Search

el suyuthi

penjelajah kata tanpa arti

Tag

Sajak

Hantu Kenangan

Benar saja, malam kian menukik,
Mengingat kenangan membuat tercekik,
Kenapa malam selalu muncul hantu,
Begitu seram berwujud rindu,

Hitam pekat, malam digambarkan,
Juli kini begitu dingin, tiap malam,
Meski lampu menyala temaram,
Kenangan muncul dan aku terdiam,

Lebih baik aku berlari, tak berarah,
Semoga hantu tak mencariku penuh amarah,
Semoga sampai fajar merekah,
Bahkan sampai mentari naik sepenggalah,
Agar kenangan tak menghantui langkah,

Dlfn.10717

Hujan di Bulan Juli

Akhirnya ku temukan,
Kehadiran yang tidak diharapkan,
Meski pernah mengisi,
Dalam keadaan sunyi,

Akhirnya kau menampakkan diri,
Setelah mendung berarak meninggi,
Mengisi angkasa mayapada ini,
Hujan turun setelah dinanti,

Kau hadir tak terduga,
Dalam anggapan yang tiada,
Mungkin saja ini hanya mimpi,
Hujan di bulan Juli,

Dlfn.9717

Lembayung Rindu

Datang dan terbang,
Kawanan itu menyapa senja,
Berduyun di angkasa,
Siluet yang mempesona,

Apa kabarmu sayang,
Senja hilang di matamu,
Karena kehadiran yang semu,
Kau tak berada di sisiku,

Rembulan mengambang,
Sinarnya terang memenuhi mayapada,
Menyapa semua insan manusia,
Menyembunyikan rindu di balik asa,

Dlfn.7717

Ini Juli

Ini Juli,
Saat kau berjanji,
Dan aku menanti,
Bahwa kau kembali,

Ini Juli,
Ketika hujan berhenti,
Ketika panas mengganti,
Dan dingin yang menyelimuti,

Ini Juli,
Rindu yang menanti,

Dlfn.5717

Layla: Seribu Malam Tanpamu

(#BukuUntuk2017)

Selesai baca buku ke-6
Layla: Seribu Malam Tanpamu – Candra Malik
Bentang, Yogyakarta (2017)
259 halaman

Kembali lagi saya mengunjungi karya dari Gus Can aka Candra Malik. Sebelumnya saya menyelami Mustika Naga. Novel yang sebetulnya tidak berbeda jauh dengan karya Gus Can sebelumnya. Hanya saja, sayangnya saya tidak membuat resensi tentang Mustika Naga karena bacanya dahulu belum termotivasi buat membuat resensi semacam ini.

Continue reading “Layla: Seribu Malam Tanpamu”

Suluk Bagimu Negeri 

(#BukuUntuk2017)

Selesai baca buku ke-5
Suluk Bagimu Negeri  – Aprinus Salam
Gambar Buku Budaya, Yogyakarta (2017)
79 halaman

Buku kumpulan puisi atau sajak ini saya peroleh langsung dari penulisnya. Benar-benar langsung, ada penulisnya. Hanya saja media mendapatkan buku ini melalui pertanyaan kepada Prof. Nadirsyah Hosen tempo waktu. Buku ini menjadi kenangan dari KH Mustafied (Gus Tafid Mlangi) bagi mereka yang bertanya kepada narasumber di depan. 

Continue reading “Suluk Bagimu Negeri “

Refleksi Diri

Siapakah ia yang berjalan dalam sepi?
Gerangan apakah yang membuat ia begitu tersendiri?
Atau mungkin menyendiri?
Siapa pula peduli?

Aku hanya melihatnya,
Dengan mata kepala,
Bahkan mendengarkan langkahnya di telinga,
Aku dalam penjara,
Dalam ego yang menggelora,
Pertanyaan untukku, akukah manusia?

Dlfn.301116

Suluk Tambangraras

(#BukuUntuk2016)
Selesai baca buku ke-18
Suluk Tambangraras; Runtuhnya Giri Kadhaton – Damar Shasangka
Prameswari, Jakarta (2016)
829 halaman

Saya disuguhkan dengan latar waktu zaman Kasunanan Surakarta berkuasa pada halaman-halaman pertama sebagai pembuka alur cerita yang begitu panjang. Raden Mas Gusti Sugandi atau Pangeran Adipati Anom mengumpulkan tiga abdi dalemnya untuk secara bersama-sama mengantisipasi jika Belanda (Walanda) merampas seluruh khazanah ilmu Jawa dengan menuliskannya pada satu kitab saja dan kini dikenal sebagai Serat Centhini. Continue reading “Suluk Tambangraras”

Langkah Menghilang

Satu per satu langkah itu
Menghilang di arah terbitnya matahari
Pergi menjauh
Dan meninggalkan setapak
Yang tak menentu

Baris-baris pepohonan itu
Melambaikan dedaunan tanda perpisahan
Menjauh dan entah
Kapan kan kembali bersinggah
Kapan kah akan kembali bersua

Sedikit senyumanmu adalah penawar rindu
Hanya terus melangkah menjauh dan menghilang

(Perjalanan dari Bandung, 16 November 2016)

Dlfn.161016

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑