Search

el suyuthi

penjelajah kata tanpa arti

A Game of Thrones 

​(#BukuUntuk2017)

Selesai baca buku ke-1
A Game of Thrones (Perebutan Takhta) – George R R Martin
Fantasious, Jakarta (2015)
910 halaman

Begitu tertarik untuk mengikuti novel ini karena serial yang telah ku tamatkan sebelumnya. Biasanya antara novel dengan film terdapat kesenjangan cerita. Pada novel dan serial Game of Thrones ini pun juga terdapat hal yang menjadi kebiasaan tersebut. Itulah latar belakang ingin menyelami karya George Martin ini.  Continue reading “A Game of Thrones “

Keluarga Kini, Esok, dan Seterusnya 

 

Sebuah perjalanan yang begitu melelahkan sebetulnya. Kendaraan roda dua itu harus melaju pada jalan yang beraspal dan bercor. Terkadang harus menghindari lubang menganga agar tidak terseok. Begitu jarak yang jauh, terkadang begitulah geografis memisahkan daerah satu dengan lainnya. Tetapi, geografis tidak akan pernah memisahkan emosional ikatan kekeluargaan.  Continue reading “Keluarga Kini, Esok, dan Seterusnya “

Maulid-mu* Kini di Bumi Mataram

​Malam memang begitu dingin, selepas hujan yang mengguyur tanah. Pun dengan jalanan yang berkubang, lubang dan kecungan menjadi kolam kecil menampung air bercampur lumpur. Meski demikian, langit mendung itu tetap bertengger dengan kokoh, tidak menjatuhkan barang bawaannya.

Continue reading “Maulid-mu* Kini di Bumi Mataram”

Ngemong Umat

Entah tadi sempat kepikiran tentang isu-isu yang sedang memeriahkan bangsa ini. Sampai sebegitu rancaunya bangsa ini, yang katanya mengusung Bhineka Tunggal Eka. Pernah dengar Devide et Impera? Ya, mungkin dulu founding father bangsa ini melihat kelemahan itu sehingga harus memasangkan Bhineka Tunggal Eka di bawah burung Garuda. 

Continue reading “Ngemong Umat”

Resensi Unik

Dimulai dari apa dan darimana. Kebiasaan meresensi buku yang telah dibaca ini menjadi trending bagi teman-teman sekitar. Ibaratnya ini adalah mutual friend yang akan saling berhubungan satu sama lainnya. Setidaknya ada empat cecunguk yang merutinkan kegiatan ini, termasuk saya. 

Continue reading “Resensi Unik”

Bus sebagai Solusi Lingkungan dan Sosial

Entah bagaimana saya menjadi suka pada foto yang saya ambil belum lama ini. Berawal dari keisengan menunggu lampu merah yang baru saja mengawali detikannya. Lama, begitu keluhan yang bergumam. Tetapi melihat bus terparkir di pinggir jalan itu, menarik hati untuk mengabadikan sesuatu. Begitulah awalnya. 

Continue reading “Bus sebagai Solusi Lingkungan dan Sosial”

Jaddor Thoyyib 

​Kembali lagi, ojek online itu menderu di jalanan yang ramai. Di tanah orang lain, terkadang memang diperlukan sarana transportasi seperti ini. Terlebih dengan posisi zaman yang semuanya seperti serba online. Diuntungkan oleh mereka yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana menunjang kebutuhan hajat manusia kebanyakan, salah satunya mobilisasi kegiatan manusia. 

Continue reading “Jaddor Thoyyib “

Berpikir Analogi

Malam itu (3/12) di tengah perhelatan yang diselenggarakan oleh KMNU UII, saya dipertemukan kembali dengan seorang ustadz yang telah saya kenal. Perkenalan dengan ustadz ini mempunyai momentum yang bagus kala itu. Di tengah penelitian akhirnya di Balai Konvervasi Borobudur itu, saya diajak untuk main ke Candi Borobudur secara gratis. Tentu saja saya tidak tolak ajakan tersebut.

Continue reading “Berpikir Analogi”

Santri Jalanan 

​(#BukuUntuk2016)

Selesai baca buku ke-19
Santri Jalanan – Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Gema Media, Wonosobo (2016)
263 halaman

Kembali lagi, saya dapatkan sebuah buku langsung dari penulisnya. Komunikasi melalui media sosial Facebook, mengantarkan saya untuk juga ikut serta membeli karya perdananya dalam menerbitkan buku. Mungkin inilah salah satu bentuk apresiasi terhadap karya orang lain. Mutualisme yang harus terus dilakukan sebagai bentuk interaksi sosial.

Saya tertarik pada judul buku yang mengangkat Santri Jalanan. Santri yang biasanya berdiam diri dalam kurungan penjara suci yaitu pondok pesantren maka kali ini penulis mengangkat Santri Jalanan. Santri yang berada di jalanan untuk menimba ilmu-ilmu yang diberikan oleh dunia luar dari batas keilmuan pondok pesantren.

Isi bukunya pun tidak begitu berbeda drastis dengan judulnya. Seperti bunga rampai, buku ini berisi dari tulisan-tulisan kecil dari penulis sebagai reportase maupun respon atas segala problematika. Tidak ada tulisan yang mengangkat cerita tentang pesantren secara khusus. Kebanyakan tulisan merupakan perjalanan pribadi penulis, baik segi pengalaman, mengikuti Maiyah, dan berkhidmah di NU. 

Latar belakang penulis sebagai Santri di An Nawawi Purworejo dan Aktivis Muda Nahdlatul Ulama membuat tulisan yang dirangkainya menjadi sarat akan makna. Terlebih dalam bab Pengalaman dan Perjalanan yang menceritakan baik segi pengalaman yang pernah di temui maupun perjalanan yang merupakan musabab dari sebuah pengalaman tersebut dilalui. 

Bahasa yang digunakan untuk menuliskan bunga rampai ini cukup untuk membuat pembaca mengikuti bagaimana cara berpikir dan membangun suatu paradigma. Sebuah buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh santri dan aktivis Nahdlatul Ulama. Begitu juga kepada para penggiat Maiyahan ataupun penggemar Cak Nun, silakan baca.

Lama Baca : 25 November – 7 Desember 2016 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑