Search

el suyuthi

penjelajah kata tanpa arti

Category

Sajak

Sajak

Hantu Kenangan

Benar saja, malam kian menukik,
Mengingat kenangan membuat tercekik,
Kenapa malam selalu muncul hantu,
Begitu seram berwujud rindu,

Hitam pekat, malam digambarkan,
Juli kini begitu dingin, tiap malam,
Meski lampu menyala temaram,
Kenangan muncul dan aku terdiam,

Lebih baik aku berlari, tak berarah,
Semoga hantu tak mencariku penuh amarah,
Semoga sampai fajar merekah,
Bahkan sampai mentari naik sepenggalah,
Agar kenangan tak menghantui langkah,

Dlfn.10717

Advertisements

Hujan di Bulan Juli

Akhirnya ku temukan,
Kehadiran yang tidak diharapkan,
Meski pernah mengisi,
Dalam keadaan sunyi,

Akhirnya kau menampakkan diri,
Setelah mendung berarak meninggi,
Mengisi angkasa mayapada ini,
Hujan turun setelah dinanti,

Kau hadir tak terduga,
Dalam anggapan yang tiada,
Mungkin saja ini hanya mimpi,
Hujan di bulan Juli,

Dlfn.9717

Lembayung Rindu

Datang dan terbang,
Kawanan itu menyapa senja,
Berduyun di angkasa,
Siluet yang mempesona,

Apa kabarmu sayang,
Senja hilang di matamu,
Karena kehadiran yang semu,
Kau tak berada di sisiku,

Rembulan mengambang,
Sinarnya terang memenuhi mayapada,
Menyapa semua insan manusia,
Menyembunyikan rindu di balik asa,

Dlfn.7717

Ini Juli

Ini Juli,
Saat kau berjanji,
Dan aku menanti,
Bahwa kau kembali,

Ini Juli,
Ketika hujan berhenti,
Ketika panas mengganti,
Dan dingin yang menyelimuti,

Ini Juli,
Rindu yang menanti,

Dlfn.5717

Refleksi Diri

Siapakah ia yang berjalan dalam sepi?
Gerangan apakah yang membuat ia begitu tersendiri?
Atau mungkin menyendiri?
Siapa pula peduli?

Aku hanya melihatnya,
Dengan mata kepala,
Bahkan mendengarkan langkahnya di telinga,
Aku dalam penjara,
Dalam ego yang menggelora,
Pertanyaan untukku, akukah manusia?

Dlfn.301116

Langkah Menghilang

Satu per satu langkah itu
Menghilang di arah terbitnya matahari
Pergi menjauh
Dan meninggalkan setapak
Yang tak menentu

Baris-baris pepohonan itu
Melambaikan dedaunan tanda perpisahan
Menjauh dan entah
Kapan kan kembali bersinggah
Kapan kah akan kembali bersua

Sedikit senyumanmu adalah penawar rindu
Hanya terus melangkah menjauh dan menghilang

(Perjalanan dari Bandung, 16 November 2016)

Dlfn.161016

Rindu, Kapan Kau Jatuh?

Dinginnya udara, membekukan segala rindu yang ada.
Hujan, kepada siapa kau membela.
Sedang daku, terisak-isak dalam dahaga.
Mengeraskan hati yang retak karenanya.

Jauh, memang harus jauh,
terbuang jauh dan harus menjauh.
Maka rindu, kapankah kau jatuh?

Bandung dalam Senyummu

Bandung,
Seribu pijaran krelip lampu itu
Terhampar dalam lembah-lembah.

Hujan dan derasnya suara aliran sungai
Seperti simponi musik.
Kerinduan yang terselip
Dalam lorong-lorong
Jalan kecil yang naik turun.

Manisnya senyum rembulan hilang
Dalam pelukan mendung yang mengambang
Entah,
Senyum mungil dari wajahmu itu,
Semoga tidak hilang
Dalam hujan yang membasahi tanah rencong
Berharap krelip senyummu
Adalah pijaran lampu yang paling terang
Di lembah itu.

(Bandung, 15 Oktober 2016)

Dlfn.151016

Jogja, Malammu Kini

Kerlap kerlipnya lampu kota yang indah. Terlihat menyala malam yang gelap gulita. Ku susuri jalanan yang ramai itu, begitulah kota. Malam dingin tapi tidak membekukan kegiatan yang menjadi kebiasaan. Temaram lampu itu, menerangi sebagian glamornya perkotaan. Hotel-hotel menjulang tinggi itu menjadi mercusuar baru di tengah daratan. Jogja, rindukah engkau dengan bersahajanya alam, harmonisnya paugeran dan candu cintanya pelancong itu? Selamat malam kawan.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑