Search

el suyuthi

Sendu Senja

Kopi Senja

Senja kali ini begitu hambar
bahkan sekecut Kopi Toraja tadi malam
dengan asam yang juga kuat,
ku harap ada dirimu
di barisan angka notifikasi itu
yang selalu menjadikan senja begitu sempurna
dan kopi menjadi kenangan termanis yang pernah ada.

D.21.2.18

Advertisements

Usai

Aku dan kamu sudah tidak lagi dapat bertemu,
Usaikan sudah alunan kerinduan ini,
Kian memikirkanmu aku justru terjatuh,
Terpukul dan melayang hingga menembus awan.

Sudah, harapan itu mungkin tiada,
Meski kamu tetap ada,
Hanya semuanya harus mengukur jarak,
Dimana langkahku akan berpijak,

D.4.5.18

Mengukir Rindu

Mengukir rindu di atas air,
Menghalangi gemercik syair,
Hanya sebuah rasa yang mengalir,
Kesunyian dan kesepian saling sindir,

Buat apa lagi merangkai kata,
Tidak lagi ada yang dapat menggetuk jendela,
Membukakan rasa yang terpendam begitu lama,
Mengusik kesunyian dan kesepian dalam jiwa.

Pulang saja dalam dekapan alam,
Menangis pun bercuma, karena semuanya adalah dendam,
Berteriaklah pada lampu-lampu mentari agar padam
Mengikis cahaya dari dalam,

Dan semuanya tidak perlu membangun kata
Jika hanya untuk mengemis rasa,
Biarkan saja syair yang bersuara,
Dari jendela ke jendela

Dalifnun, tanpa tanggal

Coba Saja Kau Berlari

Coba saja kau berari dari hilang,
Sesuatu yang membuatmu terbang,
Atau mungkin tenggelam,
Bisa juga dari sebuah kepedihan,

Aku tidak begitu suka dengan hilang,
Kata yang aku benci sampai liang,
Meski aku sadar sejatinya,
hilang adalah puncak edar manusia,

Coba saja kau berlari dari hilang,
Yang membuatmu sedih dan pedih,
Coba saja kau berlari dari hilang,
Yang membuat ada menjadi tiada.

D.27.4.18

Terbuang Percuma

Perihal yang sukar kembali,
Kesempatan yang tidak lagi ada,
Atau bahkan tidak selalu ada,
Semua menjadi sia-sia
Melewatinya begitu saja,
Meski waktu terbentang luas bak samudera,
Terbuang dengan percuma,
Meski benar, ia sejatinya selalu ada,
Tapi, aku melewatinya tanpa rasa,
Hingga sebuah asa kembali ada,
Aku rasa, sudah tidak lagi ku sia-siakan,
Walau mungkin aku bukan pemberani,
Mengungkapkannya kini.

D.27.03.18

Sepotong

Sepotong senja,
Sepotong mega yang mengambang,
Sepotong juga sinar jingga,
Sepotong asa,
Sepotong rindu,
Sepotong cangkir,

Sepotong yang kosong,
Sepotong tidak lagi utuh,

D.20.4.18

Rinai Rindu dan Derainya

Rinai rindu dan derainya
Menjadi godam yang meneror keadaan

Rinai rindu dan derainya
Membasahi hati yang semula kemarau

Rinai rindu dan derainya
Mengungkit kenangan yang sekian lama terpendam

Rinai rindu dan derainya
Melukis wajahmu di atas kanvas angkasa

Rinai rindu dan derainya
Bolehkah aku meniti salam kepadanya

D.18.2.18

Harmoni Hujan

Rintik hujan memang membasahi bumi,
Suaranya menjaga imajinasi,
Yang sebenarnya luar tapi harus beruji,
Terlebih di alam, tetes itu begitu harmoni,
Biar saja basah, karena kering pun pasti.

D.14.10.17
Hujan Sabtu Pagi

Kupu-kupu Riang

Diceritakan kupu-kupu itu
terbang dan menari
di antara bunga-bunga
yang sedang mekar indah.

Kesana kemari dengan begitu riang.
Tidak hanya satu kupu-kupu itu menari,
ada beberapa lain yang turut meramaikan
taman bunga itu.

Bahagia sekali
melihat mereka begitu asik
dengan bunga-bunga mekar itu.

Sesekali mereka hinggap
dan menikmati udara yang begitu segar. Kemudian terbang lagi,
menari lagi,
dan kesana kemari lagi.

Sesekali hinggap dan terbang,
menari, kesana kemari lagi.
Begitu riang.

D.19.2.18

Setumpuk Rindu

Ketika malam dengan bintang yang tidak lagi bersinar terang
Dan keheningan menjadi teman pelepas segala tumpah ruah
Sudah tidakkah ada lagi teman yang memeluk mesra?
Sekedar menemani rindu yang kian kelam,
Tenggelam bersama asa yang telah separuh pergi,
Sedangkan, semua cerita itu kembali terbayang,
Mengambang memenuhi daun imajinasi yang semula telah pergi,
Membukakan pintu-pintu yang semula tertutup rapat,
Lantas, aku memeluk apa?
Setumpuk rindu seperti berlembar-lembar halaman buku,
Dijelajahi dengan mata yang seluas samudera,
Sedangkan, aku?
Hinggaplah rindu dan kamu dalam mimpi-mimpi malam,
Bersama bintang yang tidak lagi bersinar terang,

D.14.12.17

Inap

Malam semakin larut dan memiliki durasi yang begitu lama. Detikan pada jam terus saja bergerak dari angka satu ke angka berikutnya. Tetapi, malam menjelma menjadi masa yang memiliki durasi tidak terbatas. Menyisakan cerita yang layak untuk diceritakan dengan penuh penghayatan tentang hikayat panjang.

Continue reading “Inap”

Terlambat

Kekasih,
Aku merasa menemukanmu,
Setelah perjalanan panjang ini,
Melelahkan, keluhku.

Kekasih,
Aku merasa terlambat,
Setelah tersesat dan hilang,
Terpenjara egoku sendiri.

Kekasih,
Aku merasa jauh,
Keterlambatanku menyebabkan jarak tercipta,
Menyesak sebagai penghambat,

Kekasih,
Aku merasa merindu
Meski banyak juga yang merindukanmu,
Tetapi aku, begitu jauh darimu.

D.13.4.18

Tumpukan Rindu

Tumpukan rindu
Mungkin tidak sekuat tumpukan buku
Buku terdiri dari kertas bersusun
Dan dijilid dengan kokoh

Rindu terdiri dari kegelisahan hati
Yang ditambung secara kontinyu
yang terhempas sedikit saja
Ia akan hilang kendali

D.18.3.18

Bukan Siapa-Siapa

Aku bukan Sarwono yang sedang merayu Pingkan,
Kamu sendiri bukan seorang Pingkan, kekasih Sarwono,
Aku tidak sedang menjadi Dilan, atau berpura-pura menjadi dirinya,
Kamu pun juga bukan Milea, yang luluh karena keanehan Dilan,
Setidaknya aku juga bukan Rangga, yang sibuk menulis puisi untuk Cinta,
Aku bisa saja membuat Dilan dengan Pingkan,
Atau mungkin Sarwono dengan Cinta,
Bisa juga Rangga dengan Milea,
Tapi aku tetap yakin, aku akan ada untukmu

D.9.2.18

Goresan Rindu

Rindu ini memang tidak mempunyai ujung yang jelas.
Aku memikirkanmu dengan perasaan harap-harap cemas.
Ada guratan gelisah di jendela rumahmu, dengan debu tebal bertuliskan namamu.
Hanya namamu yang tergores dengan indah di atas debu yang terkumpul lalu.
Harus bagaimanakah lagi aku sampaikan kegundahan?
Menyebarkan ilalang tanya seluruh perasaan.
Jika rindu memang siksaan.
Kala jemarimu tak lagi memberikan pesan.

D.21.2.18
Bantul

Kue

Aku ingin mendengar kau bercerita,
Tentang kue-kue yang tersaji di atas meja,
Aku yakin itu antara tepung, air dan mentega,
Dan akupun yakin kau mengaduknya dengan rata,

Kau pun bercerita tentang loyang pemanggangan,
Mengukur derajat selsius saat adonan dimasukkan,
Tapi kau tertunduk lesu di meja itu,
Kau bilang mematahkan alat aduk milik ibu,

Tetapi, aku hanya dapat melihat kau bercerita,
Tentang kue-kue yang tersaji di atas meja,
Aku berharap kelak juga akan ada keadaan yang sama,
Saat jarak ribuan kilo ini sudah tidak ada,

D.10.2.18

Roda Rindu

Dalam gelinding roda
Yang melaju pada jalanan ibu kota
Bersama derai hujan
Yang mengguyur perjalanan
Aku merindukan percakapan
Diantara keheningan
Yang aku ciptakan

Seketika
Lembaran pesan itu
Bergulir atas kuasaku
Yang menganulir
Segenap rindu
Yang mencoba mengalir

Aku kembali berkonsentrasi
Kepada roda
Bertanya dalam gelap
Akan dibawa kemana rindu ini?

D.18.01.18
Tlahap, Perjalanan menuju Bogor

Konspirasi Alam Semesta

(#BukuUntuk2018)

Selesai baca buku ke-4
Konspirasi Alam Semesta – Fiersa Besari
Mediakita, Jakarta (2017)
238 halaman
Lama baca : 24-29 Januari 2018

Continue reading “Konspirasi Alam Semesta”

Asancaya

Malam selalu menjadi misteri, tentang segalanya di dunia disembunyikan dalam pekatnya gelap. Cahaya yang berpendar begitu sedikit menjadi hal pendukung yang begitu menguntungkan. Tetapi, malam adalah keindahan, dimana hal yang disembunyikan dari keramaian akan ditemukan dalam kedamaian. Seperti bintang yang kalah dengan polusi cahaya, ia akan begitu berkuasa ketika berada di kedamaian pegunungan atau tepian daratan.

Continue reading “Asancaya”

Negeri Kabut

(#BukuUntuk2018)

Selesai baca buku ke-3
Negeri Kabut – Seno Gumira Ajidarma
Grasindo, Jakarta (2016)
157 halaman
Lama baca : 13-24 Januari 2018

Continue reading “Negeri Kabut”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑