan”

Ziaroh Setelah Sholat Ied

Kali ini, kampung kami memiliki ciri khas lagi. Untuk memulainya, maka dijelaskan terlebih dahulu hal dasar terkait kebiasaan ini menjadi tradisi antar generasi. Selanjutnya juga akan dikembangkan sebagai kerangka pelestarian dan sebuah kritik sosial. Continue reading “Ziaroh Setelah Sholat Ied”

Kirab Mustaka Masjid Darussalam Bejen

Dentang jam telah menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit, ketika kemudian terdengar suara kasidah diputar melalui horn masjid. Sabtu Pon, hari dan pasaran tepat suara kasidah itu diperdengarkan ke seluruh antero kampung. Suaranya seperti memanggil setiap manusia-manusia kampungan untuk merapat ke Masjid Darussalam Bejen.

Satu mobil bak terbuka berhias diri rapi di halaman Masjid Darussalam Bejen. Berornamen kubah-kubah masjid yang dibuat dari sterofoam. Bawahnya bertuliskan identitas Masjid Darussalam Bejen. Tepat di tengah tampak meja yang didekorasi menggunakan kain berdominasi kuning. Sebelum suara kasidah itu melalang buana, mobil indah itu sudah pergi meninggalkan kampung. Continue reading “Kirab Mustaka Masjid Darussalam Bejen”

Mustaka Godhong Kluwih, Keluwihan Para Wali

d6ea8a15-8f53-449a-bd55-736651d0d256Menilik kembali pada aset hasil budi dan daya masyarakat di Jawa yang begitu banyaknya, tentu banyak pula nilai-nilai yang hendak dibawa oleh budaya tersebut. Nilai-nilai Islam semenjak kehadiran Wali Songo ke Jawa pun menghiasi karya-karya luar biasa tersebut. Istilah yang kemudian menghubungkan para wali dengan hasil karyanya adalah suatu pola tingkatan maqomat kewalian. Maqomat inilah yang kemudian membawa sesuatu karya dipenuhi oleh nilai filsafat yang tinggi. Continue reading “Mustaka Godhong Kluwih, Keluwihan Para Wali”

Trah Bani Simbah Kyai Muh Abror

image

Siang ini, selepas menghantar Ramanda ke RSUD Panembahan Senopati melenganglah daku melewati jalan tengah kampung. Ketika terbesit hati hanya ingin melihat progres pembangunan Masjid Darussalam Bejen, daku harus terkejut dengan berdiri dengan gagah di tengah-tengah maqbaroh selatan masjid yaitu uwakku. Terkejut lagi dengan adanya kol putih pengangkut kijing alias nisan. Cerita detailnya siang ini cukup di sini. Selebihnya adalah berikut ini. Continue reading “Trah Bani Simbah Kyai Muh Abror”

Balapan di Malam itu

Rembulan masih bertengger melayang di sisi langit sebelah barat. Tidak begitu terang jikalau dilihat dari sebuah tempat yang berpencahayaan cukup. Tapi jika berdiri dan berlari di tempat yang sepi dan gelap, setidaknya cukup untuk menandai beberapa pohon dan garis-garis samar. Seperti bayangan hitam pekat yang dilihatkan oleh tiga pohon kelapa itu.

Udara dan sumilir angin itu seperti biasanya, sepoy dan mendinginkan. Terlihat dengan riang, tiga orang bersepeda di tengah malam. Bersama rembulan yang mesra melayang di sisi barat. Kembali lagi, suara tonggeret pun menjadi hiasan dalam pelipuran kerinduan. Tiga orang, satu mengenakan kopyah putih lengkap dengan baju putih, dua lainnya berkopyah hitam dengan kemeja yang bervariasi. Pegas mereka terus menuntun sepeda itu melaju dengan kecepatan yang sedang di kegelapan malam.

Benar-benar gelap. Tetapi bagi mereka bertiga, kegelapan adalah sebuah tantangan. Sepeda-sepeda mereka terus mendaki malam dan menuruni pagi, seperti gunung yang selalu diselancari oleh pecintanya. ‘Gowes’ mereka adalah nafas kehidupan, perputaran pedal mereka adalah sebuah kepastian. Bermanuver dengan saling berbalap dan membalap satu dengan lainnya. Mereka bertiga begitu menikmati cakrawala barat yang begitu terang dengan keriangan tawa.

Kelokan jalan bukan merupakan kesempatan untuk memperlambat laju sepeda. Mereka bertiga saling susul menyusul dengan sarung-sarung yang menyelancari udara. Kibasan sarung ketika kayuhan itu didorongkan, seperti nostalgia. Mereka terus cekikikan menembus sunyinya malam. Bersama tonggeret yang menyeret suaranya membelah malam. Jalan begitu suka berkelok dan akhirnya, sampailah di sebuah tempat.

Berada di sebelah utara dari jalan yang membentang dari timur ke barat. Di dekat sebuah tikungan, dimana ketika musim penghujan datang, biasanya menggenang. Bangunan berlantai dua di sebelah barat halaman itu. Pun lengkap dengan parkir dan langgar bak auditorium. Sedangkan di sisi timur, berdiri kokoh Ndalem yang juga berlantai dua. Meskipun Lantai dua hanya berfungsi untuk menjemur apapun jua. Tempat itu bernama Hidayatul Falaah.

#WeAreSantri
#HariSantriNasional
#MDHF #PPHF #Bejen

Blog at WordPress.com.

Up ↑