Search

el suyuthi

Sendu Senja

Category

Sajak

Sajak

Hujan Kembali Datang

Hujan kembali datang,
Setelah sebelumnya pergi, menghilang,
Dalam keramaian rintik yang membasahi,
Dalam kedamaian malam yang menyelimuti,

Hujan kembali datang,
Membawa kabar tentang rindu, kangen,
Dan segenap perasaan
Yang tidak dapat ditemukan kata-katanya

Hujan kembali datang,
Ketika rembulan tidak lagi terlihat,
Bersembunyi di balik pekatnya mendung,
Hilang setelah datang,

Hujan kembali datang,
Saat kamu pergi dan malam pun sunyi,
Membisikkan rindu dalam derai,
Atau disela-sela jemari yang menari.

D.27.03.18

Advertisements

Alam

Semuanya tentang alam,
Yang berkehendak tanpa bisa ditantang,
Bersembunyi, ia masih mengambang,
Bersiri di atas tanah yang bimbang,
Karena tanah adalah alam.

D.18.10.17

Perpisahan

Aku mendengar kau pergi,
Menapaki jalanan yang menentu,
Ke sebuah peraduan yang telah didamba sejak pertama bertemu,
Berbagai langkah kau tempuh meski kaki harus melepuh,
Meski bertemu terik tetapi dedaunn selalu berbisik,
Mengabarkan tentang sebuah perjalanan,
Dari seorang sahabat yuang telah pergi meninggalkan.

Kau bersama ransel itu,
Selalu ku rindu,
Kembalilah jika kau mau.

D.20.11.17

Jangan Hilang Kembali

Aku sudah pernah merasakan kehilanganmu,
Kali ini kau hadir dalam pesan-pesan jauh itu,
Aku tidak pernah menentukan kuasa,
Tapi aku hanya selalu berharap,
Aku tidak ingin lagi kehilanganmu,
Cukup waktu dan maut yang menjadi arti hilang,
Maafkan aku yang tidak pernah sabar,
Karena aku begitu takut kau kembali hilang,
Dan tidak pernah kembali.

D.31.3.18

Dingin Selepas Hujan

Dingin selepas hujan,
Di tanah yang bergelombang,
Bukit dan jurang,
Setelah metahari tenggelam,
Dingin kian menjadi,
Kian menari bersama melodi.

Batu
D.25.6.18

Hujan Kembali

Hujan berdecit kembali,
Setelah sekian pagi,
Ia menghilang di balik cakrawala bumi.

Hujan basahi kembali,
Pada pagi yang sunyi,
Di antara suara kereta api.

Hujan turun kembali,
Mengisi kekosongan yang terjadi,
Pagi yang muram tanpa mentari.

D.17.4.18

Pijar

Ada pijaran di ujung cakrawala,
Membias di mata,
Terpapar begitu jauh,
Tetapi menjadi indah,
Ada titik pijar mengambang,
Di bawahnya gelap,
Apalagi atasnya,
Berada di nun jauh di sana.

Batu
D.25.6.18

Banjir Bandang

Sudah malam,
Ketika semua ini meluap,
Menjadi banjir bandang,
Menembus pekat,
Menghancurkan bendungan rindu,
Yang semula tertumpuk,
Tertimbun hingga menggunung,
Sudah tidak lagi tertahan,
Dan banjir datang,
Meluap, menerjang semuanya.

D.21.6.18

Larilah

Larilah,
Aku tahu kamu butuh itu,
Carilah,
Aku tahu kamu perlu itu,
Hingga kamu menemukan,
Pelabuhan terakhir,
Di saat senja berakhir.

Tanpa tanggal

Pecah

Gerabah itu jatuh
Yang semula utuh,
Tak lagi menjadi utuh,

Ranting itu patah,
Yang semula sebongkah,
Bagiannya terbelah

Hati itu pecah,
Berserakan tanpa arah,
Seperti ranting dan gerabah.

D.10.6.18

Namamu

Ku kira hanya cerita,
Atau mungkin dongeng,
Tentang nama yang terngiang,
Nama yang membuat khawatir,
Nama yang membuat berdebar,
Ternyata itu benar,
Aku mengalaminya,
Dan itu adalah namamu.

D.11.6.18

Dawai

Dawai rindu di pagi hari,
Bersuara seperti lagu folk bersama kopi,
Di tengah hujan yang sedang membumi,
Itu terjadi kala pagi hari,

Dawai kangen di ujung samudera,
Menjadikan segala semesta menjadi pelantara,
Mengarungi sejuta kata yang tak bersuara,
Kala semesta menjadi suasana,

Ku petik dawai itu dengan merdu,
Agar pesan yang tertimbun ini menderu,
Memecahkan keheningan dalam sebuah lagu,
Hujan, kopi, folk dan rindu menjadi satu

D.23.2.18

Sekat

Ku buka tirai itu,
Ada kaca yang memberikan sekat,
Antara aku dan dunia di luar sana,
Dan ketika hujan turun,
Aku melihat dalam kaca itu,
Tidak lagi jelas,
Ada embun bercampur tetes air,
Hujan semakin deras,
Butir air semakin menebal,
Embun semakin mengental,
Mengaburkan semuanya,
Termasuk tentangmu,

D.17.4.18

Pagi di Sebuah Negeri

Tentang pagi di sebuah negeri,
Ketika embun masih menanti,
Dan kabut juga masih menyelimuti,
Atas segala sisa hujan yang telah pergi,

Hembusan udara mu begitu segar,
Sebelum disesaki ingar bingar,
Ku hirup aromanya yang panjang,
Berharap udara ini tidak segera hilang,

Perlahan ku kayuh kembali sepeda,
Menyusuri jalanan entah kemana,
Melihat dawai padi yang menari,
Hijau kekuningan karena mentari,

D.20.2.18

Rintik Rindu

Mendung kembali membayang,
Berkumpul dan bergumul siap hujan,
Memang, Januari akan selalu begitu,
Menarikan rintik rindu dikala hujan turun,

Kau bilang kepada seseorang tentang hujan,
Ketika semuanya turun dengan kenangan,
Mungkin itu adalah kisah yang tidak pernah terlupakan,
Kau dapat menikmati hujan dan keduanya bersamaan,

Sayang, aku hanya berharap pada rintik rindu,
Kenangan kita belum pernah bertemu,
Hujan dan kesendirian adalah phobia ku,
Karena harapan itu akan kutitipkan pada rintik rindu,

D.3.2.18

Tuan Cincin

Kau berjalan menuju Rohan,
Ataupun berjalan ke Saruman,
Aku lebih memilih berjalan,
Di antara tepian kisah zaman pertengahan,

Di antara dua menara,
Begitu kisah itu bercerita,
Aku menanti dalam bacaan,
Apakah film itu lebih meyakinkan?
Jelas sekali perbedaan,
Tapi novel selalu lebih kaya untuk mengisahkan,

D.12.7.17

Juara Kedua

Pandangan itu memang tidak pernah berbohong, sekali terlirik dan hati menjadi terkait, sulit rasanya mengalihkan dunia dari gerak-gerik mu. Tetapi jika ada orang lain yang begitu juga kepadamu. Aku harus mengandalkan apa agar kamu memilihku? Biarlah aku jadi Juara Kedua, dia yang pertama.

D.13.2.18
*terinspirasi lagu Fiersa Besari – Juara Kedua

Pergi dan Tak Kembali

Pada akhirnya, manusia akan segera pergi,
Menyusuri kehidupan yang sejati,
Tetapi tidak lagi di dunia fana ini,
Karena kepergiannya ilahi robbi,

Pergi tidak akan mengenal usia,
Tidak akan memilih di antara tua atau muda,
Pergi sejatinya adalah kesiapan kita,
Berbaik amalkah selama di dunia?

Manusia pernah mengalami pergi,
Meski setelahnya masih dapat kembali,
Tetapi tinggallah menunggu masa,
Dimana pergi dapat kapan saja,
Tetapi kembali tidak pernah ada,

D.5.2.17

Banjir Rindu

Rindu itu sulit dijelaskan,
jika ditimbang mungkin benar berat.
Tetapi sedikit suara jarimu di pesan
adalah cara terbaik
untuk menghalau banjir rindu
yang lebih besar.

D.26.2.18

Kopi Senja

Senja kali ini begitu hambar
bahkan sekecut Kopi Toraja tadi malam
dengan asam yang juga kuat,
ku harap ada dirimu
di barisan angka notifikasi itu
yang selalu menjadikan senja begitu sempurna
dan kopi menjadi kenangan termanis yang pernah ada.

D.21.2.18

Blog at WordPress.com.

Up ↑