Search

el suyuthi

Sendu Senja

Namamu

Ku kira hanya cerita,
Atau mungkin dongeng,
Tentang nama yang terngiang,
Nama yang membuat khawatir,
Nama yang membuat berdebar,
Ternyata itu benar,
Aku mengalaminya,
Dan itu adalah namamu.

D.11.6.18

Advertisements

Dawai

Dawai rindu di pagi hari,
Bersuara seperti lagu folk bersama kopi,
Di tengah hujan yang sedang membumi,
Itu terjadi kala pagi hari,

Dawai kangen di ujung samudera,
Menjadikan segala semesta menjadi pelantara,
Mengarungi sejuta kata yang tak bersuara,
Kala semesta menjadi suasana,

Ku petik dawai itu dengan merdu,
Agar pesan yang tertimbun ini menderu,
Memecahkan keheningan dalam sebuah lagu,
Hujan, kopi, folk dan rindu menjadi satu

D.23.2.18

Sekat

Ku buka tirai itu,
Ada kaca yang memberikan sekat,
Antara aku dan dunia di luar sana,
Dan ketika hujan turun,
Aku melihat dalam kaca itu,
Tidak lagi jelas,
Ada embun bercampur tetes air,
Hujan semakin deras,
Butir air semakin menebal,
Embun semakin mengental,
Mengaburkan semuanya,
Termasuk tentangmu,

D.17.4.18

Pagi di Sebuah Negeri

Tentang pagi di sebuah negeri,
Ketika embun masih menanti,
Dan kabut juga masih menyelimuti,
Atas segala sisa hujan yang telah pergi,

Hembusan udara mu begitu segar,
Sebelum disesaki ingar bingar,
Ku hirup aromanya yang panjang,
Berharap udara ini tidak segera hilang,

Perlahan ku kayuh kembali sepeda,
Menyusuri jalanan entah kemana,
Melihat dawai padi yang menari,
Hijau kekuningan karena mentari,

D.20.2.18

Rintik Rindu

Mendung kembali membayang,
Berkumpul dan bergumul siap hujan,
Memang, Januari akan selalu begitu,
Menarikan rintik rindu dikala hujan turun,

Kau bilang kepada seseorang tentang hujan,
Ketika semuanya turun dengan kenangan,
Mungkin itu adalah kisah yang tidak pernah terlupakan,
Kau dapat menikmati hujan dan keduanya bersamaan,

Sayang, aku hanya berharap pada rintik rindu,
Kenangan kita belum pernah bertemu,
Hujan dan kesendirian adalah phobia ku,
Karena harapan itu akan kutitipkan pada rintik rindu,

D.3.2.18

Tuan Cincin

Kau berjalan menuju Rohan,
Ataupun berjalan ke Saruman,
Aku lebih memilih berjalan,
Di antara tepian kisah zaman pertengahan,

Di antara dua menara,
Begitu kisah itu bercerita,
Aku menanti dalam bacaan,
Apakah film itu lebih meyakinkan?
Jelas sekali perbedaan,
Tapi novel selalu lebih kaya untuk mengisahkan,

D.12.7.17

Juara Kedua

Pandangan itu memang tidak pernah berbohong, sekali terlirik dan hati menjadi terkait, sulit rasanya mengalihkan dunia dari gerak-gerik mu. Tetapi jika ada orang lain yang begitu juga kepadamu. Aku harus mengandalkan apa agar kamu memilihku? Biarlah aku jadi Juara Kedua, dia yang pertama.

D.13.2.18
*terinspirasi lagu Fiersa Besari – Juara Kedua

Pergi dan Tak Kembali

Pada akhirnya, manusia akan segera pergi,
Menyusuri kehidupan yang sejati,
Tetapi tidak lagi di dunia fana ini,
Karena kepergiannya ilahi robbi,

Pergi tidak akan mengenal usia,
Tidak akan memilih di antara tua atau muda,
Pergi sejatinya adalah kesiapan kita,
Berbaik amalkah selama di dunia?

Manusia pernah mengalami pergi,
Meski setelahnya masih dapat kembali,
Tetapi tinggallah menunggu masa,
Dimana pergi dapat kapan saja,
Tetapi kembali tidak pernah ada,

D.5.2.17

Banjir Rindu

Rindu itu sulit dijelaskan,
jika ditimbang mungkin benar berat.
Tetapi sedikit suara jarimu di pesan
adalah cara terbaik
untuk menghalau banjir rindu
yang lebih besar.

D.26.2.18

Kopi Senja

Senja kali ini begitu hambar
bahkan sekecut Kopi Toraja tadi malam
dengan asam yang juga kuat,
ku harap ada dirimu
di barisan angka notifikasi itu
yang selalu menjadikan senja begitu sempurna
dan kopi menjadi kenangan termanis yang pernah ada.

D.21.2.18

Usai

Aku dan kamu sudah tidak lagi dapat bertemu,
Usaikan sudah alunan kerinduan ini,
Kian memikirkanmu aku justru terjatuh,
Terpukul dan melayang hingga menembus awan.

Sudah, harapan itu mungkin tiada,
Meski kamu tetap ada,
Hanya semuanya harus mengukur jarak,
Dimana langkahku akan berpijak,

D.4.5.18

Mengukir Rindu

Mengukir rindu di atas air,
Menghalangi gemercik syair,
Hanya sebuah rasa yang mengalir,
Kesunyian dan kesepian saling sindir,

Buat apa lagi merangkai kata,
Tidak lagi ada yang dapat menggetuk jendela,
Membukakan rasa yang terpendam begitu lama,
Mengusik kesunyian dan kesepian dalam jiwa.

Pulang saja dalam dekapan alam,
Menangis pun bercuma, karena semuanya adalah dendam,
Berteriaklah pada lampu-lampu mentari agar padam
Mengikis cahaya dari dalam,

Dan semuanya tidak perlu membangun kata
Jika hanya untuk mengemis rasa,
Biarkan saja syair yang bersuara,
Dari jendela ke jendela

Dalifnun, tanpa tanggal

Coba Saja Kau Berlari

Coba saja kau berari dari hilang,
Sesuatu yang membuatmu terbang,
Atau mungkin tenggelam,
Bisa juga dari sebuah kepedihan,

Aku tidak begitu suka dengan hilang,
Kata yang aku benci sampai liang,
Meski aku sadar sejatinya,
hilang adalah puncak edar manusia,

Coba saja kau berlari dari hilang,
Yang membuatmu sedih dan pedih,
Coba saja kau berlari dari hilang,
Yang membuat ada menjadi tiada.

D.27.4.18

Terbuang Percuma

Perihal yang sukar kembali,
Kesempatan yang tidak lagi ada,
Atau bahkan tidak selalu ada,
Semua menjadi sia-sia
Melewatinya begitu saja,
Meski waktu terbentang luas bak samudera,
Terbuang dengan percuma,
Meski benar, ia sejatinya selalu ada,
Tapi, aku melewatinya tanpa rasa,
Hingga sebuah asa kembali ada,
Aku rasa, sudah tidak lagi ku sia-siakan,
Walau mungkin aku bukan pemberani,
Mengungkapkannya kini.

D.27.03.18

Sepotong

Sepotong senja,
Sepotong mega yang mengambang,
Sepotong juga sinar jingga,
Sepotong asa,
Sepotong rindu,
Sepotong cangkir,

Sepotong yang kosong,
Sepotong tidak lagi utuh,

D.20.4.18

Rinai Rindu dan Derainya

Rinai rindu dan derainya
Menjadi godam yang meneror keadaan

Rinai rindu dan derainya
Membasahi hati yang semula kemarau

Rinai rindu dan derainya
Mengungkit kenangan yang sekian lama terpendam

Rinai rindu dan derainya
Melukis wajahmu di atas kanvas angkasa

Rinai rindu dan derainya
Bolehkah aku meniti salam kepadanya

D.18.2.18

Harmoni Hujan

Rintik hujan memang membasahi bumi,
Suaranya menjaga imajinasi,
Yang sebenarnya luar tapi harus beruji,
Terlebih di alam, tetes itu begitu harmoni,
Biar saja basah, karena kering pun pasti.

D.14.10.17
Hujan Sabtu Pagi

Kupu-kupu Riang

Diceritakan kupu-kupu itu
terbang dan menari
di antara bunga-bunga
yang sedang mekar indah.

Kesana kemari dengan begitu riang.
Tidak hanya satu kupu-kupu itu menari,
ada beberapa lain yang turut meramaikan
taman bunga itu.

Bahagia sekali
melihat mereka begitu asik
dengan bunga-bunga mekar itu.

Sesekali mereka hinggap
dan menikmati udara yang begitu segar. Kemudian terbang lagi,
menari lagi,
dan kesana kemari lagi.

Sesekali hinggap dan terbang,
menari, kesana kemari lagi.
Begitu riang.

D.19.2.18

Setumpuk Rindu

Ketika malam dengan bintang yang tidak lagi bersinar terang
Dan keheningan menjadi teman pelepas segala tumpah ruah
Sudah tidakkah ada lagi teman yang memeluk mesra?
Sekedar menemani rindu yang kian kelam,
Tenggelam bersama asa yang telah separuh pergi,
Sedangkan, semua cerita itu kembali terbayang,
Mengambang memenuhi daun imajinasi yang semula telah pergi,
Membukakan pintu-pintu yang semula tertutup rapat,
Lantas, aku memeluk apa?
Setumpuk rindu seperti berlembar-lembar halaman buku,
Dijelajahi dengan mata yang seluas samudera,
Sedangkan, aku?
Hinggaplah rindu dan kamu dalam mimpi-mimpi malam,
Bersama bintang yang tidak lagi bersinar terang,

D.14.12.17

Inap

Malam semakin larut dan memiliki durasi yang begitu lama. Detikan pada jam terus saja bergerak dari angka satu ke angka berikutnya. Tetapi, malam menjelma menjadi masa yang memiliki durasi tidak terbatas. Menyisakan cerita yang layak untuk diceritakan dengan penuh penghayatan tentang hikayat panjang.

Continue reading “Inap”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑